Sudah seperti disepakati. Trend fotografi makro itu, melulu tentang bagaimana memotret serangga. Selain ukurannya mini yang ideal direkam dengan lensa makro. Tingkah laku serta detail serangga, punya daya tarik yang dirasa penting untuk diungkap. Apalagi ketika berhasil merekamnya saat serangga tersebut sedang makan, kawin atau terbang. Ada sensasi kepuasan terpenuhi ketika di layar monitor. Sang fotografer melihat hasil foto setajam silet dengan cahaya dan warna indah.
Dapat kita lihat bersama. Betapa pada situs-situs penggemar fotografi. Dimana tersedia halaman khusus penggemar foto makro, selalu ramai. Keberhasilan memotret serangga tertentu oleh orang tertentu akan diikuti oleh rentetan foto-foto berobyek sama pada waktu tidak terlalu lama. Trend soal teknik, komposisi ataupun olah warna tertentu akan segera menular pada fotografer lainnya. Begitulah riuh rendah semaraknya dunia fotografi masa kini. Dimana ketersambungan internet adalah hal yang lumrah. Corak dan seni fotografi jadi makin mudah dicontek. “Kata halusnya di ATM,” sambut teman saya. Lalu lanjutnya, “Amati, Tiru dan Modifikasi.”
Sontak! Beberapa waktu lalu ada rekan fotografer makro yang kelihatannya punya kepedulian terhadap serangga berstatement. Bahwa memotret makro serangga harusnya begini, soal warna dan pencahayaannya juga harus begitu. Fotografer fenomenal ini berupaya membakukan tata cara berkarya melalui fotografi dengan baik dan benar. Saya kebetulan ikutan pelatihan tersebut. Saya merasakan apa yang coba dikampanyekan adalah ajaran yang tidak baik sekaligus bukan hal buruk. Pastinya dengan gamblang sang pembicara menyampaikan sesuatu yang tidak masuk akal.
Bagaimana mungkin berkesenian melalui fotografi hendak dibakukan dengan penilaian benar dan salah. Gayung bersambut. Sehingga terjadi polemik seru, bahkan sempat terjadi forum yang isinya soal klarifikasi yang buat saya tidak jelas juga maksudnya. Buat saya, forum itu hanya semangat gaet popularitas demi tujuan dagang sepertinya. Layaknya langkah bersensasi demi populernya goyang ngebor, goyang gergaji, goyang ngecor, patah-patah dan terakhir ini goyang bebek atau itik. “Sayangnya yang memberi saran bagaimana memotret serangga itu manusia!” Ujar teman saya serius, “coba kalau serangga yang bicara sendiri tentangnya. Pasti akan lebih banyak hal-hal yang terungkap!” Lanjutnya konyol.
Hingar bingar hobi berfotografi demikian merasuki pelbagai khalayak. Tidak pandang usia. Tua ataupun muda, semua merasa wajib menenteng kamera. Industri kamera, lensa dan pernak-perniknya sangat jeli memanfaatkan ini. Produk-produk terus dicipta tiada henti. Perubahan letak tombol dan nomor seri pada kamera sudah merupakan langkah maju. Wajib dibeli dan membuat produk lama kontan jadi kuno. Pada sisi lain, tak ayal banyak orang sikut-sikutan jadi pembicara. Semuanya promosi dan kampanye cari tempat dan dukungan. Mengupas tuntas teknik-teknik fotografi. Ini akan dikemas dengan teknik belajar kilat. Layaknya layanan ketok magic pinggir jalan. Satu hari langsung bisa. Bisa bingung. Lantaran setelah uji coba pasca ikutan pelatihan singkat tersebut. Hasil foto tidak kunjung mirip dengan karya sang pembicara.
Model pelatihan macam-macam kemasannya. Baik mengenai cara memotret pemandangan, model, arsitektur, makanan, art-nude, barang produk dan juga serangga. Ini adalah hidangan yang laku keras. Tidak peduli soal pesertanya sudah mengerti teknis dasar kerja kamera atau belum. Terpenting bagi panitia dan pembicara adalah pencapaian jumlah peserta yang banyak. Demi meraup laba dan sensasi puas bagi sang pembicara, selaku fotografer sekaligus selebritis, terpenuhi. Sebagai terapan politik dagang. Jangan heran bila sang pembicara sibuk cari sensasi. Entah itu sebuah rencana atau bukan. Yang pasti ada upaya-upaya menarik minat peserta dilakukan. Celoteh guna meraih sensasi ditebar. Gembar-gembor yang lalu dikipasi biar menyala. Supaya semua orang menoleh kesana. Tergerak untuk ikutan belajar.
Itulah gempita maraknya dunia fotografi. Ajang promosinya terkadang keterlaluan. Hingga menyinggung menyakiti banyak orang. Walau teknik melontarkan sensasi tidak menyebutkan nama ataupun inisial. Tetap dan selalu, ada orang yang merasa terkena tembakannya. “Di jaman gombalisasi ini, memang makin sulit membicarakan orang di belakangnya.” Teman saya menyimpulkan. “Jejaring sosial itu makin terbukti anti sosial!” Tambahnya.
Era digital membuat berkesenian melalui jalur fotografi jadi seperti mudah. Produk fotografi masa kini seperti menganjurkan untuk melupakan proses. Produk kamera semakin pintar. Bahkan pilihan auto pada kamera menjanjikan hasil sempurna. Tugas kita sebagai fotografer hanya tinggal niat saja. Asal mau pencet tombol rana saja, taraaaaa, seketika sebuah gambar tercipta. Bisa jadi kita sendiri pemotretnya bingung. Entah itu gambar apa. Tapi bukankah situs fotografi terkenal juga menyediakan ruang buat foto-foto abstrak.
Disanalah fotografi tampil jadi hobi baru yang istimewa. Karna soal hasil karya kita adalah karya seni yang mutlak. Dimana esensi penilaian bagus tidaknya sangat tergantung selera kita. Begitu pribadi. Fotografi era digital memungkinkan hanya kita yang tahu betapa banyak karya-karya gagal yang kita sembunyikan atau hapuskan. Seperti permainan solitaire yang hanya butuh pemain tunggal dan bisa asyik sendirian. Kemudian dengan pongah kita gembar-gemborkan sedikit foto berhasil yang mungkin saja kemudian kebetulan meraih gelar juara pada ajang lomba foto yang buta. Semua itu sah-sah saja. Sebab itu merupakan bagian dari proses tangga kehidupan yang manusiawi.
Kesadaran hanya akan tercapai pada titik tertentu. Bukan lantaran dewasa titik itu dipahami. Namun pada tingkat dimana kesadaran tentang tujuan berfotografi dilakukan. Kita kerap menjadi lupa tentang proses. Tidak akan ada seniman satu malam seperti halnya lagu cinta satu malam. “Terlalu banyak orang yang berkarya, berkesenian melalui fotografi hanya demi bersaing, untuk capai prestasi ataupun mengalahkan orang lain.” Ujar teman saya santai dan lanjutnya, “kalau tujuannya itu, lalu dimana letak nikmatnya?” Pertanyaannya menyadarkan saya yang selama ini asyik sibuk motret tiru-tiru karya orang.
Sejatinya dalam fotografi tetap halal rasanya jika kita melakukan praktek ATM. Amati, tiru dan modifikasi. Dengan cara dan proses ini dunia fotografi menjadi semarak. Sesama penikmat seni fotografi saling bertukar ide dan teknik melalui karya-karya yang disajikan melalui situs khusus fotografi ataupun jejaring sosial. Ketika ada yang merasa ide dari karya fotonya dicuri. Sesungguhnya itu bukanlah pencurian. Saya lebih setuju menyebutnya peminjaman ide. Sebab kebanyakan obyek-obyek pemotretan adanya di
alam dan tidak akan hilang lantaran proses pemotretan.
Selalu ada perbedaan dari setiap pemotretan. Sekalipun itu merupakan pemandangan yang sama dan difoto pada waktu yang sama pula. Selalunya ada yang beda. Baik itu sudut bidik, komposisi ataupun warna ketika tersaji sebagai sebuah karya foto. Banyak orang yang bawa referensi majalah ataupun karya foto orang lain ketika berburu foto pemandangan. Mereka berupaya mencari dimana sang fotografer terdahulu meletakan tripotnya. Upayanya adalah menyamai karya foto referensi tersebut.
Tidak perlu malu. Jika kondisi pemotretan mendukung. Kita boleh bangga. Ketika berhasil membuat foto yang nyaris sama. Bahkan tidak perlu mengatakan bahwa foto tersebut hasil dari meniru foto si ini atau si itu. Cukup diam-diam saja. Sebab nantinya semua orang juga akan tahu dan tidak akan juga membahasnya. “Mas tidak usah membuat pembenaran soal urusan nyontek!” Sambut sahabat saya. Saat itu saya berargumen soal ATM. “Dari jaman masih sekolah saya sudah tahu kalau situ hobinya nyontek!” Ujarnya ketus.
Bayu Sahaja





