“Om punya sahabat?” Pertanyaan ringan ini dilontarkan oleh anak perempuan usia sepuluh tahun. Kala itu saya iseng ingin memotret seorang anak kecil yang sedang asyik main boneka beruang warna coklat bermata satu nan lusuh.
Aksi tanya-tanya saya lancarkan. Sebagai upaya pendekatan dari amalan yang dianjurkan oleh para pakar fotografi anak. Lakukan komunikasi untuk mendapatkan ekspresi alami anak-anak. Biasanya saya selalu lancar menjawab setiap pertanyaan yang diajukan teman-teman. Meskipun kebanyakan jawaban yang saya kemukakan membuat orang yang bertanya jadi tambah bingung.
Semua orang tahu kalau saya itu adalah jenis yang banyak bicara dan ngawur isinya.
Bahkan tanpa ditanya saya sering juga langsung nyerocos ngomong semaunya. Sehingga kerap kali setelah panjang lebar dan tinggi mengurai menjawab sebuah pertanyaan. Ujung-ujungnya saya sendiri jadi bingung. Sebab uraian jawaban saya yang sok pintar itu jadi melebar kesana kemari dan lari jauh dari konteks pertanyaanya.
Namun begitulah saya. Gengsi setinggi langit menjamin isi omongan yang seenak perut sendiri. Kali ini, menghadapi bocah bau kencur saya bungkam. Cukup lama berpikir dan akhirnya tidak ketemu juga jawabannya.
Bocah perempuan ini masih manyun menunggu. Dia menatap wajah saya menanti jawaban. Mungkin baginya pertanyaan itu begitu sederhananya. Sehingga heran melihat saya tidak kunjung mampu menjawab pertanyaannya. Saya melihat lekat-lekat wajahnya yang polos. Bertanya dalam hati, apakah dia mengerti arti kata sahabat. Sebagai orang yang berpengalaman dalam keahlian silat lidah dan mahir berkelit dalam perdebatan sengit.
Segera otak taktis saya bekerja. Tidak mau mati kata begitu saja hadapi pertanyaan anak ingusan begitu. Segera putar balik bertanya padanya, “kalau kamu punya sahabat?” Tanya saya sambil senyum dipaksakan. Spontan anak manis ini menjawab lancar. Menyebutkan begitu banyak nama. Dalam hati saya menghitung sudah lebih dari sepuluh nama disebutkannya. Itupun anak kecil ini masih terus mengingat-ingat nama lainnya dan terus saja menyebutkannya satu persatu.
Jujur dalam hati saya iri dengan kepolosannya. Baginya semua yang dikenalnya adalah sahabatnya. Bisa jadi kalau diberi kesempatan, dia akan menyebutkan semua nama yang dikenalnya. Ini tidak bisa dibiarkan. Segera saya melancarkan trik lama. Pura-pura telpon dan mengabaikan si bocah bikin pening itu hingga akhirnya ia lupa lalu kembali asyik dengan boneka lusuhnya.
Sebetulnya mudah saja bagi saya untuk asal-asalan menyebut seribu nama sebagai jawaban pertanyaan bocah ingusan itu. Namun entah mengapa pertanyaan polosnya tidak mampu saya jawab seketika itu juga. Bahkan hingga malam harinya, jelang tidur saya masih terus dibayang-bayangi pertanyaan ringan tersebut. Apalagi ketika saya putar balik bertanya padanya, si bocah mengalir saja menjawabnya. Lancar dan tanpa beban adalah kepolosan yang kini menggugah nurani saya. Bagaimana mungkin saya yang dengan pongah mengaku punya lebih dari seribu kawan tidak mampu menyebut satu nama pun yang layak dikatakan sebagai sahabat.
Terkapar saya merenungi diri. Mencari-cari kelemahan pribadi. Kesombongan diri yang menjadi celah ketidak mampuan saya untuk punya sahabat. Ini bukan salah orang lain. Perkara ini adalah kesalahan dari kesombongan diri yang selalu curiga, pamrih dan enggan untuk membuka pintu tulus iklas demi hadirnya seorang sahabat. Bagaimana mungkin sahabat sejati bisa hadir jika pintu masuknya selalu saya tutup rapat.
Bukankah seharusnya mudah saja. Segera klaim bahwa semua pembaca kata foto adalah sahabat saya. Namun apakah ungkapan yang bukan dari lubuk hati seperti ini bisa diterima oleh para pembaca. Lebih dipersempit lagi. Teman-teman yang biasa duduk di cafe sambil ngopi sepulang kerja itu adalah sahabat saya. Pendapat ini pun terasa berlebihan. Sebab kumpulan hobi ngopi itu adalah kumpulan kala senang saja sepertinya. Saya masih tergoda untuk mengkuatirkan keberadaan mereka dikala saya jatuh ataupun susah. Akankah mereka ada. Untuk membantu atau sekedar memberi dukungan ketika saya terkapar menderita.
Setelah lelah bergulat dengan pikiran sendiri akhirnya saya tertidur pulas dan bermimpi. Punya seorang sahabat yang menangis jujur di hadapan saya lantaran dilibas malapetaka. Dalam mimpi yang seperti nyata itu dia berkata, “Sahabat,” katanya pada saya yang duduk tepat di hadapannya dengan wajah prihatin penuh penghayatan atas dukanya. Lanjutnya, “waktu aku jatuh kamu ada, waktu aku menangis kamu ada, waktu aku berduka kamu ada, bahkan nyaris di setiap situasi di mana aku mengalami percobaan dan penderitaan kamu selalu ada.” Katanya dengan air mata yang begitu nyata.
Dalam mimpi itu saya hanya diam dengan ekspresi perhatian dan rasa ingin membela melepaskan sahabat itu dari dukanya. Hingga akhirnya sahabat itu menutup kalimatnya sambil matanya nanar menatap tajam ke wajah saya. “Jangan-jangan kamu yang selama ini membawa dan membuatku sial!” Saya kaget dan terbangun.
Sebagai orang yang tidak punya sahabat. Saya terus terbayang indahnya punya sahabat. Memiliki satu sahabat saja, konon adalah anugerah terindah. Jika punya lebih dari satu sahabat akan sempurnalah hidup kita rasanya. Sebagai manusia yang nota bene adalah makhluk sosial, sejatinya mustahil keberadaan kita lepas dari keberadaan manusia lainnya.
Sedari lahir hingga mati nantinya kita akan selalu butuh kehadiran orang lainnya. Sejak bayi kita butuh orang tua untuk menggantikan popok, memberi makan, membimbing, mengajar serta menerapkan sistem nilai kehidupan. Untuk kelak kita lancar hidup bersosialisasi dengan sekitar. Tahu batasan tentang yang baik dan yang buruk. Sehingga bisa diterima umum dan sadar bahwa hak kita dibatasi dipagari oleh hak orang lainnya.
Kita boleh senang dan bahagia selama tidak mengganggu kesenangan dan bahagianya orang lain. Hidup normal seperti orang lainnya jalani kehidupan. Kendati setelah besar makin kerap bertanya-tanya dalam hati. Soal normal dan tidak normalnya kehidupan sepertinya dilandasi oleh umumnya atau kebanyakannya saja. Kita melihat banyak laki-laki merokok, maka tindakan menghisap asap bagi kaum lelaki itu adalah normal.
Banyak perempuan pakai rok, maka pakaian begitu adalah normal bagi wanita. Umumnya taksi tidak ada argo meter, pengemudi tidak berseragam dan tanpa
tanda pengenal. Kalau semua itu ada, berarti itu bukan taksi di kota saya. Biasanya persahabatan itu tidak akan berakhir. Kalau hubungan itu berakhir, umumnya ada pihak yang kena tipu.
Adalah normal dan hakiki untuk manusia membutuhkan keberadaan manusia lainnya. Namun mengapa hingga kini saya tidak punya sahabat. Dalam hati tergoda bertanya. Selama ini, adakah orang yang merasa dan mau mengakui bahwa saya adalah sahabatnya. Jika memang ada yang memploklamirkan itu. Harusnya saya tanggap untuk segera membuka pintu tulus iklasnya hati dan menerimanya sebagai sahabat sejati.
“Mas, selama ini adalah orang yang saya anggap sahabat bahkan sudah seperti saudara sendiri.” Teman ngopi yang semenjak tadi diam buka cerita. Saya terenyuh mendengarnya dan nyaris meneteskan air mata bahagia campur haru. Betapa buram pengelihatan saya, hingga tidak melihat sosok sahabat di depan mata.
Dia melanjutkan kalimatnya, “bagi saya mas adalah tempat mengadu. Jujur, selama ini mas adalah orang dimana saya bisa menceritakan hal-hal yang mana saya malu mengungkapkannya pada orang lain ataupun saudara sendiri. Intinya hanya mas lah yang bisa mengerti.” Katanya pelan sambil matanya tidak melihat saya.
“Ah. Jangan sungkan-sungkan. Namanya juga kepada sahabat. Silahkan utarakan apa yang kira-kira bisa saya bantu?” Kata saya tulus iklas membuka diri. “Terimakasih mas. Begini mas, bisa bantu saya? Saya butuh pinjaman. Akhir bulan pasti saya ganti.”
Bayu Sahaja






Comments
Indah sekali pengungkapan tentang ayahnya. Membangun kenanganku juga tentangnya. Lha... Bukannya kita memang bersahabat sejak awal jumpa. Terimakasih kunjungannya Mas AWD.
Aihhhhhh... Terimakasih kunjungannya Bang Irwan. Kalau atas nama ngopi mari kita eksplorasi. 1 cangkir ketika kita bingung mulai dari mana. Dan silahkan lebih dari itu jika ingin lebih mengenal arti pahitnya kopi. Salam Sahabat.
atau mau versi Uda Iwan Fals : http://www.youtube.com/watch?v=7jXJs2UrdS0
ohya lupa..Mas..pinjam lah dulu agak 10 rebu perak...belom ngopi nih......
Salam Sahabat..
Aihhhh... Indah dan hati-hati sekali ABG satu ini. Salam Stay Cool, Tommy Hoki.
RSS feed for comments to this post