Suatu pagi ada pesan SMS masuk ke handphone saya, “Kesedihan, masalah, kesusahan dan penderitaan banyak disebabkan oleh yang namanya uang. Sebagai sahabatmu, ku mohon agar kamu menyerahkan semua uangmu padaku. Biarlah aku saja yang sedih dan menderita. Aku rela!” Begitu bunyi pesan yang membuat saya senyum-senyum.
Sepertinya yang namanya bahagia adalah cita-cita dari semua orang. Semua mau bahagia.
Mereka pergi ke ujung dunia untuk mencari kebahagiaannya. Bahkan banyak orang yang rela menukarkan semua uangnya untuk membeli kebahagiaan.
Saya sendiri adalah type orang yang selalu sibuk mencari-cari kebahagiaan. Entah dengan berpergian kesuatu tempat ataupun mencarinya pada orang lainnya. Biasanya kita menyebutnya persahabatan. Pada suatu tempat, pada orang lain ataupun hewan kesayangan saya mencari yang namanya bahagia itu.
Hingga di suatu titik akhirnya saya menyadari. Bahagia itu mustahil dicari-cari pada tempat, benda, orang ataupun hewan peliharaan. Yang namanya bahagia itu haruslah diciptakan. Kesadaran baru saya mengatakan bahwa, kita tidak mungkin bahagia hingga kita berpikir bahwa kita bahagia. Karna bahagia bukan bertumpu pada soal punya atau tidak punyanya harta berjumlah tertentu.
Kondisi kekayaan bukan hal utama untuk kita berbahagia. Bahagia adalah hak sekaligus kewajiban. “Kalau begitu, mari kita berbahagia!” ujar teman saya girang.
Terkadang kita bingung melihat orang yang menghabiskan seluruh waktunya demi uang. Ketika semua uang impiannya sudah terkumpul. Akhirnya ia harus merelakan uangnya demi kesehatannya. Lantaran saat berupaya mengumpulkan uang dia mengorbankan pola hidup sehatnya.
“Di saat muda berburu uang untuk cari penyakit. Saat tua menghamburkan uang demi cari sehat.” Begitu teman saya merumuskan pola hidup saya. Kebanyakan orang seperti saya, begitu kuatir akan masa depan. Sehingga sama sekali kesulitan menikmati masa kini. Padahal semua juga tahu kalau hidup itu ada batasnya.
Terkadang terpikir bahwa seharusnya saya bisa menikmati masa kini. Secara realistis saya tidak ingin hidup seribu tahun. Banyak kisah dan pemandangan tidak aduhai berkaitan orang yang usianya sudah lebih dari 100 tahun.
“Kalau usia kamu sudah 100 tahun nanti. Saya harap saya sudah mati. Karna saya tidak sanggup melihatmu dikala tua. Terbayang diusia kamu sekarang saja kelakuan kamu sudah begitu menyebalkan. Gimana nanti!” Teman saya mengeluarkan jurus lidah apinya lagi. “Saya menerimamu apa adanya.” Begitu saya menjawab celotehnya.
Teman saya itu sama sekali tidak percaya apa yang saya katakan. Senyum-senyum dia memperhatikan wajah saya. Mencari-cari unsur canda atau maksud menyakitkan dari kalimat saya. Tapi memang itu bukan maksud saya saat itu. Tulus saya ucapkan begitu demi bahagianya saya sendiri dan dirinya. Melihat dia diam saya lanjutkan kata-kata saya, “Karna masih lumayan lama menunggu kamu mati. Mau gimana lagi, ya terpaksa saya terima nasib!” kata saya sambil tertawa melihatnya terpana sesuai dugaanya.
Maafkan dan lupakan. Bagi saya melakukan dua hal tersebut adalah hal paling sulit di dunia. Walaupun untuk memaafkan suatu kesalahan saya bertekad naik anak tangga 1000 undakan 3 kali bolak-balik supaya bisa lupa. Tetap saja akhirnya saya ingat lagi. Ungkit-ungkit lagi kesalahan itu.
Padahal saya selalu manis di bibir untuk bilang, “saya sudah memaafkan dan melupakannya!” Sejatinya saya sadar bahwa tidak memaafkan suatu kesalahan orang lain dan melupakannya, adalah ganjalan terberat untuk saya bisa bahagia. Namun begitu masih saja saya bisa tertawa lepas saat ketemu orang yang punya salah itu. Sepertinya tanpa beban. Padahal dalam hati dongkolnya setengah mati.
Apakah ini merupakan anugrah. Dimana saya punya kelebihan kemampuan menyelimuti, membungkus dendam dengan senyuman seolah tulus namun tidak manis tentunya. Sejujurnya saya katakan bahwa ketidak mampuan saya dalam soal memaafkan dan melupakan adalah pagar yang menghalangi pencapaian kebahagiaan saya.
Padahal bila direnungkan tidak ada kesalahan yang terjadi yang dilakukan oleh satu orang. Dalam kebanyakan kasus selalu ada interaksi. Munculnya suatu kesalahan atau masalah selalu saja terjadi manakala melibatkan dua orang atau lebih. Realistisnya lagi adalah tidak ada seorangpun yang melakukan suatu kesalahan 100%.
Sebetulnya selalu ada celah untuk membuka pintu maaf. Kebiasaan salahnya lagi, saya itu selalu memberi syarat terhadap sesuatu permohonan maaf. “Jika saya maafkan. Kamu harus janji tidak akan mengulangi lagi kesalahan itu!” Begitu biasanya kalimat penutup saat saya dengan pongah membuka pintu maaf.
Ternyata dengan syarat begitu justru membuat saya jadi lelah curiga, menduga-duga dan menunggu-nunggu dilakukannya lagi kesalahan berikutnya. Padahal hingga hari ini dan seterusnya, saya selalu bertekad untuk mampu melakukan tindakan memaafkan dan melupakan.
Namun apa daya. Takdir saya mengatakan lain. Mengatakan dengan ketus, “tiada maaf bagimu!” sepertinya lebih membahagiakan saya. Teman saya senyum-senyum bilang, “saya maklum kalau mas bersikap begitu. Saya tahu jiwanya mas.” Katanya serius. “Kenapa dengan jiwa saya?” Tanya saya penasaran. “Sedikit terganggu!” Sambutnya sambil menjauh.
Dididik dan dibesarkan pada lingkungan budaya yang melempem. Dalam kebanyakan kasus saya justru selalu menunda penyelesaian. ‘ah sudahlah, ah gak apa-apa, maklum saja,’ adalah kata-kata yang biasa saya ucapkan untuk menunda penyelesaian. Padahal dalam hati dongkolnya luar binasa.
Tindakan saya itu laksana menimbun menyumbat kawah gunung berapi yang bergolak. Semakin lama endapan tekanan semakin kuat. Hingga pada suatu ketika. Kesalahan yang tidak seberapa malah bisa memicu ledakan amarah yang dahsyat. Kemarahan tersebut akhirnya sulit dijelaskan. Karna timbunan masalah sudah demikian melimpah banyaknya. Saya kerap mentoleril ketidak sesuaian sesuatu.
Padahal dalam hati tidak sepenuhnya menerima apalagi memaafkannya seketika itu. Akhirnya, toleransi demi toleransi tadi menjadi ibarat tali gantungan yang menjerat leher sendiri. Kini saya belajar intropeksi diri ketika suatu terjadi, haruskah saya marah? Mengapa kesalahan ini terjadi? Apakah sesuatu mejadi lebih buruk bila dibiarkan? Di sana juga saya merenungkan, di mana peran saya hingga suatu perselisihan atau pertengkaran terjadi? Ketika langkah terhadap diri sendiri selesai saya lakukan. Kesimpulannya, jika dibiarkan situasi menjadi lebih buruk. Maka saya berupaya melakukan pembicaraan dengan kepala dingin tentunya.
Dengan semangat setebal lapisan baja kendaraan perang,
saya berusaha untuk supaya pembicaraan tidak melebar kesana-kemari yang tidak perlu. Dalam situasi pembicaraan seperti itu hendaknya kesombongan dengan pamer harta dan kekuasaan harus saya redam, seperti kata-kata, ‘saya ini karyawan perusahaan besar! Saya ini fotografer handal! Atau, saya ini juara lomba!’ Harus sama sekali ditiadakan.
Semoga saya kuat melakukan semuanya supaya tercapai satu kata mufakat demi penyelesaian masalahnya.
Akhirnya tercapailah kata maaf dan berujung pada situasi dimana semua pihak bisa melupakan masalahnya. “Hahaha…” tiba-tiba teman saya ketawa lepas keras. “ideal sekali impian orang yang jiwanya sedikit terganggu ini!” Lanjutnya lagi sambil makin menjauh dan terus mentertawai saya.
Marah sekali saya pada teman saya itu. Candanya sangat keterlaluan menghina dan tidak pada tempatnya. Dalam hati saya mengumpat, “sangat tidak mungkin saya memaafkan tindakannya kali ini!”
Bayu Sahaja






Comments
akan terus setia menyimak.... Semoga.
RSS feed for comments to this post