joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Ketua

Email Cetak

Berbeda dari sulitnya memimpin perusahaan multinasional. Menjadi ketua pada kelompok peminat fotografi ternyata punya tantangannya sendiri.

Jika pada sebuah perusahaan, level internasional sekalipun, di bawah pimpinan perusahaan yang ada adalah karyawan. Keberadaan semuanya tercakup dalam ikatan aturan ketenagakerjaan.

Ada sistem yang mengatur soal ganjaran. Upah bulanan mengikat aturan kerja yang mungkin saja berbonus lantaran hasil kerja bersama mampu meningkatkan laba usaha. Menjadi gamblang memisahkan antara hak dan kewajiban setiap karyawan.

Berbeda dengan mengetuai kelompok peminat fotografi. Disana terlibat banyak kepala dengan berbagai latar belakang pengalaman dan pendidikan. Tentu saja semuanya, ada yang diam-diam merasa bangga berjuluk sebagai seniman foto. Masalahnya menjadi seniman foto pada era kini demikian mudahnya.

Pada kata foto ‘seniman’ saya pernah mengulas betapa mudahnya kita meraih dan menggelari diri sebagai seniman foto. Sebab fotografi memungkinkan siapa saja punya karya yang kemudian kita klaim sebagai karya original. Lantaran memang begitu adanya.

Sebab parameter penilaian sebuah karya seni berbasis penilaian yang sangat pribadi dan kerap berorientasi pada diri sendiri. “Walau semua hujan badai menghadang dan bilang foto saya jelek. Namun saya sangat yakin karya foto saya indah.” Begitu seorang teman berargumen.

“Bagi orang-orang yang belum melihat menemukan keindahan pada karya foto saya, bertobatlah.” Lanjutnya setengah lantang. Saya mengangguk-anggukan kepala mengiakan.  Sambil langsung tengok kanan-kiri. Takut ucapan teman saya tadi jadi perhatian banyak orang.

Beruntung saya punya ketua yang punya kemurahan hati. Semangatnya berbagi bukanlah sesekali diuji.  Setelah sekian lama, saya baru menyadari keberadaannya yang ternyata banyak memberi makna. Saya jadi merasa tidak sopan, ketika selama ini semuanya telah saya telan tanpa menyadarinya.

Dirinya selalu punya energi memberi komentar semangat pada karya foto saya yang sederhana. Nyaris menangis saat dia bilang komentarnya adalah doa tulus dan harapan supaya lebih bagus kedepannya. Betapa awal-awal dulu bahkan hingga kini, saya terkenal paling anti koreksi. Ada yang komentar sedikit negatip segera saja saya labrak dengan argumentasi. Tidak terkecuali komentar doa tulus harapan tadi. Ternyata beliau menanamkan benih harapan. Baginya yang paling berharga adalah bagaimana berbagi. Bahkan ketika waktu dan sumber daya miliknya yang harus diberikan.

Pernah beliau setengah bersabda sehabis menenggak minuman kaleng kesukaannya, mengutip tulisan penyair India, “Semua yang tidak diberikan akan hilang”. Tentu saja kalimat itu sulit saya pahami sampai sekarang ini. Bagi saya menyimpan semua pengetahuan saya adalah cara menghindari pesaing.

Bahkan untuk soal berbagi lokasi indah pemotretan serangga atau pemandangan, jangan harap saya beri tahu. Buat saya Semua itu adalah rahasia dapur kreasi yang membuat keberadaan saya tetap bermakna.  Waktu demi waktu, pengalaman demi pengalaman, prestasi demi prestasi saya lewati. Akhirnya butuh bertahun-tahun untuk sadar. Ternyata begitu banyak yang hilang lantaran saya menahannya sendirian.

Dikenal sebagai anggota paling bebal, saya tidak perduli cibiran dan pendapat orang. Selalu dan selalu, saya terjebak pada kebanggaan semu. Pemahaman sempit, terbatasnya pengalaman dan sedikitnya pengetahuan bukan masalah buat saya. Rasanya kekurangan itu bisa saya atasi dengan semangat mengamati, meniru dan sedikit modifikasi. Hingga tercapailah prestasi yang kini saya peluk erat-erat lantaran terlalu banyak orang-orang yang iri.

Tentu saja pencapaian saya ini adalah bukti nyata dari ketelatenan dan keringat sendiri. Prinsip saya teguh tak tergoyahkan. “jika kita sukses, tentu lebih sedikit yang ikut bahagia. Kalau yang sirik banyak.” Mengucapkannya dengan nada iklan pembasmi serangga di televisi.

Sehingga apalah gunanya pasang telinga untuk menyimak koreksi. Sekalipun berkali-kali diingatkan, bahwa Tuhan memberikan kita manusia dengan dua telinga dan satu mulut. Seharusnya dalam penggunaannya, adalah arif jika lebih utama pada yang ada dua.

Namun bagi saya memaksimalkan satu mulut lebih berhasil kayanya. Sering mengimpikan, dengan satu mulut saja pencapaian saya bisa hebat begini. Tidak terbayangkan kalau punya dua mulut.  Akan semakin lelahlah sesiapa yang coba berdebat dengan saya. Untuk mencapai kesuksesan, bagi saya yang terpenting adalah sikap.

Kebisaan atau kecakapan bukanlah kriteria utama. Itu soal gampang. Alam akan membedakan si berhasil dan si gagal. Semuanya akan sadar bahwa sikap adalah yang utama.

Sikap adalah aset terbesar dari diri kita. Bermodal sikap positip tidak cukup membuat kita melakukan segalanya. Namun pastinya sikap positip dapat membantu kita melakukan apa saja dengan jauh lebih baik ketimbang bermodal sikap negatip. Kalau pembaca ada yang tahu dimana ada orang yang menjual ‘sikap’. Saya berniat membelinya. Harga bukan masalah.

Kembali pada ketua saya. Keberadaannya dalam soal memahami orang lain demikian mendalam. Dia begitu paham bahwa setiap orang punya ambisi untuk jadi seseorang. Beliau sadar bahwa setiap orang punya keinginan untuk menjadi penting. Bahkan terus saja ketua saya itu bersemangat, kerap diterjemahkan sebagai dukungan ketika ada anggota yang terlalu ambisius. Kebablasan.

Sejatinya itu adalah cerminan kasih yang memungkinkannya terus layak jadi ketua. Alam sudah mentakdirkan. Ambisius bisa membuat kita jatuh. Namun kebablasan sepertinya memungkinkan siapa saja jadi pemenang.

Akhirnya bunga-bunga kebanggaan sigap untuk membius. Membungkus kita dengan wewangian puja-puji penuh aroma cari muka. Sehingga kita jadi lupa. Bahwa setiap orang selalu saja butuh orang lainnya. “Tidak ada orang maju atas usahanya sendiri,” begitu pesan ketua ketika saya jadi juara.

“Setiap orang membutuhkan bantuan, penyemangat dan persahabatan.” Lanjutnya sambil menatap mata saya lekat-lekat. Terus terang, saya membutuhkan banyak minuman untuk mengabaikan, melupakan pesan moral yang harusnya begitu mahal.

“Kamu bisa menjadi seseorang, adalah ketika seseorang-seseorang lainnya memberi percaya dan paham tentang kamu!” Katanya seperti kesal melihat saya mabuk kepayang coba tidak mendengar pesan moralnya.

Merasa ketua meyerang saya dengan tajamnya, lantang saya ucapkan, "saya tidak sebodoh itu!" tukas saya keras. "Ya, saya paham dan tahu. Kamu lebih bodoh dari yang kamu bayangkan." Katanya lembut. Saya terdiam. Ketua saya memang orang baik.  

 

Bayu Sahaja

Share ke teman anda

Comments

0 Bayu Sahaja 2012-01-25 10:21 #6
Quoting Don Sugeng:
“jika kita sukses, tentu lebih sedikit yang ikut bahagia. Kalau yang sirik banyak.”..hmmm, pas banget. Jika kita miskin kita dihina, jika kaya banyak yg sirik...hehehe. foto pertama pake lensa makro 105mm Om?


Ia Om. walaupun bukan serangga. Akhirnya si Bapak iklas dieksekusi menggunakan lensa macro. :D Terimakasih Kunjungannya Om.
0 Don Sugeng 2012-01-25 08:03 #5
“jika kita sukses, tentu lebih sedikit yang ikut bahagia. Kalau yang sirik banyak.”..hmmm, pas banget. Jika kita miskin kita dihina, jika kaya banyak yg sirik...hehehe. foto pertama pake lensa makro 105mm Om?
0 Bayu Sahaja 2012-01-24 04:17 #4
Quoting Uda Dennie:
Ketua memang harus bijaksana dan mengerti dengan anggotanya. saya ibaratkan "seorang presiden saja, harus tanya mentri-mentrinya dulu untuk membuat keputusan". :-)


Sebagai seorang ketua yang utama adalah bijkasana-bijaksini kayanya. Terimakasih kunjungannya Dennie. :D
0 Uda Dennie 2012-01-24 02:02 #3
Ketua memang harus bijaksana dan mengerti dengan anggotanya. saya ibaratkan "seorang presiden saja, harus tanya mentri-mentrinya dulu untuk membuat keputusan". :-)
0 Bayu Sahaja 2012-01-16 05:15 #2
Quoting andreas:
ulasan kali agak ini beda, tak seperti biasanya kali ini agak lebay..wkwkwkw...
biasanya : Lugas, Tegas, Menyentil..xixixix super salute,
terus lah menulis om prof Bayu..karena menulis adalah kekal abadi dan tak akan berubah..
salute buat Ketua kita :lol:


Xixixixixi... Siyap Pak Andre. Toh, beda belum tentu sama ;-)
0 andreas 2012-01-15 14:52 #1
ulasan kali agak ini beda, tak seperti biasanya kali ini agak lebay..wkwkwkw...
biasanya : Lugas, Tegas, Menyentil..xixixix super salute,
terus lah menulis om prof Bayu..karena menulis adalah kekal abadi dan tak akan berubah..
salute buat Ketua kita :lol:

 

 

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja