joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Pusing

Email Cetak

“Harusnya kamu bersyukur kalau pusing atau sakit kepala begitu. Itu merupakan pertanda kalau kamu masih punya kepala.” Begitu seorang teman berceloteh saat saya mengeluh mumet padanya.

Ini adalah celoteh paling menyebalkan yang pernah saya dengar. Meskipun semua tahu kalau mulut saya pedasnya luar binasa. Tapi kenapa ya, kalau ada orang ngomong pedas ke saya, tetap saja sakit rasanya.

Bagi sebagian orang, nasehat soal menikmati pusing itu  terdengar biasa saja. Sayangnya, kalimat ini disampaikan tepat pada saat kepala saya benar-benar mumet. Bingung membedakan mana keinginan dan mana yang kebutuhan. Semuanya terlihat begitu penting dan semuanya minta diutamakan.

Apalagi di sela-sela kepusingan itu, Yang Maha Penentu dan Maha Mahir Becanda mengeluarkan jurus andalannya. Seperti biasa, ketika saya meminta padanya kekuatan yang diberikan justru cobaan. Bahkan yang terasa lebih tega lagi, adalah saat saya meminta rejeki yang datang justru orang yang harus saya bantu. Begitulah keberadaannya. Butuh menyendiri dan merenung untuk kemudian dapat memahami bahwa segala yang diberikannya bukanlah apa yang saya inginkan. Saya hanya diberikan yang sejatinya adalah apa-apa yang saya butuhkan.

Walaupun pada kenyataannya selalu saja saya protes dan mengucap, “kenapa saya yang harus mengalami penderitaan ini? Bukankah si ini atau si itu yang lebih pantas mengalaminya ya Gusti.” Begitulah egoisnya saya. Cobaan yang saya alami tidak pernah sedikitpun saya terima serta merta sebagai ujian kehidupan. Pada kenyataannya, semua rintangan serta kesulitan adalah tantangan yang memancing saya bereaksi. Dari situ saya dapat pengalaman dan pemahaman untuk bisa jadi sedikit dewasa mengarungi samudera kehidupan. “Sebesar apa tuh karungnya?” Tanya teman saya usil sambil cengengesan.

Biasanya orang bisa berteman atau bersahabat lantaran dua pribadi yang saling mengisi. Salah satunya mungkin keras kepala dan yang satunya lagi tidak mau mengalah. Dengan begitu hubungan itu menjadi lengkap penderitaannya. Namun adalah keserakahan saya, jika dua kelebihan itu saya monopoli semuanya. Terkenal keras kepala sekaligus tidak mau mengalah. Maka hanyalah orang-orang berpredikat super pemaaf dan maha sabar saja, yang mampu tahan lebih dari 5 menit bersama saya. Ini bukan sekedar bagaimana saya senang melihat orang susah dan susah lihat orang lain senang.

Terkadang saya menyadari, bahwa kekejian saya lebih dari itu. Kerap kali secara sistematis, saya melakukan pembiaran-pembiaran dari kesalahan yang dilakukan orang lain. Apalagi kalau bukan demi membiarkan orang-orang tersebut terus salah selamanya. Sebab kritik dan saran pada orang yang sedang berproses belajar merupakan obat demi lebih baiknya mereka kelak.

Kalau harus memberikan contoh sekalipun, saya berpikir keras agar supaya contoh yang saya berikan tersebut sulit dimengerti apalagi dipahami. Di situlah saya terkadang merasa menang. Berhasil membuat semua orang bingung. Seperti saat share karya foto. Maka dengan semangat menggebu. Saya akan mengedit karya foto itu sedemikian rupa demi menyesatkan pendapat pemirsa.

Pelanggaran-pelanggaran dasar estetika fotografi tega saya lakukan dengan melupakan reputasi saya yang gemilang dikancah lomba foto dunia. Semuanya hanya demi untuk menyesatkan para pemula. Niatnya sih supaya mereka semua belajar berproses seperti saya. Tidak rela rasanya para pemula jadi penikmat hasil akhir. Sudut bidik, komposisi, ramuan teknik diagfragma, kecepatan dan ISO tinggal meniru. Sementara saya mencapai tahap kini dengan pengorbanan darah dan air mata. “Cieeee… Segitunya! Sejujurnya kamu ini ngomongin siapa sih?” Si menyebalkan. Teman saya itu nyeletuk lagi.

Rasanya adalah talenta, jika saya berkemampuan mengumpulkan orang. Mengorganisasikan banyak orang, tentu perlu keahlian. Pastinya tidak semua orang bisa melakukannya seperti saya. Dukungan berbagai pihak dibutuhkan. Suatu ketika ada yang mencibir saya dengan kata-katanya melalui pesan singkat. Begini bunyi SMSnya, “sekarang mengajar silat ya mas?” sontak saya kaget juga. Sebab jurus bela diri begitu sama sekali tidak saya kuasai. Jadi kontan saya jawab, “Ah tidak. Dengar dari mana tuh infonya?” Tanya saya penasaran. Tidak lama hape saya bunti lagi. Masuk jawaban sms darinya. “Silat lidah!” Saya tercenung membacanya.

Prinsip saya, untuk diterima dan didukung banyak orang, satu-satunya jalan adalah menjadi plin-plan. Begitulah saya mahir melakukannya. Bicara ke sana lain dan ke sini lain adalah ramuan rahasia yang saya praktekan selama ini. Saya tidak menyarankan pemula melakukannya. Dibutuhkan sedikit bakat dan banyak latihan hingga menjadi ahli seperti saya.

Terkadang diperlukan juga apa yang dalam pergaulan kerap disebut main belakang. Namun itu merupakan satu cara juga untuk meraih simpati dan dukungan. Minimal akan ada pro dan kontra pada akhirnya. Sesuai pengalaman, akhirnya akan ada sejumlah orang tersesat lalu nekad membela saya.

Bagi orang-orang yang mendukung saya, keberadaan saya adalah pahlawan pembela harkat dan martabatnya. Sekali lagi, sesuai pengalaman saya. Di jaman sekarang ini makin banyak orang-orang yang mudah dan cepat begitu saja percaya omongan orang lainnya.

Bahkan ada juga yang tidak lagi mempercayai kata-katanya sendiri. “Orang yang gampang percaya itu, hanya orang gila!” Teman saya yang menyebalkan itu komentar lagi. Saya tidak menanggapinya. Dia bicara lagi, "kalau lagi pusing mending tidak usah nulis deh. Menyebalkan bacanya!" Ujarnya sambil pergi.

Bayu Sahaja

Share ke teman anda

Comments

0 Bayu Sahaja 2012-03-21 12:41 #6
Quoting key:
key yg lg pusing, tambah pusiiing dach habis baca ini,,,,hohohooo


Terimakasih kunjungannya Key.
0 key 2012-03-21 07:38 #5
key yg lg pusing, tambah pusiiing dach habis baca ini,,,,hohohooo
0 Bayu Sahaja 2012-02-13 13:51 #4
Quoting Don Sugeng:
Biasanya orang bisa berteman atau bersahabat lantaran dua pribadi yang saling mengisi. Salah satunya mungkin keras kepala dan yang satunya lagi tidak mau mengalah. Dengan begitu hubungan itu menjadi lengkap penderitaannya..hahah..cucok banget nih, untung sakit kepala gw bisa ditemenin ma sebungkus kopi Om..cukup reda, nice sharing


Ampun dah Om. Ngutipnya yang pas-pas ajah. :D Terimakasih kunjungannya Om Sugeng.
0 Don Sugeng 2012-02-13 08:27 #3
Biasanya orang bisa berteman atau bersahabat lantaran dua pribadi yang saling mengisi. Salah satunya mungkin keras kepala dan yang satunya lagi tidak mau mengalah. Dengan begitu hubungan itu menjadi lengkap penderitaannya..hahah..cucok banget nih, untung sakit kepala gw bisa ditemenin ma sebungkus kopi Om..cukup reda, nice sharing
0 Bayu Sahaja 2012-02-11 04:22 #2
Quoting Uda Dennie:
Kadang ada yang lebih lucu....sudah niru, trus ngaku jadi penemu . wk.wk.wk.wk.wk... makin pusing :lol: :D :lol: :D


Uda Dennie memang susah dilarang. Sudah dibilang jangan di baca masih juga dibaca! Trims kunjungannya Uda. :D
0 Uda Dennie 2012-02-10 15:17 #1
Kadang ada yang lebih lucu....sudah niru, trus ngaku jadi penemu . wk.wk.wk.wk.wk... makin pusing :lol: :D :lol: :D

 

 

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja