joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Cap

Email Cetak

Kami bertiga memang hobi dan sama-sama merasa punya bakat dalam urusan tarik suara. Walaupun belum mampu membuktikannya dalam sebentuk piala atau penghargaan dari ajang lomba.

Itulah mengapa teman saya semangat berinvestasi membangun ruang khusus fasilitas tarik suara pada rumahnya yang megah. Ini ruang berukuran 8 x 8 meter persegi yang dirancang khusus oleh ahlinya. Perabot tata suara yang mumpuni plus layar lebar dengan perangkat mutahir berbasis komputerisasi. Di sudut sebelah televisi layar lebar ada dua televisi lagi ukuran sedang. Satunya bisa mengakses siaran televisi pada umumnya. Supaya tidak ketinggalan berita katanya.

Sedang televisi satunya lagi, merupakan saluran laporan kamera CCTV dari sekeliling rumahnya. Sehingga dari ruang ini kita bisa menyaksikan siaran langsung dari lingkungan rumah. Kamera-kamera CCTV dipasang mulai dari halaman depan, ruang tamu, dapur serta halaman belakang. Sofa hitam setengah lingkaran akan muat sepuluh orang untuk nyaman tanpa berdesakan di ruang elegan ini.

Bila diperlukan ada sofa tambahan yang tidak kalah nyaman. Letak ruangan itu di lantai dua. Dibangun khusus untuk kedap suara. Dinding-dindingnya dilapisi bahan yang mampu menyerap suara. Hingar bingar seperti apapun di ruang itu, dipastikan tidak secuilpun suara bisa lolos keluar. Bahkan pintunya rangkap dua. Sehingga ketika pintu pertama dibuka, maka suara masih akan tertahan oleh pintu lapis kedua.

Masing-masing pintu Ditempatkan pada jarak dua meteran. Sehingga ada ruang sebelum kita mencapai pintu kedua. Di sisi kirinya, antara pintu pertama dan pintu kedua ada toilet nyaman layaknya fasilitas hotel berbintang lima. Bila ada film bagus ataupun pertandingan bola kesebelasan kesukaan, kami kerap menggunakan ruang tersebut untuk menyaksikannya bersama.

Selalu saja ada cemilan istimewa yang tersedia di piring atau toples-toples cantik. Di sudut dekat pintu masuk ada kulkas ukuran besar. Isinya macam-macam. Layaknya kulkas ajaib. Setiap saat kala menikmati fasilitas ruang istimewa ini, selalu saja ada sesuatu yang baru dan berbeda. Seperti buah, es krim, black forrest, minuman kaleng, permen dan ragam cemilan nikmat yang bikin gemuk.

Terkadang kami bertiga sering memutuskan diskusi di ruang ini. Sambil mendengarkan alunan musik lembut. Seperti instrumen saxophone atau alunan musik klasik. Acara puncaknya selalu masing-masing didaulat  untuk menunjukan gaya dan suaranya. Bukan orasi atau pidato. Tapi berkaraoke. Semua punya lagu andalan. Selalunya dimulai dari teman yang punya rumah terlebih dahulu untuk menunjukan kebolehannya.

Dia akan menyanyikan lagu berjudul Jujur. Setelah itu teman saya yang konon sejak lahir suara tangisnya demikian istimewa. Orang tuanya mengaku tambah nyenyak ketika mendengar suara tangisnya kala dia masih bayi. Sudah pasti, dia akan menyanyikan lagu Tulus. Itu lagu andalan yang tidak boleh diganggu kala dia menyanyikannya. Kita semua mengerti itu. Tepuk tangan adalah wajib ketika masing-masing orang selesai menyanyi. Terkadang ditutup dengan toas, membenturkan gelas berisi wine atau wisky.

Terakhir adalah kesempatan saya nyanyi. Semua teman selalu mencibir suara saya. Kata mereka bagaimana mungkin saya merasa berbakat jadi penyanyi. Kata mereka berdua, saya itu kalau kentut bunyinya fals. Tapi sudahlah. Saya harap anda tidak ikut-ikutan menghakimi saya sebelum terbuai alunan nada suara dan artikulasi mantap yang khas dari hati dan jiwa saya.

Lagu andalan saya adalah, Manusia Bodoh. Tiga lagu ini dinyanyikan selalu begitu urutannya. Dimulai dengan lagu berjudul Jujur, Tulus dan terakhir saya. Manusia Bodoh. Lalu berlanjutlah pada lagu-lagu lainnya. Terkadang lagu-lagu dangdut atau keroncong juga menyemarakan suasana. Semuanya mengalir indah hingga biasanya, berakhir sebelum tengah malam. Saya merasa ada hal yang harusnya saya rubah. Ini menyangkut judul lagu andalan saya.

Terkadang ada semangat untuk meminta pada penciptanya merubah judul lagu tersebut. Kalau hanya kami bertiga rasanya bukan masalah. Tapi ketika ada rekan-rekan lain yang ikut bergabung, pastinya mereka akan makin sepakat dengan paradigma berpikir dan mengarah pada satu pandangan. Saya memang manusia bodoh. Bukannya tidak pernah saya mencoba mencari lagu andalah baru. Tapi ketika ada acara dan masuk acara nyanyi. Selalu saja susunan lagunya sudah begitu. Katanya suara saya paling cocok dan tidak tergantikan untuk lagu tersebut. Katanya lagi, akan lebih pas kalau menyanyikannya saya sudah minum segelas besar bir dingin. Katanya lagi, itu perangkat komputer karaokenya sudah disetting begitu. Tidak bisa dirubah lagi. Begitulah dengan terpaksa saya merana terus menerima.

Dalam fotografi juga begitu. Kebetulan minat kami juga sama dalam soal melukis dengan cahaya. Teman saya yang kaya raya, sangat menyukai foto-foto pemandangan. Hobi dan kesukaan yang sangat cocok buatnya. Sepertinya dalam setiap bulannya, teman saya ini selalu pergi kemana-mana, bahkan luar negeri segala. Untuk urusan bisnis ataupun liburannya. Saya sulit membedakannya.

Pastinya sepulang perjalannya, selalu saja kami disuguhkan foto-foto dari lokasi yang indah. Karya foto itu disuguhkan  ketika kami berkesempatan bertiga kumpul. Jujur! Lokasi dimana foto diambil memang selalu membuat saya terperangah. Itu yang memukau dan membuat saya rela, betah dan takjub melihat karya fotonya berlama-lama. Kalau soal kualitas fotografisnya, semua kita harus maklum. Sebab karya foto ini sepertinya memang diabadikan dengan sambil lalu. Bukan dengan cara serius dan waktu yang khusus.

Jika diperhatikan, teman saya ini makin hari makin kecil saja kameranya. Jangan ragukan atau pertanyakan harga kamera kecilnya itu. Karna Leica sangat berprestasi dalam soal bandrol harga jual. Sahabat saya yang satu lagi, sangat suka dengan foto orang. Memotret orang baginya punya tantangannya tersendiri. Dia begitu terobsesi memotret wajah ataupun pose manusia dengan teknik pencahayaan yang saat ini dia mengaku sedang mengembangkannya. Ini bukan bagaimana memotret wajah tua dengan kerut merut yang lebih dikenal sebagai portrait. Tapi sahabat saya ini sangat menyukai kecantikan dan kulit halus mulus.

Ini semua soal minat. Anda tidak perlu ikut-ikutan akan kesukaannya itu. Sebab saya sendiri, hingga kini terus mengakali keterbatasan waktu saya untuk bisa luangkan waktu salurkan hobby motret. Sehingga pilihan saya dari dulu hingga kini ya motret serangga melulu. “Kasihan deh lu!” Begitulah mereka berdua kompak mencibir saya sambil tertawa. Tidak lucu. Tapi saya selalu ikutan tertawa.

Saya adalah apa yang saya pikir. Kala saya masih di sekolah dasar. Saya punya ragam teman yang punya sebutan atau cap dan kelakuan masing-masing. Ini adalah gelar yang diberikan oleh orang tua, lingkungan, guru dan teman. Ada anak yang dijuluki si bandel. Ada yang mendapat sebutan si pemalas. Juga ada yang bangga diberi gelar ahli sepeda. Lantaran teman kecil ini mahir sekali menggunakan sepeda dan jago memperbaiki kerusakan sepeda pada umumnya. Kami sering dihibur dengan atraksi-atraksi sepeda berbahaya yang menakjubkan olehnya.

Ada juga yang mendapat julukan si jahil. Ini anak memang sungguh ampun jahilnya. Saking jahilnya, terkadang ada siswi histeris jerit-jerit mendapati ada katak dalam tas sekolah atau tempat pensilnya. Kehebohan ini akan berakhir dengan berdirinya si jahil dengan posisi hormat bendera di lapangan. Sebagai hukuman tindak kejahilannya hingga akhir jam sekolah.

Julukan saya pasti semua teman akan langsung ingat. Gelar saya adalah si tukang nyontek. Bahkan levelnya sering dikatakan sudah master dalam urusan ini. Sebab saya bisa demikian kreatifnya dalam urusan nyontek.

Berbagai metode dan media bisa saya gunakan demi memfasilitasi tantangan ini. Guru-guru di kelas paling teliti dan luangkan waktu lebih banyak ketika memeriksa meja tempat saya duduk, sesaat sebelum soal ujian dibagikan. Tapi selalu saja mereka kecolongan.

Saya mengembangkan teknik rahasia dalam menyembunyikan contekan. Sungguh ini cara aman dan nyaman melakukannya. Ijinkan saya tetap merahasiakannya. Bukan hal yang baik rasanya menyebarluaskan semangat nyontek pada generasi penerus bangsa.

Tercenung kembali pada ingatan masa kecil tadi. Apakah kala dulu itu, saya menjadi seperti yang orang stempel atau capkan pada saya. Akankah gelar-gelar yang diberikan turut berperan dalam terbentuknya sebuah pribadi. Akhir perenungan ini. Dengan nyaris bangga dan penuh keberanian. Saya nekat menggelari diri sebagai Seniman. Bukan yang dalam arti, Senang Menipu Teman!

 

Bayu Sahaja

Share ke teman anda

Comments

-1 Bayu Sahaja 2012-07-24 11:28 #6
[quote name="shikhei"]wah....kelihatannya asyik karokenya,sayan gnya aku ga pernah di ajak[/quote

Siap Brother!!! ......... Akan segera kirimkan undangan. Untuk sama-sama latihan vokal. Jangan lupa persiapkan lagu andalan. Terimakasih kunjungannya, Shikhei. :D
0 shikhei 2012-07-24 06:27 #5
wah....kelihatannya asyik karokenya,sayan gnya aku ga pernah di ajak
0 Bayu Sahaja 2012-07-18 10:33 #4
Quoting udadennie:
CAP atau gelar, biasanya di berikan akibat keunikan pada pribadi orang tersebut. contohnya : ada saudara saya di cap "PANGERAN". Dan betul sekali, hari-harinya indah bagaikan seorang pangeran................ :roll: :lol: :D


Ampunnnn... Yang bersangkutan telah mengundurkan diri dari gelar tersebut. Semoga segera ada pengganti untuk jabatan gelar PANGERAN tersebut. :D
0 udadennie 2012-07-17 12:56 #3
CAP atau gelar, biasanya di berikan akibat keunikan pada pribadi orang tersebut. contohnya : ada saudara saya di cap "PANGERAN". Dan betul sekali, hari-harinya indah bagaikan seorang pangeran................ :roll: :lol: :D
0 Bayu Sahaja 2012-07-15 13:12 #2
Quoting Erwin Syahril:
:D Cap atau gelar yang diberikan memungkinkan turut berperan dalam terbentuknya kepribadian, tetapi justru sebaliknya terkadang cap atau gelar yang di berikan ke kita merupakan cemooh atau sindirian.


Siap Master Erwin. Ampunkan saya yang nekad memberi gelar, pangeran Kegelapan. :D
0 Erwin Syahril 2012-07-15 09:10 #1
:D Cap atau gelar yang diberikan memungkinkan turut berperan dalam terbentuknya kepribadian, tetapi justru sebaliknya terkadang cap atau gelar yang di berikan ke kita merupakan cemooh atau sindirian.

 

 

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja