joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Gosip

Email Cetak

Suatu pagi yang cerah saya terima SMS dari seorang teman lama. “Pengetahuan mu belum tentu membuat mu pintar. Kepintaran mu belum tentu membuat mu bijak, dan kebijakan mu belum tentu membuat mu benar.”

Bukan hanya isinya yang membuat saya heran dan terharu. Tapi bagaimana mungkin teman lama yang sudah bertahun tidak berjumpa tiba-tiba mengirimkan untaian kalimat yang terasa begitu mengena. Harus saya akui bahwa selalu saja saya itu maunya menang sendiri.

Ego yang sebesar gunung Merapi selalu saya kedepankan. Sudut pandang saya selalu saja menempatkan yang namanya kesalahan adanya hanya pada orang lain. Bukan pada diri saya. Kata maaf juga hanya pantas dikatakan oleh orang lain kepada saya.

Besar kepala yang terlalu ini membuat saya selalu merasa benar-benar benar. Seperti ego yang muncul ketika kita sedang mengendarai mobil. Dari sudut supir kita kerap terjebak bahwa pihak yang benar adalah kita.

Cara supir lain berkendara terlalu pelan, terlalu kencang, lambat memberi tanda lampu berbelok atau cara parkir adalah hal yang semuanya salah di mata kita. Namun selalu saja kita merasa cara kita berkendaralah  yang paling benar.

Begitulah penyakit besar kepala ini demikian kronis menghinggapi diri saya. Bahkan dalam urusan membicarakan orang lain saya inilah orang yang paling mahir. Memelintir informasi keburukan menjadi sedemikian rupa adanya. Sehingga kisah salah dan buruknya seseorang makin menjadi demikian parah dan tidak termaafkan.

Bahkan sesuatu kebaikan yang orang lain lakukan pun tidak luput dari pelintiran cerita yang saya sebar luaskan. Dengan cara sedemikian rupa sehingga hal yang baik tadi menjadi bahan lelucon yang layak ditertawai dan menjadi negatip di mata semua orang. Begitulah kelakuan saya. Mengintrospeksi diri secara  mendalam yang membuat saya lupa balas SMS teman lama tadi untuk sekedar ucapkan terimakasih telah mengingatkan.

Gosip. Kegemaran saya dalam hal membicarakan orang lain sudah pada tingkat yang paling akut. Nyaris pada setiap pertemuan dengan orang lain. Baik itu sahabat, sekedar teman ataupun orang baru kenal. Selalu saja dengan mahir saya selipkan desas-desus tentang seseorang lainnya.

Kini saya paling merasa keterlaluan. Kala teringat betapa saya mulai mengarang-ngarang cerita seolah mengetahui kisah seseorang yang sejujurnya tidak saya ketahui sama sekali. Baik itu mengenai sesuatu yang buruk ataupun hal baik. Itu tidak penting buat saya. Paling penting adalah saya mengarang mendramatisir mempergunjingkan cerita seolah saya yang paling tahu tentang semua hal. Dengan begitu saya merasa menjadi penting. Merasa ditunggu-tunggu kehadirannya dan merasa dibutuhkan pengetahuannya soal gosip-gosip mutahir.

Sudah terlalu banyak orang yang mengingatkan untuk supaya saya bisa menjaga mulut pedas saya. Agar tidak seenak perut sendiri ngomong kesana-kemari bergunjing tentang yang belum tentu sepenuhnya benar itu. Namun kemahiran saya memutar balik cerita sepertinya memang sudah merupakan bakat adanya. Sehingga pembelaan-pembelaan dan apa yang saya sampaikan kemudian justru bisa membawa orang yang bermaksud menasehati jadi ikut-ikutan bergosip ria.

Bahkan saat di kantor ataupun di rumah selalu saja semangat membicarakan orang lain tidak juga pudar. Entah bagaimana caranya. Seperti sudah otomatis saja semua itu terjadi. Memang tidak seluruh pembicaraan didominasi oleh semangat ngomongin orang lain. Namun di antara pembicaraan tentang politik, bencana alam, fotografi ataupun lainnya selalu saja terselip pembicaaran mengenai orang lain.

Apakah gosip adalah kebutuhan yang manusiawi. Kalau memang gosip merupakan kebutuhan harusnya ada panduan. Tentang tata cara menyebarkan gosip. Sehingga kita tidak terjebak pada rumor yang berujung pada rusaknya kredibilitas seseorang.

Sore itu buka-buka twitter. Ada yang twit kutipan karya dari William Shakespeare, “Siapa yang mencuri dompetku mencuri sampah… Tapi orang yang mencuri nama baikku. Merampok dariku sesuatu yang tidak membuatnya kaya. Dan membuatku sungguh miskin (Othelo” III, iii, baris 161-165)” Sejujurnya saya membacanya berulang-ulang. Tapi hingga kini tak juga kunjung mengerti arti dari kata-kata Bang William Shakespeare ini.

Seperti kebanyakan orang. Nampaknya saya juga merasa sah-sah saja ketika harus membeberkan sesuatu cerita yang benar adanya. Dalam pikiran saya, apa salahnya kita ceritakan jika itu adalah fakta. Bahwa itu adalah kenyataan yang dilakukan oleh seseorang.

Seperti ketika saya berkomentar, “kita tidak usah berharap dia mau sharing fotonya. Lantaran foto-foto yang dibuatnya hanya khusus untuk diikutkan pada lomba foto saja. Jadi kita tidak usah mimpi belajar fotografi padanya!” Apa yang saya sampaikan ini adalah sebuah kenyataan. Sehingga secara pergaulan saya merasa tidak boleh dipersalahkan.

Sejatinya ungkapan yang saya sampaikan tersebut berpotensi juga merusak nama baik seseorang. Bukankah soal mau sharing atau tidak adalah urusan pribadinya. Sehingga bukanlah hak saya menilai itu buruk atau baik. Sekalipun dalam kalimat saat saya mengungkapkan kalimat itu tidak ada unsur penilaian soal itu. Namun bisa dirasakan nada kalimat saat menyampaikannya itu mengarah pada sesuatu yang negatip.

Suatu ketika pernah juga saya dimintakan referensi soal riwayat seseorang. Orang tersebut menanyakan pada saya dalam kaitan rencananya menjalin hubungan bisnis dengannya. Setelah berpikir lama akhirnya saya membeberkan kisah-kisah berkait orang tersebut.

Sebab orang yang ditanyakan memang punya hubungan bisnis sebelumnya dengan saya. Walau di ujung penjelasan saya mengatakan adanya kemungkinan informasi yang saya sampaikan tidak akurat lantaran sepihak dan mungkin saja orang yang ditanyakan tadi sudah berubah menjadi lebih baik karna pengalaman sebelumnya.

Pada kasus seperti ini, rasanya apa yang saya lakukan adalah benar. Sebab ini bukan soal bergunjing. Pembeberan ini punya tujuan sebagai nara sumber yang dijadikan referensi sebuah rencana bisnis. Dari situ kemudian saya belajar untuk selalu membenturkan pada pertanyaan, “untuk apa hal ini saya kemukakan?” Pada diri sendiri tentunya. Ketika saya menyimpulkan dengan membeberkannya akan memberi inspirasi positip pada lawan bicara. Maka kerap kali saya tergoda untuk bergosip ria.

Sejatinya harus diakui bahwa manusia Indonesia paling hobby melarutkan diri pada hal-hal yang berbau gosip. Kenyataan ini tercermin dari begitu tingginya rating dari tayangan-tayangan televisi bergelar infotainment yang gemar mengumbar desas-desus. Pergunjingan tersebut disiarkan tanpa henti. Sambung-menyambung sepanjang hari oleh hampir seluruh stasiun televisi yang ada.

Para pemirsa terbukti paling suka. Dapat kita saksikan siaran tersebut mengisi waktu prime time dan paling banyak mendapat sokongan iklan. Itu mengartikan bahwa gosip adalah komoditi paling termasyur saat ini.

Sambil nyuci, nyetrika, masak, mengerjakan PR, nyapu, ngepel, ngedit foto dan kegiatan rumah tangga lainnya kalau bisa ya sambil menyaksikan acara pergunjingan tersebut. Isinya macam-macam. Dari kisah perselingkuhan, kemiskinan, kecemburuan, putus asmara, liburan, demo masak, belanja, permusuhan dan kisah-kisah tidak penting lainnya diumbar serta dikemas dengan cara yang cerdik supaya pemirsa ketagihan.

Tidak lupa dilengkapi dengan pembawa acara yang berpakaian sexy namun berperan konyol mengada-ada. Maka lengkaplah sudah kenikmatan para gosipwati dan gosipwan terpenuhi.

Lebih membuat hati miris lagi ada pula tayangan-tayangan yang mengumbar kemiskinan. Para pembawa acara telah dilatih singkat untuk bisa mengangkat kisah sedih yang membuat kobannya menangis tersedu-sedu. Terbukti juga pemirsa televisi menyukai kisah begini.

Ujung-ujungnya si pembawa acara yang aktingnya kentara pura-pura. Ikutan seperti sedih dan menutup kisah sedih itu dengan kalimat penutup yang bikin hati tambah miris. "Yang sabar ya bu, yang sabar ya pak..." Sebab tujuannya hanya sekedar mengumbar kesedihan.

Di mana si orang yang susah dan miskin tersebut hanya dibuat lebih menderita lagi dengan diungkit-ungkit kisah sulit hidupnya. Padahal sebelumnya mereka sudah mau dan mampu menerima kenyataan pahit hidupnya selama ini. “Kalau kamu pasti suka sekali nonton acara begitu!” teman saya kontan langsung menuduh. “Kamu kan paling senang lihat orang susah dan sangat susah lihat orang senang!” Katanya emosi. Membuat saya tercenung introspeksi diri lagi.

 

Bayu sahaja

Share ke teman anda

Comments

0 Amy 2012-04-13 08:18 #7
Quoting Bayu Sahaja:
Quoting Amy:
mmng sudah kodrat manusia merasa dirinya paling benerrr... 8)


Ia Amy. Manusiawi kalau begeto. Maafkan saya yah. HikssS... :D :lol: :P


loh...bukan maafkan marwan yaaa...xixi :) :lol:
0 Bayu Sahaja 2012-04-13 07:32 #6
Quoting Amy:
mmng sudah kodrat manusia merasa dirinya paling benerrr... 8)


Ia Amy. Manusiawi kalau begeto. Maafkan saya yah. HikssS... :D :lol: :P
0 Amy 2012-04-13 07:17 #5
mmng sudah kodrat manusia merasa dirinya paling benerrr... 8)
0 Bayu Sahaja 2012-04-13 05:30 #4
Quoting Tommy Hoki:
Baca... Jadi berpikir kok tau ya. Saya merasakannya pribadi, apakah pembaca lain juga ikut merasakannya? :oops: :lol: Jadi intropeksi diri sendiri, bagus sekali. Selesai baca menambahkan satu lagi senjata pegangan untuk melatih diri menuju arah lebih baik. Teruskan...


Semangat berlatih menuju arah yang lebih baik itu yang benar2 luar biasa. Salut Tommy.
0 Bayu Sahaja 2012-04-13 05:28 #3
Quoting agus waluyo:
Dalem sekali dan luar biasa....


Sedalam sumur yang belum digali :D. Trims Mas Agus...
0 Tommy Hoki 2012-04-12 19:54 #2
Baca... Jadi berpikir kok tau ya. Saya merasakannya pribadi, apakah pembaca lain juga ikut merasakannya? :oops: :lol: Jadi intropeksi diri sendiri, bagus sekali. Selesai baca menambahkan satu lagi senjata pegangan untuk melatih diri menuju arah lebih baik. Teruskan...
0 agus waluyo 2012-04-12 17:30 #1
Dalem sekali dan luar biasa....

 

 

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja