Kebutuhan manusia modern untuk dapat melihat dan dilihat adalah sebuah keniscayaan. Mungkin itu merupakan tuntutan dasar dari keberadaannya sebagai makhluk visual.
Terlihat dibanyak mall. Kecendrungan dekorasi tempat makan masa kini adalah rancang bangun yang memungkinkan orang yang sedang makan bisa dilihat sekaligus bisa lihat-lihat sesiapa yang lewat. Tidak lengkap rasanya hidup tanpa iklan. Dengan begitu semua orang juga berupaya mengiklankan dirinya. Dengan mobil, pakaian, parfum, sepatu, gadged mutahir dan lain sebagainya.
Tujuannya tentu saja untuk membuat para korban iklan jadi sedikit mandang dan tahu dimana kelas kita. Ini bukan sekedar pamer atau sombong namanya. Ini sudah merupakan bagian dari gaya hidup modern.
Jadi jangan malu-malu lagi mengiklankan diri. Minimal supaya orang tahu anda itu profesinya apa. Kalau pejabat ya harus tetap nekad pakai jas atau baju safari. Sekalipun masuk kategori salah kostum ketika kunjungannya adalah peresmian sebuah resort penunjang bisnis pariwisata. Sudah pasti acaranya di pantai yang sangat tidak cocok berpakaian jas dan berdasi segala di sana.
Aneh sendiri bukan masalah. Terpenting semua mengerti dan segera bisa membedakan mana pejabat mana yang bukan. Saya itu jenis yang sangat sederhana. Jadi hanya punya 2 buah sepatu. Tentu saja satu kiri dan satunya lagi kanan. Keduanya punya ukuran dan model yang sama. Lantaran ini sepasang adanya. Kalau berbeda nanti saya dibilang gila. Kekantor, kepasar, ke undangan,
ataupun sedang usaha nyari pinjaman, ya sepatu itu yang saya pakai.
Bagi saya sepatu dan jam tangan harus cocok dipakai kemana saja. Bahkan petunjuk tanggal pada jam tangan saya sudah rusak sejak lama dan belum ada niatan juga menggantinya. Terlalu sederhana memang. Tapi mau bilang apa lagi. “Potongan kamu itu mirip-mirip gempa bumi yang kemudian diterjang tsunami. Jadi sulit didandani!” Begitu sahabat dekat saya bilang.
Ibarat anak tangga. Kebutuhan manusia dalam hidupnya itu berjenjang. Tiap tahapan pencapaian hidup akan saling berkaitan. Dipengaruhi oleh faktor seperti usia, pendidikan dan kemampuan ekonomi. Semuanya menjadi formula yang menentukan di tingkat mana kebutuhan yang ingin dipenuhinya.
Bahkan, Abraham Maslow (1908 - 1970) seorang psikolog asal Amerika pernah mencoba untuk memetakan pertanyaan tersebut dalam karyanya yang dipublikasikan dengan judul, “Theory of Human Motivation” pada tahun 1943.
Pada karyanya tersebut Maslow merumuskan kebutuhan manusia dengan bentuk pyramid yang kemudian di bagi dalam 5 bagian mulai dari dasar hingga kerucutnya. Pada bagian paling dasar dijelaskan disana, manusia berupaya memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan badaniah. Seperti makan, tidur, minum, seks, pakaian dan lain sebagainya.
Terlihat bahwa kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang bila tidak dipenuhi maka orang akan kesulitan menjalani hidup selanjutnya. Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi, manusia akan butuh yang namanya rasa aman. Rasa aman ini berkait dengan keamanan diri, keamanan ekonomi, keamanan kesehatan, keamanan pendapatan dan sebagainya.
Setelah dua kebutuhan yang bersifat individu tadi terpenuhi selanjutnya manusia akan mulai masuk pada tahap kebutuhan akan kasih sayang. Di sini kebutuhannya adalah bagaimana dirinya bisa dekat dengan keluarga, teman, sahabat dan bisa diterima pada lingkungan sosial. Termasuk di dalamnya kebutuhan untuk berbagi cerita serta perhatian merupakan tuntutan untuk dipenuhi.
Biasanya setelah mampu memenuhi tiga kebutuhan terdahulu. Setiap orang akan butuh rasa percaya diri. Umumnya kebutuhan ini akan muncul saat tiga kebutuhan sebelumnya terpenuhi. Namun pada orang-orang tertentu bisa saja kebutuhan untuk tampil percaya diri ini didahulukan dan mengabaikan kemampuannya dalam menutupi tiga kebutuhan sebelumnya.
Jangan heran ketika ada orang yang mampu memanipulasi situasi. Menempatkan diri seolah kebutuhannya ada di level yang tinggi. Padahal menutupi kebutuhan dasar saja sudah megap-megap.
Ketika semua kebutuhan sebelumnya telah terpenuhi, akhirnya orang akan mempunyai kebutuhan tahap akhir. Yaitu kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan untuk menjadi yang terbaik. Kebutuhan untuk menjadi yang paling benar ada pada tingkatan ini. Walaupun pada kenyataannya tidak semua orang berkesempatan mencapai tiap tahap kebutuhan manusia itu. Lantaran dalam hidup juga banyak tantangan dan kendala.
“Kalau kamu tidak perlu ikutan mikir. Masalah kamu jelas! Membedakan mana kebutuhan dan yang mana keinginan saja belum becus!” Ujar teman saya sewot sambil melotot ke saya.
Untuk punya keinginan, dasarnya adalah kita harus punya kebutuhan dulu. Kita tidak mungkin menginginkan sesuatu yang tidak kita butuhkan. Keinginanlah yang kemudian mendasari motivasi seseorang untuk mencapai sesuatu. Ketika butuh punya foto landscape yang bagus. Saya jadi menginginkan lensa wide yang ideal buat motret pemandangan. Kemudian naluri melecut motivasi saya untuk berusaha. Usaha maksimal yang bisa saya lakukan adalah cari pinjaman kawan untuk modal membeli lensa wide impian.
Demikianlah, akhirnya bisa saya pahami bahwa saya itu paling senang dan giat mempelajari sesuatu yang saya butuhkan. Masalahnya adalah saat kecil dulu saya tidak memahami bahwa pelajaran bahasa Inggris dan matimatika itu adalah pelajaran yang sangat saya butuhkan sekarang ini.
Sayangnya juga, guru-guru saya dulu walaupun maksudnya baik. Tetap saja selalu menggunakan upaya paksa sejak awalnya untuk saya mau belajar dan mengerti. Mereka gunakan penggaris dan cubitan untuk mendisiplinkan saya. Sehingga yang terjadi, bukannya saya menjadi membutuhkan pelajaran tersebut. Justru menjadi antipati. Bahkan diwaktu tertentu jadi nekad membolos sekolah demi menghindari terkaman pelajaran berguru kejam tersebut.
Padahal mungkin saja bila sejak awal pelajaran, sang guru yang berniat baik tersebut mau meluangkan waktu memperkenalkan dengan cerita, betapa pentingnya ilmu yang dia ajarkan. Ilmu yang akan sangat berguna dan dibutuhkan di masa depan. Bisa jadi saya akan jadi rajin belajar kala dulu. Karna sekarang saya kerap menyesal. Dimana setelah besar harus kursus khusus dalami beberapa ilmu yang saat kecil dulu saya hindari lantaran takut dengan gurunya.
Juga bukan rahasia lagi, bila orang banyak termotivasi melakukan sesuatu lantaran kebutuhan masa lalu yang tidak terpenuhi atau tercapai. Ada teman yang semangat bercita-cita jadi polisi lantaran dulunya punya pengalaman buruk akan perlakuan seorang oknum polisi padanya.
Banyak juga yang termotivasi sekolah tinggi-tinggi supaya tidak mungkin lagi jadi petani. Para petani tidak ada yang rela iklas anaknya jadi petani mengikuti dirinya. Karna petani di negri ini selalu saja jadi korban dan dibodoh-bodohi. Pada Kata Foto “Petani” saya mengulas soal itu. Makanya kini saya banyak maklum menyaksikan kelucuan demi kelucuan yang terjadi disekitar saya.
Mungkin saat kecil dulu, saya selalu dipersalahkan dan tidak pernah diminta pendapatnya. Sehingga setelah dewasa. Saya jadi pribadi yang keras kepala dan maunya menang sendiri. Bisa jadi dalam
hidup seseorang, saat kecil tidak pernah dihargai pendapatnya.
Sekarang saat dewasa jadi membabi buta dan menghalalkan segala cara untuk kejar-kejar prestasi. Mereka-reka lalu coba memahami situasi tingkah laku seseorang berdasar kebutuhan hidup dan masa lalu. membuat saya menjadi maklum diselingi rasa kasihan.
Ketika kelakuannya masih dalam batas toleransi, tidak merusak dan tidak langsung mengganggu saya ataupun kelompok, biasanya saya membiarkannya saja dan tidak mau ambil pusing. Lantaran saya paham tingkah laku yang negatip itu bisa jadi dilakukan tanpa disadari dan merupakan konpensasi.
Manusia normal itu selalu butuh konpensasi. Tidak pintar di kelas, konpensasinya mahir main game online. Tidak lulus ujian belajar di sekolah, konpensasinya jadi bintang pada acara kontes musik. Tidak pernah jadi juara lomba foto, konpensasinya sukses jadi panitia lomba foto. Begitulah. Namanya juga manusia. “Maklum itu indah ya mas?” Ujar teman saya sambil manggut-manggut. Seratus persen saya yakin. Teman saya itu tidak mengerti soal ini.
Bayu Sahaja






Comments
Mantap. Gimana kalau kita pasang baliho iklan pinggir jalan itu. Seperti para caleg itu.
inspiring article
inspiring article
RSS feed for comments to this post