Saya merasa jadi orang yang paling bertanggung jawab dalam urusan menularkan, merasuki pikiran teman-teman penghobby fotografi soal kriteria cantik.
Sehingga kini di kalangan teman-teman, tercipta satu asumsi bahwa cantik itu adalah putih, berambut lurus, kulit halus, tinggi plus badan kurus. Tentu saja gambaran ini selalu saya wujudkan pada acara hunting bersama yang selalu saja menyertakan model-model halus mulus sesuai kriteria diatas.
Semangat saya dalam memilih, menyediakan model foto untuk konsumsi kamera saat hunting bersama, selalu sesuai dengan gambaran diatas. Pilihan atau selera ini, bukannya tanpa dasar penelitian, ataupun pengamatan yang asal-asalan.
Pernah juga dengan semangat selalu ingin mencoba, saya nekad menghadirkan model foto berbeda dari gambaran diatas. Suatu ketika, panitia hunting foto dengan konsep sporty at the beach, menugaskan saya untuk mencari tiga model untuk suksesnya acara tersebut.
Model pilihan saya tentu saja sudah tidak perlu disangsikan lagi. Putih, rambut lurus, tinggi, mulus, tidak berkawat gigi, kalau bisa wajah dan gaya bicaranya berbau indo dan langsing pastinya. Namun sebagai manusia normal yang punya semangat mencoba saya menyelipkan 1 dari 3 model yang harus saya sediakan. Satu ini manis, saya memperhatikan di halaman facebooknya. Namun tidak putih dan rambutnya keriting ikal bergelombang. “Ah, ini sangat fotogenic bagus dibacklight dan juga buat variasi”, begitu batin saya.
Pada saat acara berlangsung, mengingat jumlah peserta yang membludak, panitia terpaksa membagi 3 kelompok. Maklum saja, fotografer pria mana yang tidak suka acara hunting model di pantai. Pasti semua peserta yang ikut membayangkan dan mengharapkan bisa ngintip di viewfinder kamera, adegan basah-basahan nan menerawang dari pakaian bikini atau baju renang, 2 piece swimsuits.
Tidak usah berpikir porno. Ini pada tempatnya, pantai gitu lho! Dalam kehebohan acara motret bersama tersebut, yang lebih mirip ajang pamer alat-alat fotografi mahal itu. Terbukti! Bahwa peserta hanya sibuk mengejar memburu 2 model cantik versi saya tersebut. Dan mengabaikan 1 model pilihan uji coba nekad saya.
Sehingga adalah nasib saya, ketika banyak peserta yang marah dan mencibir selera saya yang dianggap payah. Bahkan ada seorang fotografer hebat yang mengaku trauma. Lantaran ada model yang tidak sesuai dengan selera dan kriterianya. Saat itu, selesai acara, kepada panitia dan beberapa peserta yang meradang kecewa, saya mohon maaf lantaran nekad coba-coba bawa model di luar kriteria cantik yang biasanya. "Lain kali pilih yang bener ya Mas! Gak usah coba-coba selera kami yah!" Pesan ketua panitia hunting foto bersama itu.
Harus saya akui, bahwa memang ada pergeseran selera dan kriteria soal bagaimana namanya cantik itu. Pada beberapa perjalanan yang kebetulan mengunjungi situs-situs kuno saya sedikit bisa belajar. Pada relief candi, bentuk patung serta lukisan jaman klasik, terbersit bahwa gambaran catik di jaman dahulu dan jaman sekarang ini mengalami banyak pergeseran.
Saya menyaksikan bahwa pada jaman klasik, wanita digambarkan lebih gemuk berisi ketimbang pria. Peninggalan jaman dulu menggambarkan pria dengan bentuk yang langsing terkesan gesit. Di jaman kini, justru kebalikannya. Wanita terlihat kurus, tinggi, kurus, rambut lurus plus riasan pipi merah merona seperti habis ditabok, menggandeng pria gemuk atau buncit, yang biasanya tidak porposional. Kata Pak Samad, yang mengantar saya berkeliling Candi Borobudur saat itu, “wanita gemuk dengan dada berisi dan betis gempal bak tales Bogor lebih disukai pada era itu. Sebagai gambaran dan lambang kesuburan”.
Sedikit banyak saya terpengaruh juga dengan pendapat Pak Samad yang rasanya masuk akal kala itu. Dia banyak cerita tentang hiasan relief di sekeliling candi Borobudur. Kami bergurau dan bertukar pikiran santai soal gambaran cantik menurutnya dan menurut saya.
Sekali lagi harus saya akui, pikiran saya nyaris tertukar dengan pikiran Pak Samad sang pemandu wisata candi Borobudur. Ternyata saya ini jenis yang goyah. Selera dan pendapatnya bagai kentut yang tidak jelas. Seperti ujung-ujung pohon cemara yang selalu ikut kemana arah angin bertiup.
Ketika alam mencipta begitu banyak bentuk dan jenis. Demikian beragam ras dan suku bangsa. Sepertinya tidak mungkin kita menyeragamkan selera semua umat manusia di muka bumi ini, dengan satu pendapat yang sama dari kata cantik. Selera saya yang pongah ini tentu bebas berpendapat bahwa cantik itu, kulit putih bersinar, tinggi, berambut lurus, tidak berbulu, kurus dan pipi merah merona alami yang bukan seperti habis kena tabok.
“Ini seleraku, apa seleramu? Saran saya, bagi anda yang seleranya, pastinya lebih tinggi dari saya, jangan ikut-ikutan dong!” Ujar teman saya kocak. “Silahkan berekspresi sendiri! Tentukan selera dan kriteria kalian tentang apa itu cantik!” lanjutnya. Saya memilih diam. Sambil buka-buka majalah yang memuat foto-foto model dunia. sebagai ritual belajar dan acuan dalam mengarahkan pose model-model foto berikutnya.
Rasanya memang, selera saya banyak dibentuk oleh terpaan media. Baik itu media masa cetak ataupun media televisi. Media-media itu semangat sekali nyaris tanpa henti. Sedari pagi, siang, malam hingga pagi lagi, terus saja menerpakan, menularkan melalui iklan-iklan dan berbagai tayangan tentang gambaran cantik.
Iklan kecantikan berkampanye besar-besaran demi cantik harus gunakan sampo yang menjamin rambut jadi lurus, bercahaya dan hitam mengkilat. Iming-iming jadi cantik tersebut dilengkapi dengan bintang iklan selebritis terkenal. Sehingga kontan si mbak yang bantu di rumah merengek minta dibelikan sampo tersebut, ingin jadi cantik. Walau mustahil. Karna rambutnya sedari lahir adalah ikal keriting kecil-kecil.
Iklan pemutih kulit dan wajah, gembar-gembor menayangkan tentang menariknya
kulit putih merona yang bisa membuat para bidadari pada sirik kesurupan dan lupa pulang ke kayangan lantaran sibuk beri tanda tangan dan dikejar-kejar penggemar. Ada juga iklan pelangsing tubuh yang menjamin lemak membandel di tubuh kita lenyap tuntas dalam semalam.
“Eh, kalau kamu pakai saja Mama Lemot, sabun cuci piring itu”. Temanku menyarankan serius, “untuk apa?” Tanya saya penasaran. Lalu jawabnya, “gunakan sabun itu untuk usap-usap, menyabuni perut kamu itu!” katanya tertawa menghina sambil menunjukan iklan sabun Mama Lemot di salah satu halaman majalah.
Tertulis disana dengan cetak merah nan besar, “Terbukti Mampu Mengusir Lemak Membandel!!!” Saya tidak tertawa dan tidak juga ingin mencoba saran gila teman saya ini. Walau dalam hati saya sedikit frustrasi dengan buncit yang makin sulit saya tutupi.
Semua orang merasa harus ada perbedaan demi indahnya dunia. Namun kalau urusan cantik, mereka merasa paling bijak, up to date dan bangga kalau seleranya sesuai seragam dengan iklan yang beredar. Begitulah, pendapat disemua kepala soal cantik jadi kian seragam. Tentu saja ini semua gara-gara iklan dan orang seperti saya yang selalu nekad berkampanye dan sebagai korban iklan, lalu sibuk menebarkan selera sama rata soal cantik itu apa dan bagaimana.
Saat pulang kerumah, ada yang yang menanti. Walaupun sudah punya anak tigapuluh tiga, namun masih cantik dan akan tetap cantik. Memang rambutnya hitam legam. Namun dia memang cantik! Sedari kecil sudah begitu. Sering saya menatap anjing rotweiller betina yang sudah tiga setengah tahun usianya ini. Saya kerap merasa dia menyambut dengan senyum manisnya ketika saya mendekat padanya. Dia adalah makhluk penjaga dan kesayangan di rumah saya. Tidak heran jika sekeluarga sepakat memberinya nama dan memanggilnya, “Cantik”.
Bayu Sahaja






Comments
Pojokan selalu indah. Apalagi dengar samar senandung, "jangan pergi lagi". Cerdas sekali sudut bidik komentarnya! Terimakasih Bang Irwan...
Mas, Ijin larut juga dalam penjabaran perspective "cantik", memang pada akhirnya kita meng-alamatkan satu kata ini pada kesimpulan / akhirnya; setelah melewati opini sejagat, ( Awam, Media, social ), Self perspective, Realita, namun disaat kita duduk disudut (Pulang), maka siini terbesit kesimpulan akhir bahwa "ternyata" dia /itu/ "cantik" rupanya ya..IMHO
Salute..
Hehehe, Biar bungkam gak bisa berargumentasi lagi mereka berdua.
RSS feed for comments to this post