Pada setiap kesempatan perjalanan sunyi menyendiri saya kerap berefleksi. Itu mengapa saya menyukai danau ini. Secara teknis di kebeningan danau ini saya bisa terus terang berkaca pada air danau yang tenang. Daya tarik lainnya, tempat ini jauh dari hiruk pikuk jalan raya dan jarang orang tertarik berkunjung kesini.
Keheningan itu memberi
saya kesempatan untuk sejenak menjadi bagian kecil dari alam. Kembali menyadarkan bahwa saya begitu mungil nyaris tanpa arti dalam hening, kuat dan perkasanya semesta.
Meskipun ketika berkunjung ke tempat yang rimbun ini biasanya saya selalu membawa peralatan kamera. Namun tidak selalu kamera itu saya gunakan. Terlalu banyak keindahan yang ditawarkan alam ini tanpa mampu dengan indah juga saya tampilkan dalam sebingkai karya foto.
Saya merasa tidak adil bila memotretnya dengan hasil tidak masksimal. Sehingga kerap kali saya menahan diri untuk tidak selalu menghamburkan shutter count kala situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Saya mengagumi dan monghormati tempat ini.
Pemandangan danau luas dengan pepohonan rimbun di tepinya menjanjikan keteduhan. Selalu ada pohon yang dengan sesuka hati kita pilih sebagai tempat berlindung dari teriknya matahari. Beberapa foto makro serangga berkualitas bagus saya dapatkan di tempat ini.
Memang lokasinya tidak memberi peluang kita mengambil momen matahari terbit. Sebagai gantinya, tempat ini menjanjikan kita untuk berkesempatan mendapatkan moment matahari tenggelam yang menakjubkan. Sebab sudut lokasinya memungkinkan hal itu. Rotasi alam yang membuat titik-titik dimana matahari tenggelam selalu bergeser jadi bukan masalah. Silahkan saja sang mata dewa membenamkan diri. Selama itu di ufuk barat, maka dari tempat ini kita berkenan menyaksikannya dan dijamin dapat sudut terbaik untuk merekamnya.
Foto berkomposisi danau dengan framing pepohonan serta menempatkan matahari tenggelam sebagai titik pusat perhatian adalah impian. Biasanya gradasi warna indah mencapai puncaknya sesaat setelah sang mata dewa tuntas tenggelam. Butuh kesabaran serta kemauan untuk setia mengunjungi tempat ini. Terkadang saya hanya duduk di tepian danau. Melihat sekelompok angsa berenang-renang cari makan di tepian seberang. Terlalu jauh untuk bisa dengar ribut suara ulah mereka. Pada saat itu saya mendengar suara keributan. Dengan penasaran saya mencari asal suara yang nyata dari sekitar. Ini suara perdebatan sengit yang tidak berupa konflik fisik.
Gaduh sengit suara debat itu ternyata berasal dari dalam tas kamera. Betul! Tempat kejadian perkara suara bising itu adalah dari dalam tas kamera yang saya letakan tepat di bawah pohon asem yang rindang. Seksama saya hening menyimak perdebatan yang sengit soal adu argumentsi siapa paling penting. Lensa kamera menyatakan dirinya adalah yang paling penting dari segalanya. Katanya tanpa dirinya mustahil kita memotret dengan prima. Diafragma teriak bela diri dan berasumsi sesungguhnya dia yang paling berarti. Betapa tanpanya adalah omong kosong menghasilkan gambar yang enak dinikmati. Katanya dia lah yang punya kemampuan mengatur ruang ketajaman dan cukup tidaknya cahaya demi terciptanya karya bercita rasa.
Filter juga protes. Katanya dia juga penting. Tanpanya bagaimana mungkin kita mengatasi kontras cahaya tanpa kehadirannya. Dia merasa mampu menutup area terang atau memberi warna tertentu supaya hasil gambar sempurna. Flash tidak mau kalah. Sebagai penghasil cahaya buatan keberadaannya tidak mau diabaikan begitu saja. Katanya tanpa dirinya area bayangan akan legam dan merusak cita rasa sebuah karya jika tidak diisi oleh cahaya yang dihasilkannya. Batre sebagai penentu berjalannya semua fungsi-fungsi kamera tertawa melecehkan semua. Katanya dialah yang paling utama. Betapa semua harusnya sadar. Bahwa tanpa hadirnya percuma bawa kamera. Tidak akan ada karya foto tercipta tanpa energi yang tersimpan pada tubuhnya.
Sementara kartu memori yang sedari tadi diam-diam bersemayam dalam bodi kamera, ikutan unjuk gigi. Berontak dan beri penyataan bahwa dirinya yang paling berharga. Kalau belum juga paham arti penting kartu memori silahkan pergi tanpa kehadirannya. Niscaya semua upaya akan sia-sia. Sementara strap tali kamera, tas kamera, lap lensa, tripot, tutup lensa, lens hood dan lain sebagainya heboh interupsi teriak-teriak. Semua mengajukan dan buat pernyataan bahwa dirinya yang paling berharga dan utama. Demikianlah perdebatan sengit adu penting dalam satu sistem yang seharusnya bekerjasama.
Kita kerap lupa. Bahwa dalam satu team kerja tiada mungkin hanya ada satu individu yang paling hebat dan berjasa. Meskipun utamanya dalam team work adalah kemampuan individual. Namun kesadaran masing-masing individu untuk selalu konsisten berusaha dan belajar memampukan dirinya adalah wujud nyata semangat menghargai team work. Ketika hanya satu orang yang paling pintar dan sibuk sendirian, sudah pasti team kerja itu mengarah pada kehancuran. Teringat satu pepatah Jepang soal team kerja. Tiada satu orang pun yang lebih pintar dari kita semua.
Di media masa saat ini sedang ramai berita hangat riuh hingar bingar soalan penggeledahan yang dilakukan garda terdepan pemberantasan korupsi. Ini bukan sembarang penggeledahan. Sebab yang digeledah adalah markas dari abdi negara juga yang disangka melakukan tindak pidana korupsi. Alhasil, dua institusi abdi negara bersinggungan saling memperebutkan satu perkara yang menjadi musuh utama bangsa.
Para punggawa tepuk dada merasa di posisi paling benar. Sebab berpegang dengan undang-undang banyak tafsir pakar yang bikin bimbang lantaran diselipkan kepentingan. Sambil keringetan tanda tertekan sekaligus tangan gemetar sebagai pernyataan bahasa tubuh yang marah. Kita mengkuatirkan mereka terlalu maju dan bersemangat untuk membela sesuatu yang tidak benar.
Semoga tidak lupa, bahwa reputasi sangat dipertaruhkan ketika kita membela sesuatu yang salah. Sementara seluruh masyarakat menyaksikan drama yang akan jadi sejarah ini dengan seksama. Sambil menduga-duga apakah ini nyata. Ataukah ini sekedar sandiwara cicak buaya. Sebagai hiburan pelepas dahaga massa dari semangat strategi bertata negara dalam mengalihkan perhatian pemirsa dari suatu isu penting lain seperti biasanya. Sepertinya bukan! Penggeledahan ini sangat berani dan sangat mengesankan bagi generasi bangsa.
Tempat kejadian perkara yang digeledah adalah
markasnya abdi negara yang juga bersenjata dan punya kewenangan sama. Merupakan bukti bahwa lembaga yang melakukannya sangat hati-hati dan punya alasan yang sangat kuat melakukan hal ini. Punya kesadaran untuk siap dikoreksi namun menyayangkan sambil tidak menghiraukan tindakan dan sikap intervensi.
Adu argumentasi akhirnya bisa dikonsumsi masyarakat luas di televisi. Ada yang tampil dengan nada suara tenang dipaksakan lengkap dengan bahasa tubuh galau yang nyata dan ketahuan. Masyarakat masa kini semakin terbuka dan pintar. Mereka memahami bahasa tubuh selain lisan atau kata-kata. Semua semakin pintar untuk dengan cepat menilai mana baik dan mana yang buruk. Tidak seperti dulu kala mudah sekali terombang-ambing oleh hasutan. Gampang dikelabui dengan iming-iming janji manis.
Kita semakin paham bahwa ketika ada sosok yang teriak memberi pernyataan bahwa dirinya menghormati si ini, menjunjung tinggi aturan itu, menghargai itu dan ini atau pernyataan akan segera lunasi kewajiban. Maka biasanya sikap dan perilakunya justru kebalikannya.
Kita cukup mengerti bahwa merubah dan memecah pola kebiasaan buruk itu sulit dan menyakitkan. Pengetahuan itu belum juga cukup mengobati. Sebab masyarakat kita akhirnya selalu syok kejang-kejang. Sadar tapi bingung tidak tahu kemana harus mencari obatnya. Ketika sayup-sayup mendengar suara yang dulunya tegas dari yang didukung lantaran kampanye mencitrakan dan diimpikan begitu. Kini jadi alay nan lebai sambil menjurai bahkan berkata sama seperti saya, “hanya bisa prihatin.”
Bayu Sahaja






Comments
WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!
Mungkin majemuknya "klo saya berusaha bersih, rapi, sehat, rajin, maka saya menghargai bos, teman sekerja, perusahaan, dimana saya kerja. Kalo saya berusaha menghargai kehidupan, lingkungan, saya menghargai Pencintanya.
Bravo sobat! terus berkarya.
Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begini nih yang saya langsung jadi menerawang. Teringat kala hanyut oleh buaiyan khas suara Om Andreas. Kapan lagi Om?
Wkwkwkwkwk... Menarik juga tantangan KataFoto dibuat buku. Trims kunjungannya Ferry.
Lagunya om Bob Tutupoli katakan, lain dibibir lain dihati..memang lidah tak bertulang...terus berkarya om Bayu
Terimakasih dukungan & kunjungannya Grats.
RSS feed for comments to this post