joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Guru

Email Cetak

Sepertinya semua guru di muka bumi ini setuju. Bahwa cara belajar yang paling baik, adalah dengan cara mengajarkannya.

Persoalan kemudian terletak pada masalah bagaimana tata cara mengajarkan itu dilakukan. Bicara tentang ini segera terkenang kisah saat dulu di sekolah. Tiap guru punya karakter dan tata cara berbeda dalam mengajar. Ada yang menempatkan diri sebagai penasihat ada pula yang bertingkah sebagai penyiksa.

Apakah itu bagian dari strategi pendidikan masa lalu yang diformulasikan sedemikian rupa guna menghadapi siswa bebal seperti saya. Atau tata cara mengajar oleh masing-masing guru tersebut berdasar naluri dari panggilan jiwa pengajar mereka.

Paling terkenang pada betapa kejamnya guru matimatika saya. Bahkan ditiap pelajarannya saya yang memang langganan, akan langsung berdiri di depan kelas tiap kali tidak mampu menyelesaian soal di papan tulis. Padahal soal itu merupakan pekerjaan rumah yang harusnya sudah saya pahami dengan metode belajar bersama. Namun apa daya. Saya langsung lupa semuanya.

Andai saja saat maju ke depan kelas diperbolehkan bawa buku, maka saya akan tinggal menyadurnya. Sebab soal yang ditulis di papan tulis tersebut sama persis dengan tugas rumah yang ada di buku tugas saya itu. Tapi dengan tangan hampa yang kerap diperiksa lebih dulu dan diawasi tidak menyontek saat mengerjakan soal di papan tulis. Kontan! Lupa lah semuanya. Maka hukumannya seperti biasa, bediri di depan kelas dan diakhir pelajaran dapat hadiah pukulan di telapak tangan dengan sebuah penggaris kayu nan besar.

Di satu pelajaran lainnya. Ada guru seni lukis yang menempatkan dirinya sedemikian rupa. Dia mendorong, memotivasi para muridnya dengan belaian dan tepukan halus di punggung. Saya paling bahagia dalam pelajaran seni lukis itu. Sehingga lukisan hasil karya saya tentang pemandangan begitu membanggakan. Minimal orang tua di rumah kerap terkagum dengan nilai rata-rata 95 yang selalu tertera di pojok kanan kertas hasil gambar. Kini saya menyadari. Dua cara berbeda dari masing-masing guru kala sekolah dulu, tetaplah mulia dan bermanfaat adanya buat saya.

Butuh waktu begitu lama, untuk saya pada ahkirnya memahami bahwa guru hadir dengan cara yang berbeda-beda. Saya itu berasal dari jenis yang sulit belajar bahkan kerap merusak proses belajar. Saya selalu bilang susah atau tidak mungkin terhadap sesuatu yang ditawarkan kepada saya untuk dilakukan. Tidak ingin mencobanya dan tidak ingin juga memikirkannya. Sehingga kesempatan mendapat pengalaman belajar dari tawaran tadi segera lenyap menghilang.

Sangat mungkin orang yang berniat memberi kesempatan belajar tersebut menjadi jengkel menghadapi saya. Bahkan, ketika sebuah peristiwa terjadi dan membuat saya dapat mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Baru saya menyadari bahwa pengalaman merupakan guru yang bijak juga. Masalahnya buat orang sedangkal saya, juga butuh pengalaman dan ajaran baru lagi untuk mengetahui bahwa, kita tidak melulu harus belajar dari pengalaman kita sendiri. Saya itu puasnya kalau sudah mengalaminya sendiri. Sudah jatuh jungkir balik sendiri baru merasa sudah pintar dan belajar. Padahal harusnya saya tidak perlu mengulang kesalahan, kegagalan ataupun kecelakaan yang telah dilakukan orang lainnya.

Sejatinya kita bisa belajar dari pengalaman orang lainnya. Namun ego saya yang megah selalu saja inginnya mencoba sendiri, sehingga harus mengalaminya sendiri juga. Bahkan terkadang saya sudah tahu juga bahwa hasilnya akan gagal. Namun belum puas rasanya bila belum mencobanya sendiri. Begitulah banyak orang yang heran ketika saya mencoba cara tertentu yang semua juga tahu bahwa akan gagal ujungnya. Sudah banyak orang yang mengalami dan mengatakan pada saya bahwa kamera itu musuhnya lembab.

Katanya, lensa-lensa dan kamera akan berjamur bisa terpapar kelembaban dalam waktu lama. Tetap saja saya nekad menyimpannya dalam tas kamera. Padahal terlalu banyak yang menyarankan saya agar menggunakan dry box ataupun kotak kedap udara dengan tambahan silica gel untuk simpan kamera dan lensa. Melalui diskusi langsung ataupun informasi-informasi di situs fotografi, banyak dibahas soal itu. Namun begitulah saya, dengan bebalnya ingin mengalaminya sendiri.

Belajar dari pengalaman itu, alhasil beberapa lensa jadi buram kusam jamuran. Butuh biaya lumayan mahal saat itu untuk membersihkannya. Baru kemudian saya berkoar-koar sok pintar mengingatkan teman-teman lainnya untuk bagaimana cara menghindari lembab dari lensa dan kamera. “Aih. Mas pinter yah!” Teman saya memuji.

Bahkan saya pernah menjadi sales suatu produk yang mana telah terlalu banyak orang menentangnya. Mengatakan bahwa apa yang saya jual adalah suatu produk yang sulit saya pasarkan door to door. Namun apa yang mereka katakan bisa jadi adalah tanda siriknya mereka dengan pekerjaan bagus ini, begitu dalam hati saya berujar. Sebab yang saya ketahui, produk jualan andalan saya itu adalah produk yang sangat dibutuhkan orang pada akhirnya.

Memang butuh waktu dan kesabaran memasarkannya. Ditambah lagi ada komisi yang lumayan, serta bonus 1 produk gratis buat sales, jika berhasil jual 10 produk. Dengan semangat belajar dan mencoba, saya berupaya menawarkan produk tersebut dari komplek perumahan ke komplek perumahan lain.

Dari tiap pintu yang terbuka pada akhirnya nyaris wajah emosi dan caci maki saja yang saya dapatkan saat saya dengan ramah tawarkan produk itu. Namun dengan tekad bulat tetap saya paksa halus para calon customer itu untuk mau terima brosur yang tentunya berisikan nomor telepon saya. Dengan keyakinan penuh bahwa pada akhirnya mereka akan butuh produk berkualitas tersebut. Namun setelah tiga bulan tidak mampu jual satu produk pun. Saya terpikir dan sadar bahwa mungkin saja nasehat semua sahabat dan teman adalah benar. Produk ini memang sulit dijual dengan cara door to door begitu.

Padahal mereka yang telah mengingatkan saya itu, telah berupaya menjalankan fungsinya menjadi guru-guru saya kala itu.  Namun saya lengah dan berkutat hanya pada ego pribadi. Sehingga luput mendapat pelajaran dari apa yang mereka sampaikan dan tentang. “Memangnya produk apa sih yang mas tawarkan?” Sahabat saya bertanya dengan wajah penasaran. “Peti mati!” Jawab saya pasrah. Mengingat sahabat saya ini pasti akan tertawa terpingkal-pingkal seperti teman-teman yang dulu juga pernah bertanya ingin tahu. Namun yang satu ini memang asli sahabat sejati dan guru buat saya. Dia tidak tertawa. Bahkan dia menguatkan saya dengan kata-kata lembutnya, “yang sabar ya mas. Gagal itu belum tentu berhasil!”

Nyaris separuh usia saya jalani ketika akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa guru selalu mulia adanya. Tidak peduli cara kehadirannya berwujud penasihat ataupun penyiksa. Keberadaan guru tetaplah abadi. Mereka itu pahlawan tanpa tanda jasa adanya. Bahkan kerap kali, orang yang jadi guru sejati tidak menyadari peran dan fungsinya adalah guru. Kelakuan positip ataupun tindakan negatip dari seseorang tetap bisa diambil satu benang hikmah dan pelajaran darinya.

Tidak selalu pada ruang kelas saya bertemu guru. Sebab pada akhirnya saya merasa dimana-mana bertemu guru. Di kedai kopi, di pasar, di kantor, di instansi pemerintahan, di televisi, di buku, di ruang pengadilan, di mulut orang paling negatip, di suatu tempat kejadian perkara, di penjara, di ilalang saat makroan, saat hunting bersama, di pegunungan, pada acara lomba foto dan di pelbagai tempat lainnya.

Ada guru yang hadir dengan kata-katanya yang memberi pelajaran dan perbuatannya yang memberi teladan. Dia hadir dengan dorongan dan tepukan halus di punggung kita. Memberi semangat, memberi dorongan agar kiranya kita sadari bahwa kita pasti bisa jika kita pikir bahwa kita bisa. Ada juga guru yang hadir dengan cara yang berbeda. Ada yang muncul dengan cara menyiksa batin kita. Mencemooh hasil karya yang mana kita telah setengah hidup berusaha untuk menghasilkannya. Ada yang datang dengan hinaan, kritik dan cercaan yang terasa tajam dan kejam.

Hasilnya kita jadi emosi. Marah yang memberi kita energi lebih untuk bergiat berusaha bisa lebih dan lebih baik lagi. Upaya itu kita lakukan demi membuktikan bahwa kita bisa dan mampu mencapai apa yang tidak bisa lagi dicibirnya. Dalam proses itu, kemudian kita akan berjuang dan berkorban. Sehingga tidak mungkin lagi baginya menemukan celah untuk menghina dan menyalahkan hasil usaha kita.

Terkadang kita enggan atau lupa mengucapkan sekedar terimakasih pada guru-guru semacam ini. Karena kita tidak menganggap orang seperti itu sejatinya adalah guru. Guru yang juga memberi kita inspirasi, dorongan dan semangat untuk jadi bisa. Bahkan juga mungkin orang tersebut tidak menyadari keberadaan dan fungsinya adalah guru buat kita. Sehingga orang seperti saya, sebelum tidur malam ini hanya mampu mengucapkan dalam hati pada guru-guru saya yang abadi. “Terimakasih guru!”

 

Bayu Sahaja

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja