Tidak semua penggemar kopi risau apalagi galau. Saat Mahkamah Agung mengesahkan keputusan Pengadilan Niaga Medan bahwa kopitiam adalah merk dagang yang dimiliki secara ekslusif seorang pegusaha Jakarta. Sehingga nantinya adalah pelanggaran hukum ketika ada orang yang menggunakan nama kopitiam tanpa ijin sang pengusaha.
Heran juga dengan keputusan ajaib tersebut. Cukup lama tinggal di Kepulauan Riau menjadikan saya
sedikit fasih mengatakan bahwa kopitiam adalah sebutan buat kedai kopi. Sebab orang Hokkien menyebut tiam untuk mengatakan toko atau kedai. Bercapur dengan bahasa Melayu, maka kopitiam sudah pasti adalah sebutan kedai kopi.
Memberikan hak patent pada seseorang bahwa kopitiam adalah merk dagangnya, sama kocaknya dengan memberi hak penuh bagi seseorang yang mengklaim sebutan warteg, studio foto atau pun rumah makan padang sebagai merk dagangnya. Sehingga pengusaha lain wajib bayar royalty pada si pemilik merk jika hendak menggunakan merk dagang tersebut.
Kopi yang kerap kita nikmati ternyata punya sejarah panjang. Dimana awal mulanya orang Ethiopia menanam biji-bijian yang setelah diracik dan diseduh mampu mengusir suntuk dan kantuk. Lalu bangsa Arab sebagai bangsa pedagang menyebarkannya ke Afrika Utara. Di negara tersebut pohon kopi dibudidayakan secara massal.
Dari sanalah kopi sebagai minuman menyebar hingga Asia dan Eropa. “Banyak orang bermasalah dengan kopi. Namun saya justru bermasalah kalau gak minum kopi.” Seorang teman penikmat kopi berceloteh sambil menikmati kopi di cangkirnya.
Begitu banyak fakta hasil penelitian yang menempatkan kopi sebagai minuman yang punya manfaat untuk kesehatan. Bahkan hasil penelitian Beth Reardon, seorang direktur di Nutrition for Duke Integrative Medicine, biji kopi adalah salah satu tanaman yang paling sulit untuk disemprot dengan bahan kimia, sehingga biasanya kopi bebas dari bahan kimia.
Kepintaran orang memilih kopi sebagai minuman andalan bukan mengartikan bahwa semua penikmat kopi merupakan orang-orang yang selalu punya solusi. Sebab banyak juga yang menjadikan kedai kopi sebagai tempat pelarian dari tanggung jawab.
Sekalipun kenyataannya sejarah kopi mulai abad ke-15 hingga awal abad ke-20, di warnai dengan hadirnya kedai kopi yang ramai dikunjungi filsuf, sastrawan dan seniman. Sehingga karya-karya dunia jaman klasik yang terus menginspirasi hingga kini, tidak lepas oleh kentalnya aroma kopi.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kedai kopi tidak melulu diwarnai oleh semangat positip. Konspirasi serta ide kejahatan juga punya tempat di kedai kopi. Jadi jangan heran ketika rekonstruksi suatu tindak kejahatan oleh polisi, salah satu tempat konspirasi kejadian perkara favorit adalah kedai kopi. “Namun karakter peminum kopi bisa dilihat dari apa yang dipesan ketika duduk di kedai kopi,” simpul teman saya. “Lihat dari mananya?” Tanya saya gak ngeh. “Begini. Jika seorang memesan kopi 2 gelas sekaligus plus juice buah segar serta cemilan sepiring roti. Maka dapat diduga bahwa si pemesan itu baru gajian.” Tutupnya sambil terkekeh.
Kopi dan seni secara sah dan meyakinkan punya kaitan. Ikatan kopi dan fotografi makin terbukti, kala beberapa penikmat foto berikrar membentuk portal komunitas bernama www.10nature.com. Tertera pada halaman about us di website tersebut. Bagaimana ritual diskusi setelah berburu foto adalah sambil rehat di kedai kopi.
Kopi telah memberi inspirasi demi terciptanya website untuk berkumpulnya fotografer penikmat foto nature. Disana dapat dinikmati foto-foto kelas dunia yang terbagi pada kategori, wildlife, plant dan landscape. Semangat go green demikian terpancar dari semangat diwujudkannya website ini. Isu global warming dan kerusakan lingkungan adalah situasi paling pahit yang harus ditelan oleh penikmat fotografi nature.
Namun semangat serta kreatifitas tiap insan berkiblat seni fotografi selalu punya cara menyiasati situasi. Dengan perangkat dan aksesoris fotografi serta sudut bidik tiap seniman foto mampu menghasilkan karya-karya indah mempesona.
Lensa dalam fotografi punya kemampuan mengisolasi subyek. Fotografer handal berkemampuan memasukan atau meniadakan obyek-obyek yang tidak berkenan tampil. Sehingga tercipta satu komposisi yang pada akhirnya punya daya kejut serta mampu membuat pemirsa fotonya betah lihat berlama-lama.
Karya foto yang bagus hadir tanpa batasan. Karya foto yang bagus mampu menembus batasan ruang dan waktu. Karna soal selera fotografi pada akhirnya demikian universal. Begitu banyak karya foto yang bahkan mampu mempengaruhi dunia. Tidak selalu dengan kontroversi adanya. Namun lebih kepada bagaimana sebuah pesan tersampaikan.
Biarkan foto yang bicara adalah satu slogan yang kerap terlihat pada t-shirt para penyandang kamera. Bukan artinya sebuah foto bagusnya tampil tanpa judul atau keterangan. Namun keduanya harus lah saling mendukung menguatkan. Bukan justru memberi keterangan menyimpang sehingga para pemirsa salah paham. Karna sebingkai gambar karya fotografi memungkinkan banyak hal. Mulai dari salah pemaknaan hingga pemelesetan arti
yang keterlaluan.
Selalu butuh sejenak waktu guna mampu mengapresiasi secara baik. Disanalah judul dan keterangan memberi batasan yang sedikit banyak akan memudahkan penikmatnya menyelami cerita yang dipantulkan oleh sang fotografer. “Makkk. Tinggi sekali bahasanya. Pakai mantul segala. Memangnya jidat lo mantul!” Teman saya langsung ambil kesempatan untuk menyakiti.
Sebagai penikmat kopi. Halal rasanya jika selalu bertanya pada si penjual bagaimana caranya dia meracik kopi. Ini perlu supaya tidak menyesal setelah kopi tersaji. Sebab seduhan kopi yang buruk saat pagi, akan merusak suasana hari berkepanjangan. Terutama pada kedai-kedai yang baru pertama dikunjungi.
Berdasar pengalaman dan pengamatan. Selera akan kopi itu berbeda-beda. Ada yang suka manis. Artinya komposisi lebih sedikit bubuk kopi dari pada gula. Bahkan sebelum disajikan sang penjual dengan tega mengaduknya begitu semangat. Alhasil kopi seduhan itu memancarkan wangi gula yang berlebih.
Tidak boleh dibantah. Karna itu menyangkut selera yang butuh waktu lama membentuknya. Saya justru suka yang tidak terlalu manis. Buat saya cita rasa kopi memang rada pahit tercampur asam yang tidak terlalu. Untuk mencapai rasa itu perlu tingkat panas yang ideal. Sehingga aroma kopi keluar secara tepat. Terkadang orang ikut merendam cangkir kopi dalam air panas juga. Sehingga suhu panas kopi tetap terjaga saat cangkir yang memang panas siap untuk menyajikan kopi. Gula yang jumlahnya tidak merusak aroma kopi sangat saya idamkan.
Ada yang melakukan teknik mencampurkan kopi dilakukan secara khas. Cangkir kopi diisi gula secukupnya. Lalu air panas mendidih yang sudah bercampur kopi dituangkan. Saringan rapat berbahan seperti kaos akan memisahkan ampas kopi. Dengan demikian kopi siap dihidang tanpa perlu si penyaji mengaduknya.
Karna jika terlalu semangat mengaduknya. Maka gula pasir di dasar cangkir akan lumat tercampur dan menjadi terlalu manis nantinya. Mengaduknya dengan sentuhan pribadi. Perlahan lalu mencicip sedikit demi sedikit hingga tercapai rasa yang sesuai selera adalah aturan anjuran yang tidak tertuliskan. Begitulah ritual ngopi buat saya. Bahkan tiap penjual langganan sudah paham.
“Satu. Kopi cangkir. Kurang gula!” Demikian instruksi pelayan pada peracik kopi di dapur saat lihat saya masuk kedainya. Saya langsung menyambut instruksinya tersebut dengan kata-kata gembira, “tidak perlu manis. Yang penting setia!”
Bayu Sahaja






Comments
Yakin? Sekarang?! Kopi panas atau kopi dingin neh?
Ups... kalau Master AR seleranya manis dan juga setia pastinya.
Wah wah wah... tantangan yang sulit ditolak nih.
Terimakasih kunjungannya Mas Agus.
RSS feed for comments to this post