Ini sebuah cafe tepi jalan. Kursi-kursi dan meja disusun berderet pada sisi kiri dan kanan jalan. Lokasinya di deretan belakang blok ruko-ruko. Sebagai bukan jalan utama, jarang sekali mobil lewat di sana kecuali tujuannya memang ke cafe ini. Lampu-lampu ditata bukan demi suasana remang. Sedikit terasa terang yang tidak terlalu
menyilaukan.
Di tiap sudut ada televisi layar lebar. Sehingga kemanapun arah duduk akan tetap bisa menatap layar televisi layar lebar tersebut. Tepat di depan ruko, melalui proyektor berkualitas bagus yang disorotkan pada tembok putih dinding ruko seberang jalan. Tersaji besar siaran televisi pilihan.
Malam itu kebetulan ada pertandingan bola. Dua kesebelasan idola bertanding seru. Sehingga riuh rendah celoteh dan teriakan komentar pengunjung pemberi semangat yang tidak mungkin didengar oleh team kesebelasan yang dijagokannya.
Inilah kemeriahan malam malam minggu yang baru terlihat ketika kita menyusuri jalan belakang ruko-ruko yang tutup di waktu malam. Kemeriahan ini tidak terlihat dari jalan utama. Pengunjungnya banyak. Pria dan wanita nyaris seimbang jumlahnya. Banyak juga orang asingnya. Pada sela-sela keriuhan itulah, saya mendapat nesehat mahal dari seorang sahabat.
Katanya teman itu ada tiga jenis. Ada yang seperti filter, batre dan jamur. Begitu sahabat saya mengingatkan. Diibaratkan kaitannya dengan kamera saat melakukan pemotretan. Ada teman yang seperti filter. Keberadaannya tidak selalu dibutuhkan.
Teman jenis filter kita butuhkan pada saat-saat tertentu. Dimana kondisi pencahayaan demikian sulit. Kita kerap menghadapi situasi kontras yang senjangnya demikian kentara antara bidang terang dan gelap. Pada kondisi seperti itulah filter kita butuhkan. Dia mampu mengisi ruang-ruang dimana kita sedang butuh kehadirannya. Bahkan ada filter jenis gradual neutral density.
Filter ini punya bagian terang dan gelap sekaligus. Kita memanfaatkan bidang gelap untuk menutupi area yang cahayanya melimpah. Sedang bagian netralnya kita tempatkan pada area yang kurang tercahayai. Fungsinya menyeimbangkan. Intensitas cahaya disaring supaya terjadi kesesuaian antara bidang terang dan gelap.
Ada juga teman yang seperti batre. Teman jenis ini selalu kita butuhkan. Seperti kamera yang tidak bisa kerja tanpa daya. Dia memberi energi daya hidup kepada kita. Ketika semua peralatan memotret sudah lengkap dibawa dalam tas untuk kegiatan memotret. Namun kita alpa membawa batre. Maka sia-sialah rencana memotret tadi. Apalagi lokasinya jauh dari toko tempat menjual batre tersedia.
Teman jenis ini punya daya untuk membuat kita semangat bergeliat demi selalu bangkit ketika dunia berupaya menundukkan kita. Bahkan para profesional menyarankan untuk punya cadangan untuk perlengkapan yang satu ini. Paling terakhir adalah teman jenis jamur. Sejatinya jamur bukanlah bagian dari kebutuhan memotret. Kecuali barangkali dijadikan sebagai obyek fotonya.
Teman jenis jamur adalah musuh dari peralatan memotret. Jamur ibaratnya penyakit, teman jenis ini selalu saja mencari tempat. Tiap ada kesempatan. Minimal tempat lembab. Maka dia akan bersemayam dan nyaman. Sudah pasti kita tidak butuh kehadirannya. Kita benci ketika ada jamur di lensa kita. Kita berupaya menghalaunya. Namun hati-hati. Karna teman jenis jamur punya cara menyelinap demikian halusnya untuk menurunkan kualitas prestasi kehidupan kita. “waspadalah-waspadalah!” teman saya menyambutnya dengan ekspresi lucu.
Siapa pula yang mau berhubungan dengan jamur atau parasit. Jenis jamur ini akan terus saja mencoba dekati kita. Dusta dan dukungan ke arah salah dikemas sedemikian rupa demi tertanamnya akar parasit. Dengan cara-caranya yang mungkin membuat kita nyaman awalnya. Cari tempat dengan pujian. Membela, bahkan mendukung langkah salah kita. Memberi puja puji palsu yang akhirnya membuat kita terbenam atau jadi badut lucu bahan tertawaan orang. Saya tercenung. Terdiam. Menerka-nerka dalam hati. Saya itu jenis yang mana.
Dengan penampilan saya yang banyak gaya dan sok punya. Telah lama saya buta akan arti dan keberadaan teman sejati. Nyaris tidak pernah dibantah. Semua seolah mendukung tingkah polah saya. “Kalau lagi punya, siapa sih yang tidak mau dekat?” Celoteh teman saya suatu ketika. “Seperti ungkapan lama, ada uang abang disayang tiada uang abang ku tendang!” Memang banyak orang yang kerap lupa soal ini. Ketika ada di atas, semua tersedia dan apalagi semua serba berlebih-lebih adanya. Maka umumnya yang di bawah menengadah. Jarang ada yang berani mengingatkan langkah kita yang salah jalan.
Dilingkupi oleh pergaulan yang penuh teman tipe jamur. Maka lengkaplah gelap gulita cara pandang kita. Rabun akut. Sulit melihat secara jernih terhadap tiap perkara yang ada. Ketika kita punya rencana atau karya. Para jamur menyelimuti cari muka. Menyelinap dan menebar virus, dibungkus pesona saran dan masukan yang ujungnya menjerumuskan. Disana akhirnya si jamur menuai hasil yang sudah pasti adalah pribadi dirinya yang tampil.
Saya adalah jenis yang gampang terbuai. Butuh berkali-kali kena sengatan jamur untuk bisa sadar diri dan berubah. Itu pun perubahan yang sifatnya sangat sementara. Karna kembali dan kembali lagi. Layaknya keledai, saya selalu terperosok pada lubang yang sama.
Terkadang untuk amannya butuh rekayasa dan sandiwara. Seorang teman mahir sekali melakukannya. Dia selalu tampil lusuh seolah-olah susah. Pura-pura dungu padahal cerdik. Pada tiap kesempatan diskusi, kuping selalu tegak tajam berdiri menyimak tiap-tiap kata pembicaraan. Merekam semua ide yang terucap kemudian senyap melesat kembali asyik bereksplorasi sendiri. Tanpa pernah berminat membangunkan teman lainnya.
“Kalau lo tidak perlu pakai acara bersandiwara!” Teman saya sewot melotot ke saya. “Lo itu, sudah produk asli dari sononya. Jahitan kumal dan potongan dungu. Jadi gak usah lebay!” Saya tersudut dan senyum kecut. Bagi saya, lebih mudah pura-pura pintar dari pada berpura-pura dungu. Rasanya lebih pantas bergaya kaya dari pada pura-pura miskin.
Saya juga diingatkan oleh sahabat. Bahwa hubungan saya dengan seorang teman yang kini dekat dengan saya itu ibarat lensa dan filter. Hubungan keduanya ditambah kemahiran tertentu dalam penggunaannya, maka niscaya akan menghasilkan karya-karya foto yang istimewa. Kaya warna sekaligus ramah pada mata. Tidak ada warna yang tampil terlalu ketika tepat mengkombinasikan filter pada lensa. Ramuan paduan warna indahnya terasa harmonis dan nyaman di mata.
Tentu saja dalam
penggunaannya filter akan dipasang demikian dekat dengan lensa. Umumnya ada ulir tersedia pada tiap moncong lensa. Atau dibutuhkan juga sejenis alat, holder yang bisa mendekap filter pada sisi-sisinya. Sehingga terpasang cukup dekat dan berguna sesuai fungsinya. Namun sudah pasti semua tahu, bahwa filter jangan sampai menyentuh permukaan lensa. Terlalu dekat hingga terjadi gesekan antara keduanya beresiko fatal.
Jika permukaan lensa tergores, maka tuntaslah invenstasi kita itu. Harus ada jarak berupa sekat. Seperti pada rancangan tas kamera. Ada ruang-ruang yang gunanya untuk menjaga peralatan kamera yang sensitip tersebut tidak saling berbenturan.
Begitulah diibaratkan hubungan perkawanan saya saat ini dengan seseorang. Sangat mungkin kita untuk dekat dalam hubungan pertemanan dan menjalin hubungan saling menguntungkan. Namun harus diatur jarak tertentu. Sehingga jalinan pertemanan itu tetap berada pada jarak yang aman.
Kedua belah pihak harus dengan sadar dan punya kemauan mengatur irama hubungan dalam pertemanan. Supaya tidak terjadi gesekan yang berakibat rusaknya kedua belah pihak. Teringat nasehat sahabat dekat, “janganlah kamu terlalu sering datang ke rumah sesama mu. Sehingga nanti dia bosan lalu membenci mu.”
Bayu Sahaja






Comments
Terimakasih kunjungnnya Master Erwin.
RSS feed for comments to this post