Saat ini saya merasa berada pada puncak cengkeraman sensasi keindahan masa lalu. Segala kejadian masa kini, terus saja saya refleksikan pada kisah-kisah indah usia remaja.
Tidak seperti kala remaja dulu. Sepertinya kehidupan yang saat ini saya jalani penuh dengan ketegangan.
Sementara dulu itu, semua masalah dan kegiatan santai saja menjalaninya. Di mana kesannya semua ceria, tiada masalah dan tanpa beban untuk melakukan apa saja.
Nyaris yang mampu saya ingat hanyalah yang indah-indah saja. Sepahit-pahitnya kisah kala remaja dulu, tetap saja punya sisi yang mampu membuat kita tertawa mengenangnya. Kerinduan sensasi masa lalu semakin menjadi-jadi dengan hadirnya teknologi ketersambungan seperti Facebook, Twitter dan Blackberry.
Dengan jalinan ketersambungan itu, sempurnalah kenangan indah masa-masa dulu hadir mengemuka. Keberadaan jejaring sosial yang punya kemampuan menembus batas ruang dan waktu, membuat teman-teman masa lalu yang berada jauh menjadi demikian dekat. Lengkap dengan segala persoalannya yang selalu saja punya cara untuk menyita perhatian dan waktu kita.
Itu semua hadir sambung menyambung tiada henti. Sebab yang saya hadapi di sini tentu saja berbeda dengan apa yang dihadapi teman lama saya di sana. Sekedar bertukar informasi, berbalas lelucon, berbagi duka lengkap dengan gambar-gambar yang mengorek duka nestapa ataupun mengungkit tawa.
Pada akhirnya saya merasa terjebak pada semangat romantika kegembiraan serta keceriaan masa-masa dulu. Dengan gemilang, segala bentuk jejaring sosial tersebut mampu menjauhkan keberadaan saya pada orang-orang dekat. Pada saat yang sama fasilitas jejaring sosial tersebut dengan perkasanya mampu mendekatkan orang-orang yang jauh. Fisik saya saja yang selalu hadir di tengah-tengah keluarga atau teman dekat.
Namun pikiran saya kerap melayang jauh di seberang lautan. Seperti punya daya magnet yang begitu kuat untuk menarik, menyita waktu dan perhatian saya. Pada suasana duka saya bisa saja tertawa-tawa atau mesem-mesem kecil demi membaca lelucon kiriman teman. Atau pada saat semua gembira, saya justru termehek-mehek menangis di pojokan. Lantaran terharu membaca kisah sedih yang dikirimkan teman via BBM.
“Tapi asyik lho, Sejak ada Facebook kita jadi ketemu dengan teman-teman lama. Dua minggu lalu saya reuni SD, Minggu kemarin reuni SLTP, Minggu ini rencananya reuni SLTA dan Minggu depan kumpul-kumpul alumni.” Teman saya ceria cerita kesibukannya.
Kini pemandangan di mana saja dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk dengan gadgednya. Di restoran, di kendaraan, di ruang tunggu, pada acara rapat, ruang tamu, ruang keluarga serta beragam tempat-tempat lainnya, diwarnai oleh orang-orang yang sibuk sekali dengan gadgednya.
Kita lucu ada yang sempat-sempatnya ketik gadged ketika waiter sudah menunggu dengan pena dan notes untuk menuliskan pesanan. Padahal kehadiran waiter tadi sesuai dengan panggilan kita. Tapi apa boleh buat. Pada saat yang sama gadged memberi tanda ada pesan baru yang masuk.
Maka dengan sambil senyum-senyum kita wajib membaca pesan tersebut dahulu dengan membiarkan si waiter berdiri disisi meja dengan wajah geregetan plus ekspresi wajah tidak sabarnya. "Biarkan saja, kan tugas waiter memang menunggu begitu," kata seorang teman saya pongah. "Kita pembeli adalah raja!" lanjutnya dengan ekspresi dan sedikit memiringkan kepala untuk meyakinkan saya mengenai pendapatnya. Saya diam saja.
Terlebih menyebalkan ketika melihat orang yang sudah tiba antrian pada saat di depan kasir. Kebetulan saat itu saya berada di belakangnya. Bukannya menyiapkan diri untuk buka dompet dan bayar sesuai angka yang tertera di display kasir, orang tersebut, dengan centilnya malah sempat-sempatkan diri untuk berbalas BBM. Bahkan tertawa tergelak-gelak demi membaca pesan kocak yang baru masuk. Ketika sang kasir mengingatkan dengan sopan, sambil melengos tidak suka dan tanpa rasa bersalah sedikitpun orang centil tadi baru memulai aktivitas wajib bayarnya.
Tentu saja tetap sambil tidak fokus, karna masih juga ketawa-ketiwi geli akibat BBMan kocak yang barusan dibacanya. Ingin murka rasanya ketika di lampu merah ada mobil yang tidak juga mau jalan saat lampu sudah hijau, lantaran sang sopir masih sibuk BBMan, dan ketika sadar situasi lantaran kendaraan lainnya sibuk klakson. Mobil tersebut berniat jalan. Namun sayang beribu sayang, lampunya sudah merah lagi.
Sudah pasti apa yang di baca atau diketikan untuk dikirimkan adalah suatu pesan yang berani jamin, tidak penting-penting amat! Terbentuklah satu budaya baru yang intinya tidak menghargai sesama. Tidak memperdulikan orang lain. "Mari kita foto dulu hidangan ini sebelum kita santap," teman saya memotong pembicaraan, menyambut sajian makan siang hari itu dengan gembira.
Sambil menyiapkan Blackberrynya. Menyusun hidangan di meja itu dengan gaya maestro food designer. Lalu memotret hidangan ayam goreng kalasan kesukaan, kemudian seperti biasa mengirimkannya pada grup BBM yang ada.
Sontak gadgednya jadi ramai berbunyi dan lampunya kerlap-kerlip meriah. Memberi tanda ada pesan masuk atau tanggapan dari kiriman fotonya barusan. Siang itu kami memang janjian makan siang bersama, menyantap hidangan restoran ayam goreng Kalasan istimewa ini. Sejenak kemudian kami senyap berkeringat semangat menyantap ayam goreng nikmat dicocol ke cobek sambal nan pedas.
Umumnya kita semua terkesan dengan segala kisah kala remaja dulu. Bagi yang sudah tidak remaja lagi, pasti punya kenangan tersendiri jika teringat masa-masa itu. Saat dimana kita demikian bahagia jalani kehidupan. Kebanyakan melakukan semua aktivitas tanpa beban. Karna soal biaya biasanya sudah ada yang berkorban menanggungnya. Sehingga mental tinggal minta dan apa-apa mau tersedia umumnya sudah biasa.
Kebanyakan di usia itu semua kita sibuk urusan sekolah. Beban sekolah yang tidak terlalu, dimana standarisasi Ujian Nasional yang meresahkan itu belum terpikirkan. Kala dulu para pemimpin negara yang iseng itu belum terpikir untuk membebani para pelajar dengan satu standarisasi ujian.
Kini Ujian Nasional punya aturan kesamaan. Kebijakan tersebut berdasar pemikiran dari pikiran para pimpinan kita, bahwa apa yang dihadapi oleh pelajar di pelosok Indonesia itu sama dengan apa yang dihadapi pelajar kota Jakarta. Bahwa persoalan yang dihadapi sekolah yang berada di daerah terpencil itu sama saja dengan masalah yang dihadapi pelajar mewah di sekolah unggulan. Daerah pertanian, desa nelayan, daerah penghasil tambang dan kota metropolitan harus sama sama saja pelajarannya. Semuanya harus standar.
“Toh semua pelajar-pelajar itu akhirnya harus juga ke Jakarta kalau mau sukses. Kemana lagi kalau tidak ke kota-kota besar untuk melanjutkan sekolah atau mencari pekerjaan yang standar sesuai pendidikan standar itu?” Teman saya menjelaskan seperti paham sekali kebijakan Ujian Nasional itu. Saya memilih diam saja. Sambil terus sibuk BBMan dengan teman Sekolah Dasar dulu yang kini tinggal nun jauh di seberang lautan.
Bahkan kini, kerap emosi saya terpaut dengan situasi kondisi yang terjadi di BBM group yang ada. Ketika situasi disana menyebalkan. Maka spontan suasana hati saya segera tertular. Jika ada komentar terhadap sesuatu foto atau joke yang tidak sesuai dengan harapan saya. Maka emosi segera membludak. Tumpah ruah pada orang-orang sekitar yang pastinya heran tiada habisnya. Bagaimana mungkin saya terkadang bisa senyum, ketawa-ketiwi dan cekikikan sendiri ataupun muram durja hanya lantaran berhadapan dengan gadged saja.
Suatu ketika bahkan saya merasa adalah orang yang paling menderita di dunia ini. Melihat status semua teman yang gembira. Ada yang asyik-asyik
traveling. Apalagi foto-foto yang dikirimkannya adalah daerah yang merupakan impian saya sejak lama. Ada yang statusnya mengumbar semangat tentang sensasi buka usaha yang baru dirintisnya.
Sementara, saya terpuruk di sini dengan tanpa ada rencana apa-apa. Terkukung dengan urusan kerja dan masalah domestik semata. Semua kesibukan rutin harian itu seperti menerjang saya tanpa henti. Sehingga begitu sulit rasanya lepas dari persoalan-persoalan tersebut.
Bagaimana mungkin ada orang yang demikian bisa menikmati hidupnya. Apakah mereka tidak punya masalah seperti yang saya hadapi. Ataukah mereka hanya pandai menutupi persoalan yang dihadapinya. Sehingga yang nampak di permukaannya hanya kegembiraan, keceriaan dan kenyamanan saja.
Sepertinya tidak juga. “Bukankah masalah hanya akan berakhir ketika kita sudah mati?” Tanya teman saya linglung memotong lamunan saya. Membuat saya terdiam meresapinya.
Bayu Sahaja






Comments
Jadi Mr. Goldierman kapan mau diwisudanya? Untuk Master Wira, tinggal tetapkan waktu dan tempatnya.
Dulu bisa sering ngopi sambil menyimak perkuliahan kehidupan
Sekarang, nak jumpa pun segan
Terimakasih kunjungannya, Mas Budi Daryanto.
Ampun Mbak Ira. Jadi kepingin ganti gadged saya.
RSS feed for comments to this post