joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Damai

Email Cetak

Suatu sore saya terima SMS dari sebuah nomor yang tidak tahu siapa pengirimnya. “Anda memang tidak tahu diri! Jangan asal bicara! Tidak usah lagi coba-coba mendamaikan kami!!!”

Begitulah bunyi SMS tersebut. Saya langsung paham dalam perkara apa orang misterius ini mengirimkan pesan begitu. Sebab beberapa waktu lalu saya berusaha mendamaikan dua pihak yang bertikai.

Mengingat penyebabnya sedemikian rumit untuk diurai. Sehingga pikiran saya yang dangkal langsung menyimpulkan untuk mengajak kedua belah pihak yang bertikai untuk damai begitu saja. Ya begitu saja! Damai tanpa perlu lagi mengungkit-ungkit sebab musabab mengapa masing-masing kelompok ini bertikai.

Sebab bila dibumbui syarat tertentu, seperti kelompok ini harus begini atau begitu dan kemudian kelompok satunya akan punya tuntutan begini begitu juga. Maka kata damai mustahil bisa dicapai.

Otak saya sederhana. Buat saya damai ya damai. Kalau harus dicari-cari apa penyebab perselisihan kedua pihak ini, maka tidak akan ada ujungnya. Dilandasi ego masing-masing maka semua akan merasa ada di pihak benar. Padahal permasalahan selalu timbul landasannya pastilah sebab lalu akibat.

Lagi pula dalam kasus yang saya berupaya damaikan ini persoalannya bukanlah urusan hidup dan mati. Tapi Cuma urusan remeh temehnya harga diri. Dimana bila sengaja dikaji mendalam. Ujung-ujungnya cuma persaingan prestasi yang sudah pasti merupakan soalan duniawi. Namun harus saya akui dan terbukti. Banyak yang cinta damai tapi perang makin ramai.

Seperti dapat kita perhatikan. Keputusan untuk perang atau damai tidak harus melulu melibatkan seluruh anggota. Cukup Presiden jika menyangkut sebuah negara. Haanya butuh Ketua, jika itu menyangkut partai politik dan hanya butuh komandan jika itu menyakut sebuah pasukan. Tetapi terlalu banyak juga yang berpedoman bahwa kata damai hanya bisa dicapai dengan bagaimana kita menghunus pedang. Terlalu tingginya harga diri yang dikipasi oleh orang-orang bernafsu membunuh adalah alasan rumitnya mencapai kata damai di dunia ini.

Sebagai manusia kita dilahirkan dengan yang namanya libido. Kata ini demikian erat kaitannya dengan nafsu. Bicara tentang nafsu maka ada dua hal terkait disana. Yaitu nafsu mengadakan dan nafsu meniadakan. Naluri makhluk hidup untuk berkembang biak ada pada nafsu mengadakan. Naluri yang diwujudkan dengan perkawinan pada manusia ataupun binatang untuk berkembang biak.

Demikian alaminya hasrat tersebut dianugerahkan pada makhluk hidup demi lestari keberadaannya. Dibalik itu ada juga nafsu untuk meniadakan. Ini adalah hasrat membunuh yang merupakan bagian dari keberadaan makhluk hidup juga. Mungkin mengerikan ketika membayangkan bahwa pada setiap makhluk hidup punya hasrat membunuh dalam dirinya.

Namun begitulah. Yang namanya nafsu selalu punya cara untuk dipenuhi demi capaian sensasi kepuasan. Dalam hal ini kita tidak harus terjebak pada konteks semangat membunuh seperti halnya yang dilakukan pembunuh-pembunuh kejam. Seperti jaman NAZI Jerman ataupun saat geger tahun 65 dulu. Pemenuhan nafsu membunuh juga hadir secara halus dalam kehidupan kita. Menghambat orang lain untuk dapat mencapai tujuannya juga merupakan jalan terpenuhinya sensasi nafsu meniadakan.

Demikian adanya kedua nafsu tersebut melengkapi keberadaan manusia sedari dahulu kala. Itu mengapa manusia punya segudang arsip serta catatan tentang aturan, undang-undang dan hukum-hukum yang coba mengatur tata laksana hidup bersama. Namun begitu selalu saja ada celah dari segala aturan tertulis yang coba dirumuskan.

Sehingga tata hukum nilai tidak melulu bisa dituliskan. Ada batasan moral, ada azas kepantasan yang kemudian ikut dalam mengatur boleh atau tidaknya sesuatu dilakukan. Walau begitu, saat ini kita masih juga menangis ketika menyaksikan ada orang-orang yang mampu membunuh sesama dengan santunnya. Kita hanya bisa meringis melihat kenyataan ada orang yang diam-diam menghalangi pencapaian orang lainnya.

Menghambat kemajuannya, bahkan membunuh cita-citanya. Itu semua adalah kenyataan yang hadir selintas demi selintas didepan kita. Begitu biasanya kita lakukan semua itu bahkan terkadang tanpa kita sadari dan terbeban lagi telah terlibat dalam pembunuhan-pembunuhan kecil begitu. Terlalu biasa!

Dalam pergaulan ataupun kehidupan bermasyarakat. Sulit rasanya bagi kita, apalagi buat orang seperti saya untuk terbebas dari perselisihan. Terlalu banyak cara untuk yang namanya ketersinggungan terjadi. Kelakuan saya yang kerap terjebak pada ego. Bahkan kerap merasa pintar, bisa menebak maksud terselubung dari ungkapan-ungkapan orang lain yang disampaikan melalui tulisan ataupun foto. Menjadikan lingkup pergaulan menjadi sempit.

Rasanya semua orang seperti berniat buruk kepada saya adanya. Terkadang sadar juga kalau mungkin saja niat orang melakukan sesuatu itu tujuannya baik. Namun pikiran jahat saya segera mengusir kemungkinan itu dan membenamkannya kembali pada lumpur kemungkinan buruk.

Pada suatu diskusi kedai kopi. Ada tiga teman mengajukan cara penyelesaian demi menggapai damai didunia ini. Membuat saya makin bingung. Mengingat ketiganya berbeda. Satu teman mengatakan bahwa tindakan atau niatan buruk begitu sebaiknya biarkan atau diabaikan saja. Baginya tidak melakukan tindakan apapun ataupun pembiaran adalah jalan yang paling aman demi tercapainya damai.

Teman yang kedua menyatakan keras, untuk supaya beri ganjaran setimpal pada segala perbuatan yang dilakukan. Dia memisalkan ada orang yang bertindak sombong dan pongah terhadap kita. Maka solusi terbaiknya adalah memperlakukan tindakan yang sama terhadapnya. “Hutang mata bayar mata dan hutang nyawa bayar nyawa!” Begitu katanya tegas.

Bahkan dalam salah satu ilustrasinya dia menyampaikan untuk potong tangan kanan jika tindak pencurian atau kejahatannya dilakukan dengan anggota tubuh itu. Baginya, hukuman setimpal dengan perbuatan adalah satu-satunya jalan penyelesaian persoalan duniawi. Saat itu spontan saya menutup mulut. Membayangkan bagaimana hukuman buat saya yang mulutnya sulit dijaga ini.

Kemudian teman yang satu lagi justru menawarkan cara yang sungguh berbeda. Menurutnya penyelesaian demi akhir damai tidak mungkin dicapai dengan jalan kekerasan. Kekerasan dibalas dengan kekerasan tidak akan berujung menurutnya. Makanya dia berpendapat, jika ada yang bersikap jahat seperti itu balaslah dengan kebaikan.

Menurutnya kasih adalah jalan yang paling mungkin untuk menyelesaikan persoalan-persoalan duniawi.  “Ya! Kalau ada orang yang menyakiti kita atau berbuat jahat pada kita”, teman saya yang nomor dua menyela. “Balasannya adalah lempar bunga padanya. Tapi pastikan, potnya harus ikut terlempar juga!.”

Nyaris semua kita pada akhirnya punya cara untuk memenuhi nafsunya. Hasrat berkembang biak diwujudkan dengan perkawinan. Hasrat membunuh diwujudkan dengan beragam cara. Terkadang kita dapat merasakan ungkapan-ungkapan yang melalui para politikus diperkenalkan dengan sebutan, pembunuhan karakter.

Ada yang mengemasnya secara vulgar ada pula yang meramunya sedemikian halusnya. Namun efeknya luar biasa. Ramuan halus tadi mampu meresap dalam pada setiap korban yang terpapar informasinya. Baik melalui tulisan-tulisan SMS, BBM ataupun sharing-sharing foto tertentu.

Tujuannya sangat jelas. Mempertegas atau menjungkirbalikan fakta-fakta yang ada. Sehingga korban pembunuhan karakter tadi terjerembab reputasinya. Pada Kata Foto Gosip saya memaparkan bagaimana, bahkan sesuatu yang baik sekalipun informasinya bisa dipelintir sedemikian rupa untuk menjadi sesuatu yang buruk kedengarannya.

Itu adalah hal nyata tentang tata cara pembunuhan yang paling halus. Sedemikian halusnya sehingga kita tidak pernah menganggap pelaku tindakan tersebut adalah pembunuh juga. Saya masih jauh untuk bisa jadi biang damai. Kalau untuk jadi biang kerok atau biang kerusuhan sudah banyak buktinya.

Padahal belitan masalah yang saya hadapi selalu saja soal ego. Entah mengapa demikian pongah dan sombongnya saya. Sehingga untuk memulai menyampaikan kata maaf terlebih dahulu saja rasanya terlalu berat.

Bagi saya yang pantas menunduk lebih dulu adalah mereka. Sebab di kepala saya, yang salah itu selalu orang lain. Sejatinya saya menyadari bahwa mekanisme interospeksi pada setiap diri manusia itu automatis adanya. Sehingga ketika kata maaf diucapkan. Maka itu akan membuka banyak jalan dan cara untuk hasilkan damai.

“Jangan tunggu bisa dulu baru melakukan, tapi lakukanlah dulu supaya jadi bisa!”  Teman saya menyela membuat saya terdiam interospeksi.

 

Bayu Sahaja

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja