joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Takut

Email Cetak

Teman saya dirundung malang. Dia cerita dengan kepala tertunduk dan lesu saat itu. Bukan kasus sepele. Sebab urusannya langsung berkaitan dengan bos di tempat kerjanya. Begini kisahnya. Pada suatu hari bosnya datang ke mejanya untuk minta tolong padanya mentransferkan sejumlah uang ke bank.

Kemudian bosnya itu mengeluarkan beberapa ikat tumpukan uang dari kantong plastik hitam. Langsung meletakan di mejanya sambil menghitung jumlah ikatan untuk mentotal. Saat itu ada karet gelang yang biasa digunakan mengikat uang putus secara tiba-tiba. Sebagai karet elastis adalah melenting ketika ditarik melar dan terputus.

Teman saya itu sontak kaget menepiskan tangannya begitu kuat menghempaskan tumpukan uang tersebut. Demikian kuatnya dia menampik uang di mejanya. Sehingga terlontarlah gepokan uang itu tepat mengenai kaca pembatas ruangan dengan kencangnya. Alhasil kaca pun pecah berserakan.

Bunyi khas barang pecah belah mengundang karyawan sesisi kantor menuju tempat dia dan bosnya berada. Bahkan sekuriti ikut ambil bagian untuk coba mengamankan situasi yang dia kira perkelahian. Sang bos marah besar padanya.

Tanpa bicara dia perintahkan karyawan lainnya kumpulkan uang-uang yang berserakan untuk dimasukan kembali kedalam kantong hitamnya. Beberapa karyawan lain berinisiatip membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai. Dalam hati semua orang bertanya-tanya. Ada apa gerangan yang terjadi.

Teman saya itu gugupnya luar biasa. Dia kebingungan sehingga tidak bisa menjelaskan duduk persoalannya. Bahwa kejadian tersebut bukan lantaran dia menolak perintah bosnya tersebut, ataupun alergi terhadap uang yang terlalu.

Tapi sungguh mati teman saya itu mengaku amat geli dengan karet gelang. Sehingga spontan menampik kuat seperti reflek saat ada karet gelang pengikat uang yang terputus tepat di hadapannya.

Akhirnya saya membantunya. Membujuknya untuk dia mau konsultasi pada seorang psikolog. Awalnya teman itu menolak karna menurutnya tindakannya itu bukanlah kelakuan orang gila. Namun setelah ada teman yang lebih mampu menjelaskan soal apa itu konsultasi psikologi, secara panjang, lebar dan tinggi.

Akhirnya teman saya yang malang itu malu-malu mengerti dan nurut ikut.  Hal ini saya putuskan sebagai sesuatu langkah yang perlu dilakukan. Agar nantinya saya, yang telah dimintai teman itu untuk bantu menjelaskan kepada bosnya di kantor, bisa secara baik mengurai duduk permasalahan sebenar-benarnya.

Kemudian dari dokter yang cantik itu saya tahu kalau teman itu mengidap Phobia atau fobia. Entah yang mana satu cara menuliskannya dengan benar. Menurut dokter tersebut, Fobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Begitulah para pengidap fobia kerap kesulitan dalam menjalani kehidupan.

Persoalan yang menimpa teman ini adalah kenyataan sehari-hari. Dimana para pegidap fobia yang lebih menggunakan bahasa rasa terhadap sesuatu. Sehingga kecoa, tikus, ulat, bulu ayam, karet gelang, belalang, daun kering, kucing, anjing dan lainnya menjadi demikian besar, menakutkan, menggelikan, menjijikan ataupun menyeramkan di matanya. Padahal teman saya ini terkenal seram. Dengan kulit hitam, badan besar ditambah kumis tebal seperti keset di kantor kelurahan serta sorot mata tajam. Penampilannya membuat banyak orang segan untuk main-main dengannya.

Pada kenyataannya teman saya itu begitu takutnya pada hanya karet gelang. Bahkan seperti dia kisahkan, saat sekolah dulu pernah jatuh pingsan dan sakit demam lantaran ketakutan diolok-olok pakai karet gelang oleh teman sekolahnya. Selama bekerja di  kantornya, dia cukup mampu menutupi ketakutannya pada karet gelang.

Tiada yang menduga soal itu. Sedemikian rupa teman itu mengantisipasi, menghindari untuknya berhadapan dengan karet gelang. Namun dia memilih untuk tidak mengumumkannya secara luas. Mengingat berdasar pengalamannya, orang-orang yang dia beri tahu justru jadi usil atau membocorkan rahasia ketakutannya yang aneh. Kemudian jadi iseng becanda atau  sekedar menguji kebenaran soal betapa takutnya dia pada karet gelang.

Bahkan dia pernah memutuskan berhenti kerja dari kantor lamanya hanya karna ada yang iseng meletakan sekilo karet gelang pada laci mejanya. Hari itu dia terkencing-kencing di celana tidak bisa bergerak dari kursinya. Jadi kaku terpaku seperti patung saat buka laci mejanya. “Ngomong-ngomong mas itu fobianya sama paan sih?” Seorang teman teman saya usil bertanya dengan wajah tulus iklas plus ekspresi ingin tahu. “Ingin rasanya membuat mas mati ketakutan!” Lanjutnya kejam.

Berbekal hasil mendapingi teman itu berkonsultasi dengan psikolog cantik. Akhirnya saya bisa menjelaskan secara fasih pada bos teman saya itu, perkara panampikan uang berakibat kaca pecah di kantonya. Bosnya tertawa terbahak-bahak saat mengetahui rahasia ketakutan dan histerisnya teman saya yang besar dan gagah itu cuma lantaran karet gelang putus.

Bahkan beliau langsung memaafkan dan mencabut sanksi hukuman kepadanya. Surat hukuman yang sebetulnya sudah dibuat. Telah juga ditandatangani. Menghukum teman saya itu dengan memindahkan tugasnya selama 3 bulan untuk mengawasi, mentata dan menjaga ruang perpustakaan. Persoalannya menjadi lucu dan membuat dalam hati saya geli. Betapa rencana hukuman yang akan diterapkan kepadanya itu sedemikian teganya.

Mengingat di kantor dimana teman saya ini bekerja tidak ada yang namanya ruang perpustakaan. Beruntunglah dia terbebas dari rencana hukuman paling tega yang penah saya tahu tersebut. Bahkan saya juga jadi terharu bahagia. Saat menyadari bahwa akhirnya teman ini berangsur-angsur hilang takutnya pada karet gelang.

Psikolog cantik itu mampu mengobati ketakutannya itu dengan terapinya. Sehingga kini diusia matangnya teman saya itu bisa gembira bermain lompat tali. Dimana seperti pada umumnya permainan anak-anak jaman dulu, talinya adalah untaian karet gelang yang dijalin dengan rapi memanjang.

“Ujian untuk berhasil bukanlah kemampuan untuk mencegah atau menghindari masalah.” Teman saya memberi kesimpulan pengalamannya dengan wajah serius. “Tapi lebih pada sikap atau caranya dalam menghadapi dan meyelesaikan masalah atau ketakutan yang muncul.” Lanjutnya berteori. Saya diam saja. Sambil pelan-pelan membuka kepalan tangan saya yang berisi karet gelang tepat di depan mukanya. Memang benar terbukti. Dari ekspresi wajahnya saya tahu. Teman saya tidak takut lagi atau lebih tepatnya, telah bisa mengatasi rasa takutnya pada karet gelang.

Sejatinya saya sangat sadar bahwa kebanyakan takut adanya hanya dipikiran saja. Diam-diam. Saya berharap anda sekalian tidak membocorkan rahasia ini. Bahwa saya ini adalah orang yang paling hobby menyimpan, mengelola dan memupuk rasa takut. Terlalu banyak ketakutan yang saya rangkul erat-erat.

Ketakutan demi ketakutan saya kunci dalam hati. Untuk saya endapkan tanpa mau melihat bagaimana dan kenapa saya harus takut. Saya takut akan sendirian, takut akan gelap, takut terhadap hantu, takut juga terhadap orang baru, takut menjalin kerjasama. Bawaannya curiga yang terlalu seperti terhadap sekuriti komplek rumah ataupun pembantu tetangga yang baru pertama kali saya lihat.

Begitulah rasa takut terkadang saya rasakan menjadi penghalang dalam pergaulan ataupun keberhasilan dalam mencapai sesuatu. Rasa takut yang saya alami sangat masuk akal bagi orang-orang penakut seperti saya. Namun tentu saja tidak masuk akal bagi orang normal lainnya.

Sebab bahasa fobia lebih lekat pada penggunaan sensasi rasa. Sedangkan bagi bukan pengidap fobia akan lebih mengedepankan akal sehat atau logika. Sehingga rasa takut selalu dilawan dengan rasionalisasi yang pantas. Sehingga ketakutan terhadap sesuatu menjadi bisa dipertanggungjawabkan secara baik.

Saya begitu menyadari bahwa ketakutan demi ketakutan yang saya dekap erat-erat, rawat dan saya pupuk. Kini telah berbunga. Mekar mengerikan menular terutama pada orang-orang terdekat saya. Walau kelihatannya wajar. Namun penularan ini sedikit merisaukan saya saat ini. Betapa adalah tidak seharusnya, ada orang yang ikut-ikutan jadi heboh seperti saya. Hanya lantaran lihat cacing di tangga kantor. Atau ada yang jerit-jerit histeris seperti saya. Saat melihat kecoa melintas di dekat kamar mandi.

Saya kerap kali menerapkan ketakutan masa lalu untuk menghadapi persoalan masa kini. Saya takut ada kaca lebar di ruangan lantaran pernah kejadian saat kecil dulu kaca seperti itu pecah berantakan kena bola. Saya juga kuatir dengan meja kaca. Sebab pengalaman juga ada meja pecah kejatuhan vas bunga. Saya tidak mau menyimpan masakan atau roti dalam lemari. Karna saat kecil dulu sering kaget dan ketakutan memergoki kecoa atau tikus di dalam lemari. Sehingga masalah makanan yang dihinggapi lalat atau bahkan lalat yang bertelur pada makanan adalah hal rutin yang biasa saya temui hingga kini. Karna saya tidak juga punya cara untuk menutup atau menempatkan semua itu secara aman dari jangkauan lalat.

Saya juga sangat takut naik sepeda. Sebab pernah luka-luka saat kecil jatuh dari sepeda. Saya begitu takut pada anjing. Sebab pernah dengar cerita pengalaman kawan yang pernah dikejar anjing.

Soal kenapa teman itu sampai dikejar-kejar anjing saya tidak kepingin tahu. Yang jelas saya jadi takut saja kepada anjing. Dengan cara yang pelan namun pasti, bahkan terkadang juga dengan santunnya. Saya menularkan semua ketakutan-ketakutan ini pada lingkungan dekat.

Sehingga rasa takut dan kuatir terhadap ini dan itu yang mungkin saja tidak lagi relevan di masa kini. Ini bukan risau lantaran merasa tersaingi karna ada yang lebih penakut dari saya.

Tapi ini memang rasa takut yang perlu diobati. Dicari sumber masalahnya sehingga bisa dicapai solusi demi kualitas hidup saya yang menjadi lebih baik. “Begitulah. Banyak ketakutan dalam hidup disebabkan karena orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan batas untuk jadi berani.

Mereka memilih berhenti dikala batas untuk jadi berani sudah dekat. Orang seperti itu biasanya malahan sibuk cari alasan demi pembenaran soal mengapa dia ketakutan. Bahkan berupaya menularkan ketakutannya. Bukannya mencari akal untuk bagaimana mengatasi takut atau cari solusinya.” Teman saya selalu kasih komentar seperti biasanya. Sulit dimengerti.  

 

Bayu Sahaja

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja