Saya ini termasuk orang yang sangat hobby menempuh jalan pintas untuk menuduh dan menilai orang lain jadi positip atau negatip tanpa alat dan bukti yang cukup. Biasanya dengan segala kedangkalan serta tanpa memperdulikan kenyataan, saya bisa segera mencap seseorang, kelompok atau suku tertentu kelakuannya begini atau
begitu.
Ujung-ujungnya saya selalu saja terjebak pada semangat diskriminatif. Tentu saja akhirnya cara ini menyulitkan saya untuk bisa berbaur dengan sesama. Bahkan ketika ada yang bertanya saya ini orang mana. Saya langsung menyebut nama daerah saya.
Pernah diingatkan untuk menjawab sebagai orang Indonesia terlebih dahulu lalu menyebut nama daerah kelahiran sebagai lanjutannya. Mengingat di Indonesia itu terdiri dari begitu banyak suku.
Perlu waktu seumur hidup untuk bisa merubah cara pandang saya ini. Sebab selama ini harus saya akui bahwa saya ini bagaikan katak di bawah tempurung. Meskipun bila mengikuti ego, saya lebih senang dikatakan dengan perumpamaan yang lebih manis, bagai burung di sangkar emas. Artinya mungkin saja sama saja. Alhasil pemahaman sempit saya dalam berprasangka demikian parahnya.
Saya tidak perduli kenyataan yang sesungguhnya. Dengan serta merta saya sanggup menuduh si ini atau si itu kasar sebab dia itu orang dari sono. Atau tanpa data yang tidak juga akurat, saya bisa langsung saja menyebut si ini tidak bisa menjaga sopan santun sebab asalnya dari daerah itu.
Tentu saja semua tuduhan saya itu sama sekali tanpa dasar penelitian yang jelas. Bagi saya, orang yang paling hebat, pintar, cerdik, rajin, baik serta hal-hal positip lainnya adalah orang dari daerah saya. Kalau orang yang berasal dari daerah lain ya sudah pasti tidak betul.
Semua pendapat saya itu sepenuhnya hanya berdasar prasangka yang kebanyakan dikarang-karang oleh lingkungan ataupun oleh diri saya sendiri. Mungkin dulunya kesimpulan padangan begitu digunakan demi tujuan untuk menyederhanakan masalah sehingga bisa lebih cepat mengambil keputusan.
Begitulah ajaran dan pendapat yang sudah mendarah daging hingga kini. Demikian lekatnya sehingga saya bisa langsung panik bila ada orang berasal dari suku tertentu ingin ketemu saya. “Pasti takut ditagih hutangnya!” Sambut seorang teman membuat saya terdiam karena lumayan tepat tuduhannya kali ini.
Begitu juga dalam soal keyakinan. Walaupun tradisi ritual yang diwajibkan oleh keyakinan yang saya anut kerap ogah-ogahan saya jalankan. Namun jangan coba-coba menguji betapa saya percaya tentang apa yang saya yakini tersebut. Apalagi berniat membanding-bandingkan dengan keyakinan lain. Itu masalah besar dan sangat prinsip buat saya. Permasalahannya bukan pada bagaimana saya begitu paham tentang apa yang saya yakini ini.
Namun jujur saja, yang saya tahu ya cuma keyakinan ini. Seperti halnya dengan saya, sepenuhnya saya yakin bahwa apa yang kini anda yakini kebanyakan asalnya dari keturunan saja. Orang tua anda meyakini itu dan secara automatis anda mengikutinya. Lalu dengan kacamata yang kurang lebih dari sama dengan yang biasa dipakaikan pada kuda. Saya menutup diri dan menghalangi pengetahuan saya dari keberadaan keyakinan lainnya.
Bagi saya yang terbaik adalah apa yang saya yakini. Tidak mau membahasnya, tidak ingin membicarakannya, tidak mau mengetahuinya apalagi membandingkannya adalah upaya saya untuk tetap menjaga kemurnian dari apa yang saya yakini. Tidak perlu dibantah lagi. Bahkan saya sangat siap untuk adu mulut, adu otot, jotos-jotosan, bakar-bakaran atau sekalian bunuh-bunuhan ketika ada niat-niat lain, beda ajaran, beda keyakinan, beda tata cara atau tradisi yang berani tampil mengemuka.
Bagi saya setiap yang berbeda adalah di neraka tempatnya. Sebab pemahaman dan keyakinan ini sudah begitu dari sononya. Ditanamkan sejak dini dan terus dipupuk, disirami serta dipagari untuk jangan sampai tercemari oleh semangat sekalipun baik dari orang-orang yang beda keyakinannya dengan saya. “Saya percaya kalau mas begitu yakin akan cocok dengan Agnes Monika.” Teman saya menyela. Lalu katanya lagi, “namun sayangnya Agnes Monika juga sangat yakin tidak cocok dengan mas.” Katanya sambil ketawa keras sekali.
Di telinga saya, yang paling enak di dengar adalah bahasa daerah saya. Buat saya, bahasa daerah lain itu terdengar aneh. Ada yang terlalu lembut, ada yang tidak jelas dan ada yang terdengar kasar. Terkadang heran juga kenapa orang-orang daerah lain itu mau-maunya menggunakan bahasa yang sama sekali tidak enak di dengar begitu.
Itulah alasan saya mengapa saya selalu bangga menggunakan bahasa ibu tersebut saat berkumpul dengan teman-teman lain. Ketika ada teman yang sama-sama berasal dari daerah saya, maka langsung saja saya gunakan bahasa kebanggaan tersebut tanpa perduli nasib orang yang tidak mengerti.
Pada jejaring sosial juga tidak urung saya lakukan hal yang sama. Toh disana ada beberapa teman sedaerah yang paham bahasa indah ini. Bagi yang tidak paham silahkan belajar. karena ini adalah bahasa terindah bagi saya. Begitu juga dengan irama lagu. Buat saya alunan nada irama musik serta syair lagu yang enak bagi telinga manusia ya juga lagu dari daerah saya. Sebab nada irama yang akrab bagi telinga saya sejak masa kanak-kanak, bahkan mungkin sejak masih dalam kandungan adalah irama suara budaya saya itu.
Kini bila mendengarnya saya bisa menangis. Terkadang begitu lembut. Kadang menghentak mengalun membawa saya terbang kesuasana kampung halaman saya yang permai. Tapi anehnya tentangga saya yang dari daerah lain, tiap pagi sayup-sayup saya dengar mereka memutar irama lagu yang aneh.
Syair-syair lagunya sama sekali tidak saya mengerti. Musik yang mengiringi lagu tersebut juga tidak jelas juntrungannya. Terdengar seperti susunan irama asal-asalan yang asal bunyi saja. Mendengar irama aneh begitu biasanya kontan saya menghidupkan stereo set rakitan kebanggaan saya yang suaranya hingar bingar. Menyetelnya langsung pada volume suara lumayan tinggi. Dalam hati saya berniat mengajari tetangga saya yang selera musiknya aneh itu dengan irama musik sejati milik daerah saya ini.
Sungguh aneh bagi saya ketika ada orang yang tidak menyukai lagu daerah saya ini. Begitulah nyaris tiap pagi perang musik selalu terjadi. Saya tidak akan berhenti mengkumandangkan irama musik kesukaan dan kebanggaan saya ini. Harapan saya suatu saat nanti tetangga saya yang seleranya tidak bermutu itu sadar dan mengerti tentang apa itu nada, suara dan irama yang manusiawi.
Sebagai seorang yang pernah secara kebetulan meraih kemenangan disebuah ajang lomba foto. Kerap kali saya terjebak pada situasi ego. Sehingga pada setiap kesempatan berkomentar ria pada situs-situs yang punya fasilitas komentar pada foto, saya kerap memberi koreksi yang lebih menyangkut pada selera saya pribadi. Ketika ada foto yang komposisi, sudut bidik serta warna diluar dari selera saya. Segera saja saya katakan tidak bagus.
Entah dari mana asal semangat besar kepala seperti ini. Sehingga semangat apresiasi saya selalu saja saya benturkan dengan selera pribadi yang akhirnya harus saya akui terus terang, penuh dengan kurang dan keterbatasan. Padahal harusnya saya sadari sejak awalnya. Bahwa dunia seni fotografi demikian luasnya.
"Penyakit kamu dari dulu ya itu!" Teman saya langsung menyamber. Lanjutnya, "kalau orang lain yang buat selalu saja kamu anggap salah. Tapi kalau kamu sendiri yang lakukan kamu bilang itu benar!" katanya dengan nada protes. Kejadian lumayan lucu menimpa saya. Ini soal selera dan pandangan soal fotografi yang dibakukan dengan cara semberono oleh admin sebuah situs fotografi.
Ada orang-orang hebat yang merasa mampu melihat proses kreatif dari sebuah karya foto. Orang-orang tersebut demikian pintarnya. Bahkan saya menduga pihak admin tersebut punya indera keenam. Sehingga bisa melihat, menebak bagaimana dan di mana sebuah foto dibuat. Pengetahuannya melebihi dari yang tertera pada data exif yang biasanya ada berserta sebuah karya digital. Akhirnya kesimpulan yang diambil demikian memilukan. Banyak foto yang dianggap tidak sesuai dengan kriteria yang mereka harapkan.
Seperti saat kejadian saya mengirimkan sebuah foto capung jarum ke sebuah grup komunitas. Setelah beberapa saat tayang. Foto tersebut tiba-tiba menghilang. Kemudian dalam fasilitas inbox pesan ada surat masuk dengan penjelasan dari pihak pengelola grup tersebut, “Karya foto anda tidak sesuai dengan kriteria wildlife
yang kami maksud. Dengan dari pada yang mana berat hati kami menghapus karya foto anda. Kami menduga obyek capung jarum anda tidak alami/dikonsep/buatan. Silahkan upload foto yang benar-benar alami.”
Cukup lama saya tercenung. Bagaimana mungkin pihak admin grup tersebut bisa menerapkan tafsiran serta dugaannya sebagai suatu kepastian bahwa foto capung jarum sedang kawin yang saya upload tersebut adalah hasil dari tindakan rekayasa. Namun saya terpaksa menerima penolakan tersebut dengan lapang dada.
Harus saya mengerti bahwa tidak semua orang paham bagaimana proses terjadinya perkawinan capung jarum. Proses itu demikian alami dan sepertinya sulit memanipulasi terjadinya peristiwa kawin tersebut.
Bukankah dalam situasi kehidupan liar terlalu begitu banyak kemungkinan. Bahkan para peneliti yang sehari-hari mengabdikan diri pada konservasi alam liar saja kerap dibuat bingung oleh fenomena alami yang terjadi. "Makanya lain kali kalau buat aturan soal kriteria fotografi sebaiknya menyangkut hal-hal yang bisa dibuktikan saja!" Teman saya bergaya menggurui dan seolah menyalahkan saya.
Saya maklum saja. Menjadi semakin maklum saat teringat Socrates yang filsuf itu berkata, “Cobalah dulu baru cerita. Pahamilah dulu baru menjawab. Pikirlah dulu baru berkata. Dengarlah dulu baru beri penilaian. Bekerjalah dulu baru berharap.” Padahal beliau itu keberadaannya di masa 470 SM – 399 SM. Namun kata-katanya masih demikian aktual hingga kini. Dimana saya sekali lagi harus terima, maklum dan terbebas dari sakit hati.
Bayu sahaja






Comments
Mantap Tommy Hoki. Pemilihan kutipan yang tepat dan cerdas. Lanjutkan...
RSS feed for comments to this post