joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Bingung

Email Cetak

Beberapa hari ini kita dibuat tegang oleh hiruk pikuk dan pemberitaan demostrasi untuk menolak naiknya harga BBM.  Aksi tutup jalan dengan membakar ban adalah ritual yang menghasilkan jalanan macet panjang. Belum lagi yang mentargetkan bandara sebagai lokasi unjuk rasa.

Efeknya bagi masyarakat pengguna betul-betul terasa. Kedatangan dan keberangkatan pesawat berantakan semua. Bahkan ada pesawat yang akhirnya memutuskan perubahan tujuan demi mencari jalan aman. Sepertinya serentak para mahasiswa seluruh nusantara melakukan aksi heroik ini. Rela berpanas-panasan unjuk rasa.

Sepertinya teriakan untuk tidak naiknya harga BBM sangat masuk akal. Kehidupan masyarakat sudah terlalu sulit untuk dibebani lagi dengan naiknya harga BBM, yang automatis akan diikuti oleh naiknya harga-harga kebutuhan dasar hidup lainnya.

Dengan orasi para pendemo menjeritkan tangisan masyarakat. “Bahkan seperti biasa ritual unjuk rasa sangat bisa diduga.” Teman saya menyela. Lanjutnya, “ susunan acaranya sebagai berikut, pertama tutup jalan, lalu kata sambutan, pembukaan acara, pembacaan orasi sesi pertama, istirahat makan siang, pembacaan orasi tahap kedua, kemudian acara ngopi atau ngeteh, terusnya masuk acara dorong-dorongan dengan aparat dan bakar ban, kalau waktu cukup akan ada ramah tamah dan tanya jawab, bila ada sponsor maka ada pembagian door prize dan ditutup dengan acara favorit. Foto bersama.” Katanya serius dengan ekspresi menahan senyum.

“Wah. Kalau begitu jangan sampai salah kostum juga ya.” Sambut saya dengan ekspresi lebih serius. “Dan harus hati-hati!” Ingatnya, “jangan sampai kesemprot water cannon. Bisa terabadikan dalam foto bermoment hujan efeknya.” Tutupnya tanpa bisa lagi menahan tawa.

Sepenuhnya saya percaya bahwa semangat unjuk rasa ini bersifat murni. Tanpa ditunggangi orang tak dikenal ataupun oknum botak gundul yang ilusif seperti tuduhan tidak berdasar di masa dulu. Jujur saja saya bingung dengan semangat demonstratif yang terjadi akhir-akhir ini.

Tujuannya bisa saya mengerti. Yaitu kesejahteraan masyarakat.  “Namun apakah ketika harga BBM tidak jadi dinaikan masyarakat akan serta merta menjadi sejahtera?” Teman saya menyela lagi. Pertanyaannya membuat saya tercenung.

Sepertinya masalahnya bukan pada masalah itu. Tidak jadi naiknya harga BBM bukan berarti segera terbangunnya sarana-sarana yang menumbuhkan mobilitas masyarakat yang berujung pada peningkatan ekonomi. Sebab kita bersama tahu, bahwa transportasi massal adalah persoalan bangsa Indonesia yang tidak kunjung terjawab. “Bagaimana harus dijawab kalau yang bertanya saja tidak ada? Harusnya kita demonya soal itu!” Teman saya mulai menyebalkan.

Transportasi yang berbasis pada kepentingan masyarakat ini meliputi tersedianya bus bagi kepentingan masyarakat yang aman dan nyaman, terfasilitasinya kendaraan untuk angkutan kebutuhan pangan dari lokasi tanam dimana kebutuhan tersebut dipanen menuju pasar.

Adanya angkutan bus antar jemput karyawan dan siswa sekolah yang murah lantaran ditanggung pemerintah. Penyediaan sarana angkutan laut dan sungai sehingga hubungan dagang antar pulau jadi lancar oleh pemerintah. Ketika kebutuhan transportasi masyarakat luas dipenuhi dengan rasa tanggung jawab dari pengemban pemerintahan. Pastinya harga-harga barang dan kebutuhan pokok sulit cari alasan untuk naikan harga.

Saya yang tidak pintar hitung-hitungan saja berani menyimpulkan. Bahwa tuntutan unjuk rasa untuk tidak dinaikannya harga BBM sangat tidak menyentuh akar permasalahan. Akan lebih pintar ketika tuntutannya diarahkan kepada difasilitasinya transportasi massal.

Biarkan saja harga BBM naik. Adalah wajar jika masyarakat ibu kota yang gemar membakar BBM dengan sia-sia, berkedok kemacetan yang sistemik untuk bayar harga BBM lebih mahal. Bayangkan saja, berapa banyak BBM dikonsumsi mesin dengan sia-sia pada ruang pembakaran kendaraan bermotor ketika jalanan macet total. Silahkan nikmati mahalnya kemacetan sampai muak.

Hingga pada akhirnya semua sadar bahwa transportasi massal seperti bus kota ataupun kereta jauh lebih murah. Syaratnya pemerintah lagi yang harus berkampanye serta mempertontonkan. Bahwa kendaraan umum sebagai transpotasi massal adalah pilihan cerdas yang aman, nyaman dan diprioritaskan tanpa hambatan.

"Ini soal membedakan mana keinginan dan yang mana kebutuhan ya?" Katanya lagi-lagi dengan mimik menyebalkan. Membuat saya semakin semangat berdoa supaya harga BBM dinaikan saja.

Sepenuhnya saya bingung. Mengapa pemerintah tidak mau jujur mengakui bahwa ketahanan energi pada waktu yang tidak lama lagi masuk kategori gawat. Bukankah kenyataannya, produksi minyak bumi itu tinggal 24 tahun lagi.

Kita ini negara kaya raya. Namun kenyataannya, bangsa kita ini adalah pengimpor minyak. Kebutuhan akan minyak katanya rata-rata naik 4 persen tiap tahunnya. Tidak heran demi melihat bagaimana makin banyaknya kendaraan bermotor milik pribadi berseliweran bikin macet jalanan.

Mengingat betapa pentingnya ketahanan energi bagi suatu bangsa. Harusnya kondisi kritis minyak ini disikapi dengan hati-hati. Produksi minyak dalam negeri semakin merosot seiring semakin tuanya sumur-sumur minyak yang ada. Adu cepat dengan makin meningkatkan kebutuhan akan minyak pada masyarakat.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan untuk punya kendaraan motor pribadi bagi tiap pribadi di bangsa ini adalah ukuran sukses. Apa kata dunia kalau belum punya motor sendiri. Apa kata tetangga kalau mudik kampung tanpa buka pintu mobil baru punya sendiri. Ukuran sukses berbalut gengsi semakin marak dengan dikipasi kebijakan pemerintah dan tawaran kredit manja perbankan yang menggampangkan kredit beli mobil.

Sekarang ini gampang sekali untuk punya motor. Dengan uang berapa persen dari total harga bisa pilih ragam motor impian. Belum lagi semangat pemerintah yang selalu kedodoran untuk meningkatkan sarana jalan. Apalagi untuk urusan membangun sarana transportasi massal. Sepertinya semua tutup mata atau selalu lupa.

Saya masih juga bingung dengan semangat pemerintah yang katanya terbebani dengan biaya subsidi untuk impor minyak. Sementara disisi lain dengan diam-diam namun sangat kentara semangatnya ketika ekspor batubara. Padahal bagi sebuah negara berdaulat hal yang paling dasar adalah ketahanan energinya.

Teringat kisah perang dunia ke II. Dimana Kapal perang bernama Bismarck milik angkatan laut Jerman, yang Panjangnya 251 meter, mempunyai kecepatan 30 knot (±56 km/jam) dengan berat 50.900 ton dipersenjatai dengan delapan buah meriam berukuran 15,5 inci (±394 mm), 12 buah meriam 5,9 inci (±150 mm), Anti udara 16-237 mm dan 12-20 mm, delapan buah tabung torpedo (torpedo tube) berukuran 21 inci (±533 mm) dan enam pesawat terbang. Kalah dan tenggelam pada pertempuran masa itu. Salah satu analisanya adalah lantaran kapal dahsyat itu kekurangan bahan bakar. “Ah, males baca Kata Foto. Selalu sibuk dengan politik tak jelas!” kawan saya bilang sambil pergi.

Sulit dipungkiri bahwa bangsa kita makin kecanduan BBM. Bahkan sepertinya sudah memasuki stadium sakaw yang merisaukan. Panas dingin dan jadi kacau pikir. Ilusi yang menduga tidak naiknya harga BBM adalah solusi akhir. Menurut saya, yang akalnya tidak lebih dari sejengkal dari kepala ini. Demonstrasi menuntut tidak naiknya harga BBM ini adalah semangat yang sekedar memenuhi rasa keinginan.

Bukannya semangat yang mengarah pada esensi pemenuhan kebutuhan. Dimana permasalahan dasar dari masyarakat adalah dipenuhinya kebutuhan akan moda transportasi yang berpihak pada masyarakat banyak. Sehingga rentetan yang ditakutkan, dimana harga-harga kebutuhan hidup lainnya menjadi naik harga dan tidak terjangkau tidak lagi perlu dikuatirkan. Kita sadar suatu bangsa jadi rapuh tanpa ketahanan dan pengaturan sumber daya energi.

Kita miris melihat demonstrasi besar-bersaran yang menghadang sana-sini bikin macet bikin emosi serta menguras energi tapi tuntutannya terasa tidak tepat sasaran. Heran juga mengapa para wakil rakyat pilihan kita itu, tidak bicara soal itu. Sepertinya mereka tenang-tenang mengelola isu yang berkembang saja. Ujungnya lakukan debat kusir ditelevisi dengan pakaian modis, demi menarik simpati dukungan politik masyarakat yang terombang-ambing.

Terulang lagi janji manis pemilu. Mereka mengumbar mimpi layaknya menebar dongeng dan kembang gula buat kita-kita yang selalu saja ternganga. “tadi malam saya bermimpi,” kata teman saya menyela. “Dari mobil kamu yang megah rongsok, setengah jadi, boros dan sumber polusi itu. Kamu melihat iri pada ku yang duduk nyaman terkantuk dalam bus kota.” Dalam hati saya maklum. Namanya juga mimpi.

 

Bayu Sahaja

Share ke teman anda

Comments

0 Bayu Sahaja 2012-04-10 13:08 #4
Quoting santo:
walah.., @Nurul :sepeda baru saya jual buat kredit motor nih mbak nurul... :lol:


Baiknya sepedanya dioprek. Kasih pedal juga jadi bisa gowes kalau gak ada minyaknya. :D
0 santo 2012-04-10 11:01 #3
walah.., @Nurul :sepeda baru saya jual buat kredit motor nih mbak nurul... :lol:
+1 Bayu Sahaja 2012-03-31 06:43 #2
Quoting nurul:
Untuk menghemat BBM kita budayakan naik sepeda saja gimana ya pak ! :lol: untungnya juga Batam tak semacet Jakarta :-)


Boleh juga naik sepeda. Gimana kalau mulai dari Mbak Nurul untuk memberi contoh pada kita-kita. Bike to work. Hemat, sehat dan lancar. Mau dimulai kapan nih? :D
0 nurul 2012-03-31 04:55 #1
Untuk menghemat BBM kita budayakan naik sepeda saja gimana ya pak ! :lol: untungnya juga Batam tak semacet Jakarta :-)

 

 

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja