Semua orang tahu kalau taksi itu punya kaitan cukup erat dengan yang namanya dunia pariwisata.
Di banyak kota dunia, taksi menjadi salah satu komoditi utama yang digunakan untuk menjamin terkesannya para pelancong di kota tersebut.
Itu mengapa saya merasa mendapat pengalaman serta pembelajaran mahal ketika berkesempatan bincang dengan tokoh yang punya latar belakang erat dengan dua hal tersebut. Ini bukan semacam diskusi serius.
Pembicaraan ini berjalan damai. Tanpa semangat saling menjatuhkan yang biasanya menggunakan adu kuat pita suara demi dominasi kesempatan bicara. Makin lengkap ketika seorang teman yang berprofesi sebagai dosen kompeten ikutan gabung.
Topik di sore yang cerah itu bermula dari ulasan kalimat berita utama sebuah Koran lokal. Bahwa ijin Blue Bird di kota Batam akhirnya dicabut. Seperti kita ketahui, Blue Bird berencana melebarkan sayap usaha di Pulau Batam. Upaya tersebut ditempuh dengan telah menyiapkan sarana dan prasarana. Kita kenal Blue Bird mengelola usaha taksi dan membangun usaha ini dengan cita rasa yang sangat berkarakter.
Bukan perkara mudah membangun image seperti itu di tengah persaingan usaha manisnya bisnis taksi. Bahkan perusahaan taksi ini tercatat di rekor MURI pada tahun 2006 sebagai perusahaan taksi yang berhasil dalam jumlah paling banyak mengembalikan barang-barang penumpang yang tertinggal.
Rekor MURI juga memberi catatan pada Blue Bird sebagai perusahaan taksi pertama yang menggunakan layanan pemesanan via Blackberry Messenger. Tentu saja pencapaian itu butuh kesadaran, disiplin serta semangat pelayanan dari segenap orang yang terlibat dalam bisnis tersebut. Bukan hal yang mudah. Namun keberhasilan Blue Bird dalam membangun citranya sangat menginspirasi kita semua. Bagaimana sebuah perusahaan memberi janji iklan lalu diwujudkan pada kenyataan yang sahih.
Berawal hanya dari 25 unit taksi, Blue Bird Group bertumbuh dalam pasang surut dan pengembangan bisnis yang kini menaungi lebih dari 22.000 unit armada dari berbagai jenis dengan lebih dari 33.000 pekerja. Sedih! Segala prestasi serta jaminan pelayanan aman nyaman itu urung bisa dinikmati oleh masyarakat Batam. Alih-alih mendukung perubahan kearah lebih baik. Ribuan pengemudi taksi yang ada di Batam menggelar demo dan tuntutan. Wujud ketakutan dilibas dari kancah persaingan usaha dikedepankan. Para supir taksi lokal merasa sudah kalah dengan Blue Bird sebelum pertandingan dimulai.
Akhirnya dengan alasan keamanan pemerintah kota Batam mencabut ijin operasi Blue Bird yang belum juga berjalan. Teman yang dosen beranggapan bahwa persaingan usaha adalah hal mutlak yang menjamin terbelanya kepentingan masyarakat banyak. Jika sebuah usaha diproteksi dengan semangat membungkus kebiasaan buruk dan memonopoli semua itu. Maka tiada akan ada perbaikan mutu dari kualitas pelayanan katanya. Umumnya upaya menjadi lebih baik terjadi lantaran adanya dorongan dari semangat berkompetisi sehat sebagai wujud hakikinya persaingan dunia usaha. Persaingan dan kompetisi dalam memenuhi apa yang dibutuhkan oleh konsumen justru akan menjamin kebutuhan konsumen terpenuhi.
Bukankah adalah hak pengguna jasa taksi untuk memilih pelayanan taksi mana yang lebih baik. Teman saya yang kental berkecimpung dalam dunia pertaksian serta pariwisata Batam, justru berpendapat sebaliknya. Beliau tidak mendukung kehadiran Blue Bird yang perkasa. Katanya, supir taksi beserta keluarganya mau makan apa jika taksi yang jumlahnya sudah sesak itu masih harus terus ditambah. Saya sendiri tidak komentar. Hanya bisa prihatin. Prihatin lantaran diri tidak paham pembicaraan. Jadi tidak tahu harus komentar apa.
Tidak seperti di wilayah lain. Di Pulau Batam keberadaan taksi juga menjadi alternatif moda transportasi massal. Sarana ini yang sepertinya luput dari perhatian pemerintah kota Batam. Seperti juga di banyak kota di Indonesia lainnya. Kita selalu kedodoran dalam menjawab kebutuhan angkutan massal yang efektif dan efisien. Sehingga di Batam sudah menjadi pola kebiasaan yang mengakar kuat dan membudaya.
Jasa taksi diperlakukan sebagai layaknya angkutan umum. Beberapa penumpang yang bertujuan sama akan diangkut bersamaan selama tujuan semua penumpang itu bertujuan ke arah yang dilintasi tujuan taksi tersebut. Tentunya sebatas kapasitas yang ada. Himpit-himpit sedikit adalah anugerah jika tepat duduk di sebelahnya sesuai dengan kriteria.
Keunikan ini telah mengakar di masyarakat. Sehingga tidak heran ketika ada penumpang memberhentikan taksi dan dia merupakan calon tunggal penumpang taksi tersebut. Maka pertanyaannya dari si pengemudi taksi adalah, langsung atau tidak langsung. Jika kita menjawab langsung. Maka akan berlanjut kepada sesi negosiasi harga. Harga di tetapkan bukan dengan argo meter tapi berdasar kesepakatan.
Dalam hal ini selain jarak tempuh ke tujuan, harga juga dipengaruhi oleh ada tidaknya pendingin udara pada taksi tersebut. Jika calon penumpang mengatakan tidak langsung. Maka pengemudi akan terus berusaha mencari calon penumpang lain selama perjalanan menuju tujuan yang ditetapkan. Banyak orang menduga tata cara ngejar setoran dengan mencari penumpang turut berperan dalam kemacetan dan kecelakaan lalu lintas.
Asumsinya adalah para pengemudi taksi tanpa menepi langsung berhenti ketika melihat ada orang berdiri di tepi jalan yang dikiranya calon sewa. Tindakan ini makin semberono ketika melibatkan beberapa unit taksi berkejaran demi penumpang. Berhenti mendadak tanpa menepi bukan pada tempatnya. Macet yang mengakibatkan pemborosan konsumsi bahan bakar tidak lagi bisa dipungkiri. Soal kecelakaan sebagai akibat pola seperti ini tinggal soal waktu.
Berbeda dengan angkot dan bus kota. Taksi bagi saya adalah layanan manja. Taksi punya kemampuan melakukan jasa transpotasi door to door. Tentunya ada harga di balik setiap kenyaman serta pelayanan. Banyak pengelola taksi yang memanjakan pelanggannya. Tinggal telpon bahkan BBM maka taksi pun segera hadir meluncur siap sedia mengantar kita kemana saja.
Kita nyaman ketika pengemudi taksinya tahu diri. Dalam arti paham dan mengerti peran dan fungsinya adalah ujung tombak dari citra
sebuah kota. Penumpang tentram ketika turun dari taksi, sang pengemudi dengan santun mengingatkan agar jangan sampai barang-barang kita tertinggal.
Kita aman ketika naik taksi dan membayar harga yang sesuai angka tertera. Ada kesepakatan fasilitas yang ditata dan diawasi mengenai argo meter yang menjamin kita berhak membayar sesuai jumlah tertera.
Kita resah jika pengemudi taksi tidak berseragam dan tanpa tanda pengenal. Kita heran jika pengemudi taksi nekad merokok ataupun bau minuman keras saat berkendara. Kita menginginkan mutu kualitas pelayanan serta kesejahteraan setiap pengemudi taksi itu di tingkatkan.
Kita belum lupa kejahatan yang menggunakan sarana taksi melibas harta penumpang bahkan nyawanya. Kita rindu dengan produk barang ataupun jasa yang beriklan janji manis lalu berani memberi bukti.
Betapa menyadari bahwa membangun usaha dengan citarasa yang berkarakter seperti Blue Bird tidaklah mudah. Ada semangat upaya serta pengorbanan untuk membangun merk yang kuat hingga akhirnya layak punya tempat dan diterima sebagai taksi yang aman dan nyaman.
Banyak yang kuatir pencabutan ijin Blue Bird di pulau Batam di dasari semangat buruk dan korup sedari awalnya. Lumrah umumnya pengurusan ijin usaha menjadi ladang uang.
Sehingga ketika muncul tekanan sebagai upaya tawar dari pendemo. Serta merta yang terlibat dalam kewenangan begitu ketakutan. Merasa tertekan lantaran kuatir isu korup dalam kebijakannya tersebut diungkapkan. Jika sedari awalnya pemerintah mendasari keputusan pengadaan sarana taksi dengan komunikasi positip, semangat kesadaran dan niatan baik.
Pastinya tidak akan ada tragedi plin-plan kebijakan yang menjadi preseden buruk iklim investasi di pulau Batam. Dari sudut kedai kopi saya bisa jelas mendengar. Obrolan para pengemudi taksi lokal yang setengah teriak berujar, “kalau Blue Bird masih nekad. Maka saya akan demo lagi pakai kaos Angry Bird!”
Bayu Sahaja






Comments
Siap Ketua. Sesuai borosnya saya. Semua yang Ketua sampaikan berorientasi pada peningkatan mutu pelayan publik. Terimakasih kunjungannya Ketua. :)
yg masyarakat di Batam inginkan adalah layanan Taxi yang baik dan nyama, bbaik itu turis Asing maupun Lokal.
ini ada kaitan dgn tarif yg reasonable dan jelas, pelayalanan yang bertanggung jawab. Yg di tulis mas Bayu itu memang merupakan pemandanagan umum di pulau Batam. agak unik memang" pelayanan Angkot berbasis Taxi.
Seharusnya Organda Batam bisa menerapkan/mengadopt std Taxi "mis : Blue bird, tidak akan menutup kemunkinan pengusaha taxi batam akan lebih maju dan berkembang.mis : Argometer, Ac, ID, Taxi Call, pengaduan dll..Innovatif apalagi...menjadi daya tarik sendiri bagi Turis utk datang ke Batam-salam jepret
Ulasannya faktual, fenomenal dan sosio empati kental sekali. Kala survey acak pada 10pendapat awam saya yakin akan ada jawaban melebihi 75% menyatakan kehadiran Blue Bird bisa diterima.Persoalan keranah lebih detail akan menguap beberapa polemik secara beurut: 1. Berapa jumlah supply dan Demand. Terhadap Taksi, 2. Kenapa harus Armada yang datang bukan alternatif lain seperti adopsi Managemen Jitu Blue Bird di boyong kesini. 3. Pelancong tidak selamanya menginnginkan Taksi sebagai fasilitas angkutan, mana ketersediaan angkutan umum yang memadai untuk lokal dan Pelancong. 4. Efektifkah pembinaan dari pihak pemerintah terhadap pengemudi atau apakah tetap profesi ini dipandang sebelah Mata ( tapi demo bisa bikin Izin jadi di cabut). 5. Kalan kita bisa robah trend masyarakat Blue bird jadi Batam Bird ( Taksi ala Batam setara Blue Bird). Haizzzzzz..akhirnya kita akhiri dengan lagu...Taksi juga Manusia....bla bla dgn Tone rock....Cheers...
RSS feed for comments to this post