joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Biasa

Email Cetak

Adalah kebiasaan buruk saya untuk selalu menyimpan file-file foto gagal. Demikian gemarnya hingga hardisk komputer dan eksternal hardisk jadi penuh. Apalagi file foto gagal yang saya simpan tersebut berupa file RAW dan JPEG sekaligus untuk masing-masing gambar.

Sangat mudah ditebak bahwa kelakuan tersebut adalah cerminan dari kerakusan saya. Tidak puas rasanya jika hanya menyimpannya dalam versi JPEG pada saat pemotretan.

Lagi pula selama ini kebutuhan hobi fotografi saya masih terpenuhi hanya dengan format JPEG. Sedangkan dengan format RAW sudah pasti ukuran filenya sangat besar dan konon menjadikan kita leluasa melakukan olah digital. Namun harusnya saya belajar disiplin untuk pilih pilah kapan dan untuk apa menyimpannya dalam format RAW. Sekalipun data dan informasi gambar pada versi RAW demikian lengkapnya.

Tapi semua orang juga paham. Adalah  tidak mungkin melakukan olah digital pada photoshop demi memperbaiki foto yang dibuat asal-asalan apalagi tanpa pemahaman.

Tidak berhenti disitu. Penyakit hobi menyimpan barang-barang berkategori sampah juga merasuk pada hal-hal lainnya. Kotak kemasan, botol minuman, sepatu bekas, baju yang tidak muat lagi, kantung plastik, karung dan ragam barang bekas lainnya selalu saya simpan.

Mulanya saya pikir itu semua bisa saya pergunakan lagi nantinya. Pada kenyataannya semua sampah itu akhirnya hanya memenuhi semua ruang-ruang di rumah saya. Kelakuan seperti itu ternyata adalah penyakit kikir dan serakah yang harus disembuhkan.

Bagaimana mungkin saya bisa bilang ini bukan penyakit. Sebab nyaris semua tempat akhirnya dipenuhi oleh barang-barang yang sama sekali tidak berguna. Gudang, dapur, kamar tidur, daftar nomor telepon di handphone bahkan tas kamera saya isinya sampah melulu. Saya tidak berani mengambil keputusan untuk membuang segala sesuatu yang tidak lagi saya butuhkan. Supaya pola hidup jadi lebih rapi, teratur dan terarah.

Padahal sangat mungkin barang-barang itu akan sangat berguna dan menjadi soal hidup bagi orang lainnya. Tidak hanya memenuhi ruangan saya dengan percuma seperti sekarang ini. Saya memang jenis manusia yang tidak punya keberanian untuk hidup cukup dengan apa yang saya butuhkan saja. Alhasil kini hidup saya dilingkupi lautan sampah.

“Insanity is doing the same thing, over and over again, but expecting different result.” Demikian Albert Einstein bersabda. Adalah gila ketika melakukan hal yang sama berulang kali namun mengharapkan hasil yang berbeda. Begitulah kebiasaan sudah membentuk dan mendarah daging sejak lama. Sebab diri kita ini adalah tumpukan kebiasaan. Sehingga ketika sebuah kebiasaan telah terbentuk akan sulit rasanya untuk mengubahnya.

Kelakuan saya yang hobi menyimpan sampah ibarat pengalaman patah jari saat remaja. Kala itu sebagai atlit pujaan di lapangan bola volly, saya mengalami cidera saat melakukan smash. Alhasil satu jari saya patah dan sakitnya luar biasa. Sebagai produk manja saya terus berupaya menyembunyikannya.

Tidak mau dirawat atau berobat lantaran sakitnya luar biasa kala tersentuh. Pembiaran ini menyebabkan jari tersebut tumbuh bengkok dan kaku akibat pengapuran. Setelah sekian lama akhirnya saya sadar. Tiada jalan lain memperbaiki jari bengkok tersebut kecuali berobat ke ahlinya patah tulang. Saya meraung-raung kesakitan. Ketika satu-satunya jalan memperbaiki jari bengkok itu adalah dengan metode mematahkannya lagi. Dapat dibayangkan. Ketika cidera tidak sengaja saat pertandingan dulu itu sakitnya sudah luar biasa. Kini bahkan dengan sengaja dan sadar dipatahkan kembali demi diperbaiki.

Seperti itulah rasanya merubah kebiasaan salah. Kita lebih nyaman jalani kebiasaan yang sudah mendarah daging walau itu adalah jalan salah. Itulah zona nyaman yang menjamin kita selalu riang bergumul dengan kebiasaan yang mungkin tidak benar. Enggan kita tinggalkan dan buang. Lebih asyik bagi kita duduk berkumpul dengan orang-orang yang sama dengan kita. Sama-sama tidak melakukan apa-apa. Ah, betapa nikmatnya.

Sebagai wujud semangat pembelaan atas segala kebiasaan salah saya, bahkan kini saya makin mahir mengemas kata-kata pembenaran. Betapa teringat pengalaman pertama kala coba-coba menghisap rokok. Di benak saya yang terlintas adalah gambaran betapa kerennya menyalakan rokok dengan zippo lalu dalam-dalam menghisap asap melalui filternya. Menghembuskan asapnya perlahan melalui mulut dan hidung menjamin sensasi pusing kala pertama dulu.

Alih-alih kapok. Saya malahan terus saja tekun berlatih hingga jumpa juga titik nikmat menghisap asap. Merasa jantan, kreatif dan pintar adalah akibat terobosan iklan-iklan rokok yang demikian gencar membombardir saya dengan terpaan strategi informasinya. Mereka punya banyak uang dan orang-orang cerdik dalam merancang teknik pemasaran. Memuatnya dengan dukungan biaya melimpah sehingga mampu hadir berkesinambungan pada ruang-ruang iklan televisi, koran dan majalah.

Bahkan tidak luput beragam acara bisnis atau sosial mereka susupi. Seperti acara konser musik, acara sulap, lomba foto bahkan ajang kompetisi olah raga. Mengkonotasikan rokok dengan kejantanan, kreatifitas ataupun kesuksesan menjadi strategi jitu untuk menembus benteng pertahanan jiwa remaja saya kala dulu. Kini bermodal semangat kecanduan rokok yang akut saya mahir mengulas alasan pembenaran soal rokok. Bahkan segala berkedok bahwa menikmati asap rokok adalah hak asasi.

Kalaupun terjadi sebab pada diri saya, seperti gangguan kehamilan dan janin. Itu adalah persoalan pribadi yang kalau saya sakit akibat mengamalkan hak asasi itu, saya juga tidak akan mengeluh ke anda. Dan sudah pasti saya aman dari akibat seperti itu. Soalnya saya ini laki-laki. Manalah mungkin mengalami gangguan hamil dan soal janin. Begitulah kerap saya berorasi. Hingga lupa diri bahwa orang lain juga ingin merdeka dari pengapnya jadi perokok pasif.

Asyiknya menjalani kebiasaan buruk sudah membelenggu. Tidak bisa pindah kelain hobi. Paling parah adalah ketika menyadari diri dijauhi oleh banyak orang. Mulanya adalah biasa untuk memanfaatkan mereka. Menyanjungnya untuk sekedar dapat pinjaman baik uang ataupun barang. Kebiasaanlah yang membuat saya tidak sadar diri. Semangat manipulasi dan muslihat demi untung pribadi coba ditutupi dengan tirai yang semakin banyak lubangnya.

Menjadi rahasia umum yang semakin terkuak membuat banyak orang sadar diri sambil ambil jarak aman dengan saya. Namun terus saja nekad mendekatkan diri pada orang-orang yang sangat mungkin muak hati tapi tidak tega mengutarakannya.

Spesies muka tebal seperti saya ini memang sedang digandrungi. Lihat saja di televisi atau koran. Banyak berita berkait soal keterlibatan orang pada kasus miring namun pelakunya masih pada bisa bergaya dan banyak cerita.

Itu semua sudah tentu merupakan wujud kebiasaan yang sudah mengakar kuat dan mengikat. Kebiasaan buruk kronis yang semua kita bisa membayangkan betapa sakitnya ketika diluruskan.

Padahal di hati kecil sadar bahwa hanya benda mati saja yang tidak bisa berubah. Mengamati alam. Ketika cicak dan katak tiada maka nyamuk jadi banyak. Ketika singa musnah maka rusa membludak. Akankah saya menjadi lebih baik ketika kebiasaan buruk saya basmi.

“Kalau kamu jadi baik itu masih ada harapan. Tapi kalau jadi ganteng ya mustahil!” Teman saya nyeletuk bikin sakit hati.

 

Bayu Sahaja

Share ke teman anda

Comments

0 Bayu Sahaja 2012-07-30 03:47 #4
Quoting andreas:
...kebiasaan buruk akan mendatangkan kegagalan bahkan kehancuran.
Apabila kita tidak sadar dan tidak peka akan perilaku2 buruk,
maka lama-kelamaan akan menjadi BIASA, dan akhirnya terus terpelihari
dan menjadi karakter...tulisan yg menyadarkan arti kehidupan..IMO :lol:

salam dari tetangga sebelah :lol:


Ketika lingkungan tidak juga berubah. Sudah seharusnya kitalah yang berubah. Terimakasih untuk selalu luangkan waktu diskusi ngalor ngidul dengan saya Ketua.
0 andreas 2012-07-30 01:21 #3
...kebiasaan buruk akan mendatangkan kegagalan bahkan kehancuran.
Apabila kita tidak sadar dan tidak peka akan perilaku2 buruk,
maka lama-kelamaan akan menjadi BIASA, dan akhirnya terus terpelihari
dan menjadi karakter...tulisan yg menyadarkan arti kehidupan..IMO :lol:

salam dari tetangga sebelah :lol:
0 Bayu Sahaja 2012-07-29 08:33 #2
Quoting Wan Batamasya:
:D

Ada ungkupan lain pernah saya baca (kira2 ) begini : Ketika suara hati berkata maka mereka akan teriak " Cengeng ", namun ketika celurik bergerak lain kata keluar " OUGHHH....." Atau sejalan dgn Ungkapan : "Dikasih hati Minta jantung"
saya serta banyak pribadi lain akan berat pada situasi begini...sementara kawan tu masih bergaya diluar dgn Innocent Face, padahal tangan terkilir nie macam nak diluruskan ke kening kawan tu>>> ( KoMPOR Mode ON ) :P


Ampooooonnn... Padahal cara terbaik menghadapi orang yang punya kebiasaan buruk adalah mengiyakan semua celotehnya. Namun tanpa aksi apa-apa. Terimakasih kunjungannya Bang Irwan. :D
0 Wan Batamasya 2012-07-29 08:28 #1
:D

Ada ungkupan lain pernah saya baca (kira2 ) begini : Ketika suara hati berkata maka mereka akan teriak " Cengeng ", namun ketika celurik bergerak lain kata keluar " OUGHHH....." Atau sejalan dgn Ungkapan : "Dikasih hati Minta jantung"
saya serta banyak pribadi lain akan berat pada situasi begini...sementara kawan tu masih bergaya diluar dgn Innocent Face, padahal tangan terkilir nie macam nak diluruskan ke kening kawan tu>>> ( KoMPOR Mode ON ) :P

 

 

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja