joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Wildlife

Email Cetak

Beberapa waktu lalu dengan semangat saya mengemas kamera dengan satu cita-cita, yaitu memotret kehidupan satwa liar. Banyak pilihan untuk bisa mengabadikan kehidupan satwa liar yang buas. Namun tentu saja pilihan paling rasional buat saya yang dangkal dan serba terbatas ini adalah berburu foto di Taman Safari.

Konon katanya, di lokasi inilah paling mungkin saya memotret satwa-satwa yang dikondisikan dalan situasi liar. Benar saja. Dari dalam mobil sewaan, dengan kaca diturunkan setengahnya saya jadi sibuk membidik prilaku beragam satwa.

Sering melihat foto-foto tentang wildlife sebelumnya membuat saya bekerja keras. Baik dalam mengatur kecepatan rana dan juga diafragma. Makin berat ketika berurusan dengan komposisi. Dalam soal itu saya berupaya menghindari adanya unsur-unsur buatan manusia masuk dalam frame foto.

Seperti ketika memotret unggas langka dalam sangkar besar. Saya mati-matian berupaya supaya jeruji kandang atau tangkringan logam tidak masuk dalam komposisi foto. Maksud hati supaya hasil fotonya nanti alami.

Kalau tiada pilihan sudut bidik, saya berupaya pakai bukaan lebar supaya ruang tajam sempit dan blurnya maksimal.

Di Taman Safari mobil-mobil lain juga berseliweran. Banyak juga yang mungkin punya upaya sama dengan saya. Dengan kamera DSLR ataupun kamera video semua mencoba mengabadikan aktivitas satwa dengan harapan dapat gambar sealami-alaminya.

Memang tidak mudah. Beberapa foto yang saya dapat, berupa gambar singa yang pada bagian belakangnya tepat lewat sebuah mobil pengunjung lain. Namun ada juga beberapa foto badak jawa yang dengan bangga bisa saya pamerkan pada sahabat. Bukan karna bagus ataupun istimewa.

Namun lantaran foto tersebut goyang, atau biasa disebut shake dalam kamus fotografi. Walau shake saya tetap bangga. Mengingat momentnya luar biasa. Sebab dalam foto tersebut ada burung jalak hinggap dipunggung badak. Apalagi dalam foto tersebut sama sekali tiada unsur manusia ataupun produk buatan manusia yang terikut masuk dalam frame. Sebagai amatir yang diliputi oleh berbagai keterbatasan saya merasa cukup puas bisa menghasilkan walau terlalu sedikit foto-foto lumayan berkategori wildlife.

Tiba di rumah. Dengan semangat berbagi dan tentu saja terselip keinginan pamer yang lumrah. Saya kirimkan hasil berburu foto di taman Safari tersebut ke halaman facebook. Seperti biasa teman dan sahabat memberi komentar. Mulai dari kritik cara motret hingga komentar canda tawa yang tentu saja tanpa maksud menggurui sesama.

Hingga akhirnya saya terpana dan merasa bodoh mengklaim bahwa foto saya itu berkategori wildlife. Ketika ada teman yang mengomentari bahwa foto-foto yang dibuat di kebun binatang bukanlah foto wildlife. Makin bingung lagi, saat seseorang yang tentu saja adalah seorang pakar. Tanpa komentar mengirimkan tautan berupa alamat website seorang pakar foto wildlife kenamaan dunia.  www.larrythorngren.com adalah situs kenamaan.

Terpampang di sana foto-foto kualitas super mengenai satwa-satwa. Disana saya membaca bahwa Larry Thorngren adalah fotografer terhormat yang punya semangat untuk melakukan konservasi. Kekaguman saya akan dedikasi dan karya fotonya makin kuat saat membuka bagian album foto yang dibuat di Zion National Park.

Pada album itu terkoleksi banyak foto-foto yang sangat kuat berkaitan kehidupan jenis Domba Bighorn Desert. Makin tidak bisa berkata-kata saat membuka halaman album lainnya. Kali ini karya foto yang dibuat di Taman Nasional Yellowstone. Album tersebut dipenuhi foto-foto fantastis kehidupan srigala.

Lama saya tercenung mambayangkan maksud seseorang yang mengirimkan alamat website ini sebagai komentar di foto saya itu. Mungkin beliau bermaksud baik mengajar saya cara memotret yang baik yang benar. Sebab seluruh karya Larry Thorngren tersebut dibuatnya di taman konservasi juga. Seperti taman konservasi Zion National Park dan Taman nasional Yellowstone.

Dikatakan pada biografi singkatnya,  Pada tahun 1980  dia memenangkan kontes foto Majalah National Wildlife dan sejak saat itu mulai menjual fotonya di pameran seni  dan kerajinan di Idaho serta negara sekitarnya. Karya-karyanya berhasil dimuat pada majalah dan kelender.

Kalau orang yang mengirimkan alamat website itu bermaksud membandingkan foto saya dengan karya yang terpampang pada halaman-halaman website si Larry Thorngren, tentu saja bagai membandingkan langit dan bumi. Sebab pemahaman fotografi saya tidak seberapa dan niat motret wildlifenya hanya sempat-sempatkan waktu luang saja.

Sementara Larry Thorngren mendedikasikan waktu dan hidupnya buat itu. Ataukah mungkin si pengirim alamat ini menyamakan karya foto saya dengan karya si Larry Thorngren. "Buat loe sih gak masalah. Tapi gak tau deh bagaimana pendapat si larry." Ujar seorang teman sambil tertawa.

Melihat karya karya pada album Larry Thorngren membuat saya makin bersemangat. Namun harus disadari bahwa masa dan lokasi perburuan foto yang dilakukan Larry Thorgren adalah waktu dimana kerusakan lingkungan tidak separah hari ini dan juga lokasi pemotretannya benar-benar suatu lokasi cagar alam yang dilindungi dari kepentingan manusia.

Saat ini keserakahan manusia demikian membabi buta. Hingga isu global warming menjadi ancaman nyata. Tentu saja situasi ini adalah pil pahit yang harus ditelan para penikmat fotografi nature ataupun wildlife.

Dengan akal dan pikiran fotografer yang tidak pintar seperti saya. Saya terus berupaya menyiasati situasi untuk tetap mampu mengabadikan gambar pemandangan disela-sela kerusakan lingkungan serta polusi. Sejak hari ini hingga nanti para fotografer yang punya semangat menjaga lingkungan hidup terus berupaya mengabadikan gambar-gambar tentang kehidupan satwa tanpa harus mengeluh.

Semangatnya adalah mengingatkan melalui karya foto yang mungkin sederhana. Bahwa keindahan alam dan kelestarian makhluk-makhluk ciptaan Tuhan nantinya hanya tinggal kenangan. Anak cucu kita nanti hanya bisa nikmati semuanya melalui foto dan film yang saat ini kita abadikan. Sebab semua tempat sepertinya akan dirambah oleh manusia. Entah demi tempat tinggal ataupun pemenuhan hasrat serakah keberadaan eksistensi yang mungkin manusiawi.

Semoga semua kita masih punya semangat untuk melestarikan sisa-sisa yang langka untuk terus ada. Semoga semua kita masih mampu dan mau mengarahkan kamera demi mencipta satu gambar yang bisa menceritakan sebuah pemandangan atau sisi kehidupan satwa yang jauh dari sentuhan manusia.

Tentu saja kita bukannya bersemangat membangun ilusi ataupun mimpi melalui hasil karya foto kita. Namun semangatnya adalah mengingatkan orang terdekat, atau maksimalnya pada teman-teman dan sahabat yang tertaut di jejaring sosial. Bahwa keindahan lingkungan serta kelestarian satwa butuh kemauan manusia untuk meredam sedikit saja nafsunya.

Ketika semangat yang mungkin caranya terlalu sederhana, yang maksudnya mengajak melalui fotografi untuk melestarikan lingkungan hidup kemudian diplesetkan kepada pandangan dan pemahaman yang kaku.

Topik pembahasannya justru diarahkan pada semangat yang membuat bingung. Tentang apa itu aturan, hukum serta kaidah-kaidah foto wildlife. Mau dibawa kemana sesungguhnya semangat dari saran kritiknya. Memang aneh namun ada orang-orang yang justru memilih posisi sebagai perusak semangat.

Semoga dengan membaca tulisan ini kita semua menjadi sadar, bahwa memberi teladan jauh lebih baik daripada mencemooh suatu niatan baik. "Mari kita dukung setiap niatan yang tujuannya demi dunia menjadi lebih baik." Teman saya semangat sekali. Tulisan ini harus saya hentikan. Soalnya di blackberry  saya ada bbm masuk.

Isinya tulisan dari kawan, “bukan tak ada rintangan kita jadi optimis. Tetapi karena optimis rintangan menjadi tidak terasa”. Begitu isi tulisannya. Saya membalasnya, “bukan karna mudah kita yakin bisa. Tetapi karna kita yakin bisa semuanya jadi mudah”. Tak lama dibalasnya lagi, “tidak ada hari yang meyulitkan kita. Kecuali kita sendiri yang membuatnya jadi sulit.” Saya tak mau kalah balas lagi, “Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang. Cukuplah berdoa untuknya.” Kali ini balasan cukup lama darinya. Hingga akhirnya saya terima tulisan pamungkasnya, “bila ada waktu. Ngopi yuk!”

 

Bayu Sahaja

Share ke teman anda

Comments

0 Bayu Sahaja 2012-03-27 05:47 #2
Quoting Andre Betterman:
Hebat Om.. Bisa ikut baca aja udah cukup menyenangkan. :roll:


Wkwkwkwkwk... Asyik. Jumlah Suaka Margasatwa yang dimiliki Indonesia ada sejumlah 73 lokasi dengan total luas 5.422.922,79 ha. 9 lokasi terdapat di pulau Jawa, 5 di Kalimantan dan 5 Suaka Margasatwa lainnya terdapat di Nusa Tenggara. Silahkan berwildlife disana kalau mau. Jangan ke Afrika ya! *Jauh :P :D
0 Andre Betterman 2012-03-26 17:26 #1
Hebat Om.. Bisa ikut baca aja udah cukup menyenangkan. :roll:

 

 

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja