joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Investasi

Email Cetak

Pagi-pagi baca twitter teman lama. Bunyinya begini, “Menabung pangkal miskin. Investasi pangkal kaya”.  Lama sekali saya merenungkan kicauan sohib lama ini.

Sebab selama ini saya tidak mengerti apa arti investasi. Sebagai orang yang berpenghasilan tetap. Dalam artian penghasilan tetap tidak cukup buat satu bulan. Pada akhir minggu kedua, amplop gaji saya sudah kosong melompong. Padahal sudah mengikuti arahan pakar keuangan yang bicara gamblang soal tata cara mengelola keuangan.

Nekad saran hebatnya saya ikuti. Untuk duapuluh persen dari pendapatan ditabung. Akhirnya, penghasilan jerih payah kerja sebulan seperti tidak pernah cukup untuk menutupi kebutuhan tigapuluh hari kedepan.

Seperti peta kehidupan modern masa kini pada umumnya. Teringat dulu ketika mendapatkan pekerjaan, saya merasa diri sudah mapan. Lalu tergerak bayar uang muka kredit rumah demi masa depan.

Sulit membedakan itu niat investasi atau lantaran kena rayu marketing perumahan yang memang ayu. Lebih bersemangat, katanya rumah atau properti itu adalah investasi paling baik. Lalu ditekan lingkungan, keluarga, pergaulan dan rengekan pacar tersayang.

Akhirnya memberanikan diri untuk terikat. Nekad menikah. Maafkan saya menggunakan kata nekat. Sebab otak dangkal saya kesulitan mencari padanan kata nekat, yang lebih enak di hati. Tidak lama menikah, segera punya anak. Ini juga tuntutan dari berbagai pihak. Yang mencibir terang-terangan atau diam-diam di belakang bilang, “Sudah tau gak sih cara bikin anak? Apa perlu dibantu?” Jujur! Itu adalah ungkapan yang bikin hati panas mendidih. Mengoyak semangat malam-malam romansa bulan madu.

Rajin! Itulah kuncinya sehingga dalam usia pernikahan tiga tahun setengah, bisa genjot produksi tiga anak. Memang sedikit melanggar himbauan BKKBN. Namun sepenuhnya harus dimaklumi. Kelebihan satu anak lantaran keceplosan. Kini banting tulang putar otak. Siang malam cari tambahanan. Buat bayar cicilan rumah, kreditan perabotan seperti AC, kulkas, sofa, sepeda, gadged, internet, biaya anak sekolah, biaya tidak terduga kala anak sakit dan televisi layar datar.

Cicilan mobil juga ikutan minta dianggarkan. Sebab dulu sempat-sempatkan beli mobil sesaat setelah menikah. Sebagai kado nikah yang statusnya demi tulus atas nama cinta. Teringat saat itu langsung suka lihat mobil imut warna cakep di showroom. Saya tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak membelinya. Soalnya lucu banget!

Wabah investasi layaknya magnet yang menarik minat banyak kalangan. Tua, muda, orang kaya, orang miskin, orang pemalas, orang rajin dan semua orang lainnya. Merasa wajib dan berhak untuk melakukan tindakan investasi. Tidak urung para lihay penipu menggelar presentasi investasi. Mengemasnya dengan gaya terburu-buru dan bicara pendek-pendek.

Bodoh rasanya jika tidak ikut berinvestasi. Semua orang merasa hebat ketika terlibat dalam jaringan tersebut. Padahal ketika diminta menjelaskan ulang apa yang disampaikan oleh tukang olah investasi, juga tidak bisa menjelaskan kemana uang itu diputarkan. Ini cuma semangat kerbau dicucuk hidung. Ikut-ikut dukung seperti massa kampanye yang gempita teriak,  hidup si ini! Hidup si itu! Ujung-ujungnya selalu buram tidak jelas kemana arah hidupnya.

Begitulah saya pernah terjerat pada semangat investasi jebakan. Iming-imingnya selalu manis dan diurai dengan kemasan yang menjanjikan hasil investasi semok padat menggiurkan. Apalagi janji manis pamungkas, bahwa modal kita akan selalu aman dan tetap lengkap tanpa hilang satu angka nol pun. Rayuan ini makin sadis mengiris napsu ketika dijamin uang investasi kita akan balik modal dalam tempo kurang dari satu tahun.

Bayangkan! Punya uang sepuluh juta. Ketika ditanamkan sebagai modal investasi, maka tiap satu bulan kedepan akan kembali dua juta. Artinya dalam lima bulan jumlah uang kita sudah kembali. Asyiknya lagi, modal kita tetap lengkap. Katanya, kalau tidak berniat lanjutkan investasi, kapanpun uang akan kembali seratus persen tanpa kurang satu nol pun dibelakangnya. Ah! Ini adalah kesempatan paling indah di dunia. Inilah investasi yang sesungguhnya. Sering lihat dikoran dan baca di televisi, bagaimana dan apa itu investasi.

Merasa kini pikiran telah terbuka. Inilah pintu gerbang titik balik dimana saya berkesempatan menikmati status cerdas dan kaya raya. Jujur! Saya dendam dengan kemelaratan. Apalagi saya kemudian dipercaya menjadi tokoh dalam jaringan investasi tersebut. Bila berhasil membuka pikiran orang untuk sadar investasi. Maka hasilnya lumayan. Automatis saya dapat persenan dari tiap jumlah yang disetorkan oleh orang bawaan saya. Kala itu kalkulator tidak pernah luput ada di saku.

“Jangan kerja lebih keras! Bekerjalah lebih cerdas! Biarkan uang yang bekerja untuk anda!” Begitulah slogan cerdik saya demi gaet nasabah melimpah. Lima bulan kemudian. Semuanya berubah. Geger berita penggelapan dan penipuan di koran dan televisi. Saya sembunyi. Saya adalah korban rayuan gombal investasi juga. Malu menceritakannya disini.

Ada juga yang cerdik mengelola rayuan investasi. Dimana janji pelaku yang menawarkan investasi justru kena siasat oleh calon yang dikira korban. Diolah sedemikian rupa. Sehingga calon korban justru dapat untung di muka. Tidak tepat kalau saya bilang di kadali. Dalam kasus ini sang investor justru mampu meraup jumlah berlipat dari nilai modal yang disetorkanya. Jangan terperangah atau bertanya bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi. Karna saat ini terlalu banyak orang cerdik yang demikian mampu mengemas trik cerdik dengan cara halus merugikan. Tekniknya dengan mengemas jebakan gengsi, kebanggaan bertabur bunga-bunga. Sementara buahnya dinikmati oleh si cerdik sendirian.

Biasanya janji manis bertebaran saat ajang promosi produk tertentu. Beli motor dapat helm. Beli mobil dapat service gratis tiga kali. Setor deposito seratus juta dapat handpone senilai satu juta. Beli rumah gratis AC. Beli dua gratis satu. Itu adalah kemasan cerdik rayuan manis sebagai strategi politik dagang. Tidak perlu mimpi untuk dapat tawaran sebaliknya. Seperti beli helm lantas dapat motor!  Kecuali anda cerdik dan tega sekali. Saya masih terus belajar membedakan mana investasi dan mana kewajiban. Pernah beli motor bekas secara kredit dengan uang muka Rp. 1.000.000,-.

Rencananya hendak saya sewakan untuk cari tambahan belanja rumahan, sebagai wujud sadar investasi. Berhasil! Saya dapat penyewa jujur, orangnya baik dan dapat di percaya. Tinggalnya dekat rumah pula. Namun sepertinya ada yang salah. Nilai sewa yang saya sepakati justru lebih murah dari uang setoran kredit yang harus saya bayar tiap bulannya. Penyewa bayar Rp. 350.000,- per bulan. Sementara saya bayar cicilan kredit motornya Rp. 550.000,- per bulan.

Lebih koyak lagi ketika perjanjian sewa selama satu tahun sudah terlanjur saya tandatangani. Bahwa kerusakan kecil ditanggung penyewa. Kerusakan besar diatas Rp. 500.000,- ditanggung kedua belah pihak. Disaksikan Ketua RT tempat saya tinggal. Semoga setelah satu tahun, motornya masih bisa jalan. Tiap bulannya saya berkewajiban mencari tambahan Rp. 200.000,- guna tutupi cicilan kredit. Ini pelajaran mahal dan selama satu tahun kedepan, saya akan digembleng kewajiban cari tambahan dana tersebut.

Ketidak jelian saya dalam membedakan mana investasi dan mana itu kewajiban, adalah bukti nyata yang membawa saya pada kerugian tiada tara. Ini seperti kisah dongeng dimana seekor buaya yang tertimpa terjepit batang kayu sehingga tidak bisa membebaskan dirinya. Buaya merengek mengiba minta tolong. Saat itu seekor kerbau iba, demi melihat bagaimana si buaya menangis tidak berdaya. Akhirnya dengan segala niat baik, si kerbau menggunakan tanduk dan tenaga besarnya untuk mengungkit batang kayu besar yang menindih tubuh predator ini. Selamatlah sang buaya. Setelah terbebas. Alih-alih berterima kasih. Sang buaya justru langsung menerkam leher kerbau penyelamat tadi dan memangsanya.

Kisah ini berulang kali jadi dongeng pengantar tidur malam saat saya masih kecil. Itu cerita unik nan menggelitik untuk kita waspada dan berjaga. Akan buaian mulut manis yang mengemas berbagai hal. Menyelimuti niatan licik dengan bungkus kado menarik seolah hadiah.

Begitulah masih juga saya terjerat oleh muslihat investasi. Entah karna saya dinilai baik atau karna saya lengah. Sehingga semangat investasi yang saya siramkan justru dijadikan seolah kewajiban. Dimana sepertinya saat ini saya dibawa kepada ranah, yang adalah hak dan kewajiban saya untuk ikut membantu usahanya yang roboh karna kecelakaan.

Saya tidak bilang itu musibah. Lantaran kehilangan modal usaha yang terjadi kala itu sepenuhnya adalah kelalaiannya. Saat itu saya tergerak membantu dengan bentuk penanaman modal. Investasi selalunya berorientasi pada profit. Modal hanya akan ada untuk sesuatu yang menguntungkan. Itu adalah hukum baku dunia bisnis, yang baru secuil pula saya pahami.

Makin tersudut, terkoyak dan merasa bersalah adalah celoteh teman saya yang sotoynya bukan kepalang. “Bantulah orang susah! Maka orang susah tersebut akan selalu ingat pada kita. Terutama kalau sedang susah!”

 

Bayu Sahaja



Share ke teman anda

Comments

0 Bayu Sahaja 2012-07-18 10:32 #6
Quoting udadennie:
Kalau mau Investasi jangan lihat untungnya...........lihat ruginya dulu :lol: . apalagi zaman sekarang, banyak program investasi dengan iming-iming bunga menggiurkan :-) ................


Siap Master Dennie. Akan selalu mencari kerugian pada setiap peluang investasi ke depannya. Salam.
0 udadennie 2012-07-17 12:59 #5
Kalau mau Investasi jangan lihat untungnya...........lihat ruginya dulu :lol: . apalagi zaman sekarang, banyak program investasi dengan iming-iming bunga menggiurkan :-) ................
0 Bayu Sahaja 2012-07-15 12:50 #4
Quoting Erwin Syahril:
:D. Naas sekali investasi seperti uraian tadi pak. Ini membuat kita berfikir berulang kali sebelum bertindak. Sajian yang bermanfaat pak Bayu.


Terimakasih Erwin. Senangnya hati dikunjungi.
0 Erwin Syahril 2012-07-15 09:26 #3
:D. Naas sekali investasi seperti uraian tadi pak. Ini membuat kita berfikir berulang kali sebelum bertindak. Sajian yang bermanfaat pak Bayu.
0 Bayu Sahaja 2012-07-12 10:56 #2
Quoting andreas-messah:
luar biasa,...dapat pelajaran berharga soal investasi. Sekarang ini sulit membedakan madu dan racun..ada juga baygon bau lemon...iiiihhh ini musti dibahas tuntas dan pencerahan oleh master Bayu :o


Siap Ketua. Ini juga hasil diskusi malam-malam kita dulu. Saat sedikit-sedikit Ketua kasih wejangan soal hati-hati. Terimakasih kunjungannya... :-)
0 andreas-messah 2012-07-12 09:03 #1
luar biasa,...dapat pelajaran berharga soal investasi. Sekarang ini sulit membedakan madu dan racun..ada juga baygon bau lemon...iiiihhh ini musti dibahas tuntas dan pencerahan oleh master Bayu :o

 

 

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja