Saat remaja, diliputi rasa ingin tahu yang demikian kuat. Saya mengendap ke meja di mana bapak saya biasa meletakan rokok filternya.
Diam pelan saya ambil sebatang rokok demi memenuhi rasa ingin tahu yang membuncah sejak lama. Pemandangan bagaimana asyiknya orang merokok memberikan sensasi ingin berimitasi. Singkat kata. Saya kepergok melakukan tindak kejahatan pencurian tersebut.
Tanpa saya duga, bapak telah berdiri tepat di belakang saya. Apa daya, sebatang rokok sudah dalam genggaman tangan. Tiada niat sedikitpun mengakui atau mengembalikan hasil curian tersebut. Alih-alih, bergaya maestro sulap. Sebatang rokok itu saya sembunyikan di balik telapak tangan lalu berlagak normal.
Cara yang menurut saya lihay dan sama sekali luput dari pantauannya. Di ujung jalan dekat gardu. Sebatang rokok sensasi saya bakar dengan korek api yang sudah saya persiapkan.
Pada hisapan ke tiga antara rasa pening akibat asap di balik asyiknya praktek aksi peniruan, sudut mata saya melihat bapak melintas pakai motor tuanya. Saya terbatuk. Tidak mungkin asap pekat yang keluar dari mulut saya dikamuflasekan.
Sepertinya, saya beruntung. Bapak saya matanya lurus kedepan. Antara yakin dan tidak yakin. Hati terus bertanya lihatkah beliau pengalaman pertama saya merokok itu. Bertahun kemudian, pada acara ritual maaf-maafan. Dalam satu perbincangan, bapak mengungkapkan, “kamu tahu gak, kenapa bapak tidak bertanya soal kisah rokok hilang dan episode batuk asap samping gardu?” tanyanya santai.
Saat itu bapak saya sudah lama tidak merokok lagi. Saya terdiam tertawa karna terlalu kena tusukan kalimat tanyanya yang demikian lengkap. “kenapa?” Selidik saya penuh rasa penasaran. “Bapak tahu kamu mengambil sebatang rokok saat itu karna memang terlihat di tanganmu. Batuk di gardu adalah panggilan untuk menoleh sejenak dan memberi petunjuk bahwa kamu tersedak asap. Namun bapak tahu, jika ditanya kamu akan bohong. Dan itu cuma nambah dosamu.” Lanjutnya masih dengan gaya santainya. Tinggalah saya yang menangis sambil tertawa.
Kisah lama itu menoreh tajam hati saya. Menjadi pengalaman batin yang memberi gambaran pasti dari aturan dasar kehidupan. Bahwa tidak mencuri dan tidak berdusta adalah aturan moral yang tidak perlu ditawar lagi. Sebab sepertinya, baik buruknya kisah peradaban manusia di mulai dari dua hal tersebut. Mencuri dan berdusta adalah akar dari tumbuhnya kejahatan selanjutnya.
Tentu saja manusia selalu semangat menerbitkan aturan. Bukan sekedar lantaran proyek ini diongkosi dengan studi banding ke luar negeri dan biaya rapat yang lumayan. Namun semua aturan hukum tersebut dirumuskan sebagai upaya membuat peradaban manusia tetap lestari. Sebab pada orang paling negatip sekalipun, sepertinya selalu ada keinginan di sudut hatinya, untuk memberi pengaruh positip pada kehidupan orang lain.
Saya beruntung punya sahabat dekat yang tidak pernah lelah memberikan dorongan positip pada yang lainnya. Dengan caranya yang sedemikian rupa, terkadang berkesan berupaya tidak menyakitkan. Bahkan dia dengan caranya terus memprakarsai semangat positip pada lingkungan yang demikian pekat dengan semangat negatip. Semakin kagum ketika semua tindakan positipnya dilakukan spontan dan seketika.
Biasanya orang baru akan mampu melakukan tindakan mengangkat hal positip ketika berstatus kaya ataupun sangat pintar. Namun keberadaannya membuat saya tercerahkan. Bahwa menjadi biang positip tidak membutuhkan jubah besi, kaya harta ataupun pamor tinggi. “Memberi semangat dan melakukannya dengan cara yang positip dapat dilakukan dari tingkat manapun kita berada. Tidak harus pimpinan, tidak perduli bawahan. Semua bisa melakukannya kalau mau.” Katanya suatu ketika.
Terkadang kita lupa. Bahwa segala yang kita lakukan adalah tindakan budaya. Dalam kelompok dengan beminat sama seperti hobby bersepeda, Kesukaan otomotif, minat kopi, suka fotografi, kagum kereta api dan kekaguman-kekaguman lainnya yang diwujudkan dengan membentuk grup. Secara efektif hal-hal positip bisa ditularkan. Mulai kepada anggota kelompok kecilnya, hingga jika memungkinkan ditularkan pada masyarakat luas.
Misalnya yang dilakukan oleh kelompok pencinta kereta api. Mereka secara aktif mensosialisasikan bahayanya menumpang kereta di atapnya. Brosur, pamflet mereka produksi dan sebarkan dengan biaya sendiri. Diskusi serta kunjungan ke sekolah-
sekolah dalam rangka sosialisasi berkaitan perkereta-apian dilakukan.
Pada kelompok hobby sepeda, di sana juga aktif menularkan sehatnya bersepeda. Sehingga semangat sehat dan bebasnya polusi udara jadi ujung tombak kampanyenya.
Di banyak kota-kota besar terwujud kelompok-kelompok yang bangga disebut ‘bike to work’. Di kelompok otomotif, memodifikasi kendaraan tunggangan jadi lebih garang ataupun cantik, yang juga di ajang lombakan.
Kreatifitas tersebut menjadi kebanggaan. Bahkan diwujudkan sebagai industri berbasis kreatifitas. Bahan bakar minyak yang harganya melejit, turut menggelitik kelompok ini untuk modifikasi kendaraan irit.
Pada fotografi sebaiknya tidak perlu saya jabarkan disini. Lantaran saya percaya, pembaca Kata Foto gelarnya fotografer semua. Minimal punya minat terhadap fotografi yang sangat mungkin pintar berkelitnya lebih dari saya.
Bahkan ada kawan yang mengaku fotografer kawakan, begitu tega bilang, "bohong itu tidak masalah selama tidak ketahuan." Hingga kini saya sulit mengerti maksud kalimat kawan tadi.
Bisa jadi adalah naluri. Ketika kita begitu semangat mencari-cari persamaan kita dengan orang-orang yang kita sukai ataupun yang baik dengan kita. Namun, kita juga punya segudang cara untuk mencari-cari perbedaan dengan orang yang tidak kita sukai ataupun musuh kita. Kemudian penemuan kita tersebut kita gembar-gemborkan untuk cari dukungan untuk terjadinya hubungan baik atau sebaliknya korslet arus pendek.
Bahkan kemudian kita nekad mendeklarasikan bahwa setiap yang berbeda dengan pendapat kita adalah musuh. Musuh yang harus kita bungkam atau sekalian kita musnah tiadakan. Disitulah muncul semangat perbedaan demi perbedaan. Padahal pengalaman mengajarkan saya, bahwa menyatukan perbedaan adalah tiada mungkin.
Terkadang menghormati perbedaan adalah cara bijaksana supaya dunia ini bahagia. Mengingat semua orang punya latar belakang yang berbeda. Pengalaman dan pendidikan sangat berpengaruh terhadap setiap pendapat. Baik yang cuma ada di otak dan yang dilontarkan ataupun terucap.
Parameter sikap bukan bisa jadi ukuran kesetujuan. Kita banyak belajar dengan melihat dan mendengar. Mengenai bagaimana memalsukan pendapat. Kita semakin biasa melihat orang yang menganggukan kepala padahal hatinya bilang tidak. Kita lucu melihat orang meggeleng kepala secara maksudnya setuju.
Banyak orang mengira adalah bijaksana berpura-pura. Mungkin tujuannya demi langkah cari aman dan tidak mau terlibat. Sejatinya lupa bahwa apa yang dilakukannya dalam sikap dan langkah hidupnya adalah proyek budaya. Dimana semua kisah positip ataupun negatip akan dicatat. Diamati, ditiru lalu dimodifikasi oleh generasi selanjutnya. Tidak terbayangkan jika semangat yang di manifestasikan adalah pencapaikan prestasi bercara negatip nan buruk.
Mengutip dialog pada film The Last of the Mohichans. Epik film sejarah perang Perancis tahun 1757 disutradarai oleh Michael Mann. Saat hunting foto bersama, teman saya berujar, “jangan coba pamahi mereka. Begitu juga, jangan berupaya membuat mereka memahami kita. Karna memang adat budaya kita berbeda.”Saya mengangguk-angguk tidak bicara.
Dia terlihat bangga. Berhasil mengutipnya dengan nyaris sama, setelah beberapa kali mengulang dialog film tersebut. Saya tepuk tangan pelan supaya memang tidak bunyi. “Kecuali dalam soal mencuri dan berdusta. Setiap orang harus membenahinya. Karna dua hal itu adalah cikal bakal kejahatan dunia sejak dahulu dan selanjutnya.” Sambungnya serius. Kemudian saya bertanya, “bagaimana soal kasus sandal jepit?” Tanya saya linglung. Dia tidak menjawab pertanyaan saya hingga akhirnya kami pulang.
Bayu Sahaja






Comments
Baik Om Arif. Terimakasih kunjungannya.
Siap Master AR. Katanya kalau bohong demi kebaikan masuk kategori dosa abu-abu. Tidak dosa yang hitam legam seperti kebohongan-kebohongan saya itu.
Judul lagu tersebut telah dirubah sesuai permintaan, "Jangan Ada Anak Diantara Kita."
"JANGAN ADA LAGI DUSTA DIANTARA KITA"
RSS feed for comments to this post