Ini bukan tulisan soal bagaimana para anggota wakil rakyat tidak mungkin terkena penyakit gangguan fungsi hati. Karna kita semakin tahu bahwa kebanyakan dari wakil rakyat kita itu tidak punya hati. Jadi bagaimana mungkin bisa sakit hati.
Dikala terlalu banyak masyarakat yang mereka wakilkan hidup dalam kesulitan. Para wakil rakyat yang terhormat malah sibuk buat pembenaran rencana renovasi yang melahap biaya milliaran Rupiah.
Juga sepertinya tanpa hati, ketika mereka malah sibuk buat aturan soal rok mini dilingkungan gedung dewan tersebut. Demi kewibawaan dan sopan santun katanya.
Padahal kita tahu bahwa tidak ada pengaruh sama sekali antara penggunaan rok mini yang semakin tinggi dengan melambungnya harga BBM. Tidak juga ada korelasi antara tingginya rok mini dengan semangat oknum wakil kita itu yang beberapa waktu lalu tertangkap basah kamera wartawan saat asik nonton film porno melalu gadgednya di saat bersidang. Sebab kata ahli, soal syahwat itu adanya dipikiran. Tidak semua laki-laki terangsang lihat wanita pakai rok mini.
Buktinya ada teman yang blingsatan birahi tatkala lihat wanita yang justru sedang pakai wearpack dan berlumur oli. “Jadi kalau soal terangsang dan tidak terangsang bukan dipicu dari tingginya rok mini. Tapi lantaran otak kamu aja yang memang sudah kotor!” kata teman saya sewot.
Tulisan ini juga tidak terkait soal mata wakil rakyat kita yang sibuk mencari-cari gambar porno ataupun yang matanya jelalatan lihat betis mulus bersanding rok mini. Bukannya menuduh wakil rakyat kita begitu. Tapi orientasi berpikir mereka itu tercermin dari keputusan-keputusannya. Semangatnya terpancar ketika bahas soal pornografi dan rok mini. Haruskah kita melihat tingkah polah para wakil rakyat itu dengan sudut pandang positip.
Sejatinya mereka-mereka itu telah susah payah mengejawantahkan bagaimana seharusnya mewakilkan kita-kita ini rakyatnya. Mereka dengan suka rela mewakilkan kita untuk bisa memiliki rumah dan mobil mewah. Mereka juga dengan iklas telah mau mewakili kita untuk punya kantor serta fasilitas super duper nyaman.
Kursi rapat kualitas import, toilet mewah serta kudapan penunjang semangat rapat yang enak. “Melihat para wakil rakyat kita hidup nikmat full fasilitas dalam bertugas mewakili kita, harusnya kita ikutan bahagia. Bukankah nota bene mereka bisa menikmati semua itu karena kita yang memilihnya." Ujar teman saya miris.
Tulisan soal mata hati ini hanya berkutat pada bagaimana saya mendapat nasehat yang berakhir pada tercerahkannya hati saya oleh perkataan seorang sahabat. Pada satu sesi perjalanan bersama beberapa teman. Seperti umumnya penggemar fotografi. Kemana-mana kamera tergantung di bahu. Ini bukan kamera berukuran mini.
Ini kamera dengan bobot lebih dari 2 kilogram tidak termasuk pack baterai tambahan dan lensa panjang sebesar bayi. Belum lagi aksesoris lain yang tersandang di ransel. Dimana setiap fotografer kemudian merasa gagah menyandangnya. Di dalamnya tentu saja ada body kamera tambahan yang statusnya bukan serep. Tapi body kamera yang fungsinya juga berbeda karena telah dimodifikasi sedemikian rupa serta dipasangi lensa sesuai kebutuhannya. Pada satu kesempatan di depan counter boarding bandara, iseng menimbangnya.
Berat masing-masing jinjingan berisi peralatan motret tersebut rata-rata 10 kilogram. Nikmatnya hunting di luar kota adalah kita jadi punya sensasi seperti turis asing. Dikit-dikit terpesona oleh pemandangan yang sebetulnya biasa saja. Pokoknya tiada yang terlewat. Semua kena potret. Pohon, kucing, anjing, bak sampah, tulisan dinding, tukang jamu, penjual bakso dan semua yang sebetulnya sering di jumpai di lingkungan sendiri jadi terlihat menarik untuk di foto.
Kreatifitas sudut bidik serta ramuan kombinasi rumusan motret seringkali membuat obyek biasa jadi luar biasa. Sesungguhnya obyek foto itu selalu ada di sekitar kita. Namun kenapa saya justru semangat motretnya kalau sudah ada dilingkungan yang baru pertama di lihat. “Mungkin itu yang di istilahkan out of the box”. Ujar teman saya ngawur.
Sensasi ini sepertinya dirasakan oleh setiap orang yang hobby fotografi. Bahkan terkadang saya akhirnya merasa membabi buta untuk motret apa saja. Jepret sana jepret sini. Tidak perduli orang lain risi atau merasa terganggu oleh ulah saya yang bertingkah lebih dari paparazzi.
Begitulah. Pagi-pagi tanpa mandi lantaran airnya dingin bukan kepalang. Sambil menikmati segar sejuk udara pagi dan pemandangan berkabut suasana pegunungan. Sahabat saya menawarkan secangkir kopi seduhannya yang katanya racikan special. Tidak sanggup menolaknya.
Sudah menjadi prinsip saya untuk tidak pernah menolak tawaran ngopi. Apalagi yang gratis. Sambil menikmati kopi panas. Saya terus sibuk mencari–cari sudut bidik pemandangan gunung tepat di hadapan kita. Lokasi penginapan kami itu berada pada ketinggian 2500 meter di atas permukaan laut.
Terbayang dinginnya. Sarung tangan, topi yang menutup telinga, syal serta jaket tebal jadi pelengkap. Berapa kali teguk kopi yang ternyata memang nikmat sekali segera ludes. Saya mulai lagi celingak-celinguk dengan kamera di tangan untuk mencari-cari sudut bidik. Berkali-kali melepaskan bidikan pada pegunungan berkabut.
Mencoba memasukan ujung-ujung ranting pohon sebagai penghias framing. Begitu saya ingat saran ahli foto landscape. Untuk memasukan unsur foreground sebagai penghias dan pemberi efek dimensi karya foto. Konsentrasi saya buyar ketika sahabat saya itu berujar, “terkadang tidak semua hal bisa indah di foto. Menikmatinya dengan mata dan hati akan lebih nikmat”. Ujarnya tanpa ekspresi.
Saya terdiam. Merenungi kata-katanya sambil mempraktekan apa yang dilakukannya semenjak tadi. Menyesal kopi nikmat pemberiannya telah saya tuntaskan. Saya iri melihatnya menggengam cangkir kopi. Menyeruputnya pelan-pelan sambil memandang keindahan suasana pegunungan pagi. Nikmat sekali.
Ternyata tanpa disibukan dengan kemera, keindahan alam menjadi lebih nyata. Lebih hidup. Semuanya bisa dinikmati. Udara yang kita hirup, Hijau tipis pepohonan tertutup kabus tipis kemudian tebal di kejauhan, Aktifitas penduduk setempat, irama suara serangga serta desau angin yang semilir di antara pepohonan. Semuanya menjadi satu kesatuan yang sulit dijelaskan tanpa kita diam. Ternyata diam adalah cara menikmati segalanya. Panca indera pemberian yang kuasa punya cara untuk memberi sensasi untuk kita lebih menghormati keberadaan alam.
Sejak lama saya menyukai kamera. Kita tahu kalau film atau sensor dan lensa mata kamera punya keterbatasan dalam merekam gambar. Manusia berupaya membuat banyak varian kamera dan lensa untuk bisa merekam berbagai kebutuhan penikmat fotografi. Hasil maksimalnya tetap saja butuh polesan tahap akhir sebelum disajikan pada pemirsa.
Namun yang kuasa memberi kita mata hati. Dalam sekejap semua bisa dinikmati. Sensor mata normal dengan cepat mampu beradaptasi dalam kondisi cahaya bagaimana pun. Di situasi gelap pupil mata otomatis mengecil. Pada cahaya terang pupil mata seketika menyesuaikan diri menjadi besar. Itu semua pemberian yang kuasa sehingga tanpa kita perintah sudah otomatis
bekerja.
Sekian lama saya lupa menggunakannya. Pada tempat-tempat indah mengagumkan. Dimana alam menunjukan jati dirinya yang perkasa. Saya lupa diam juga lupa untuk hening.
Pada tempat-tempat yang berprivacy tinggi seperti restoran atau pub, saya selalu sibuk jepret sana jepret sini. Hingga lupa diri bahwa banyak orang terganggu dengan cahaya flash kamera saya yang besar dan mahal.
Tidak semua orang nyaman untuk diabadikan dalam bentuk foto. Apalagi oleh orang yang kita tidak tahu siapa gerangan. Bisa saja orang berprasangka dan curiga, bahwa foto-foto tentangnya akan digunakan untuk hal yang tidak di inginkannya.
Harusnya kita menghargai tempat-tempat berprivacy. Menghormati hak orang lain untuk tidak di foto ataupun merasa difoto lantaran lampu flash kita yang menyala kearahnya. Kecuali atas ijinnya yang dengan senang sukarela ikut terabadikan bersama komposisi arsitektur yang ingin kita komposisikan dalam foto karya kita. Kalau tempatnya terlalu umum, mungkin bebas saja kita mengambil gambar.
Mungkin ingat foto Gayus yang tercandid saat nonton tenis di Bali. Dimana seharusnya beliau berada dalam tahanan. Tentu saja dengan contoh kasus Gayus itu, menjadi mudah kita membedakan wacana privacy yang saya maksudkan. Kata-kata sahabat saya tentang melihat dengan mata hati membuat saya sadar akan kekuatan diam. Betapa dalam diam kita tahu yang berkoar-koar adalah sesiapa yang justru tidak punya kekuatan.
Dalam perjalanan pulang. Kendaraan yang kami tumpangi melintasi jalanan berkelok. Begitu banyak tempat-tempat yang indahnya luar biasa. Saya tidak memotretnya. Karna percuma. Pasti tidak bagus hasilnya. Terlalu banyak keindahan yang hanya bisa dinikmati melalui mata hati saja. Terimakasih sahabat. Akhirnya saya mengerti untuk menghargai.
Bayu Sahaja






Comments
Terimakasih kunjungannya Mbak Nurul. Sukses yah...
mata hati nice artikel pak
RSS feed for comments to this post