joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Salah

Email Cetak

Berbuat salah itu manusiawi dan lumrah adanya. Bahkan proses salah sangatlah penting demi menuju kebenaran yang benar-benar benar.

Banyak yang bilang, bahwa orang yang tidak pernah berbuat salah adalah orang yang tidak pernah berbuat apa-apa. Bagaimana bisa salah kalau berbuat saja tidak pernah. Ketika diperhatikan, maka orang-orang yang berada pada puncak pencapaian sukses hidup adalah orang yang banyak melakukan kesalahan.

Untuk menemukan lampu pijar, Thomas Alfa Edison telah mengalami kegagalan dalam percobaannya sampai sebanyak 9.998 kali. Jumlah kegagalan yang fantastis. Namun sikap positifnya membuat cara pandang berbeda terhadap kegagalan yang dialaminya tersebut.

Dia menyatakan telah mengetahui sebanyak 9.998 kali mengapa lampu pijar tidak menyala. Sudut pandang ini mempositipkan pandangannya demi semangat daya cipta yang pantang menyerah. Sehingga pada percobaan ke 9.999 lampu pijar akhirnya sukses ditemukan.

Persoalan jadi menarik, ketika ada orang  berbuat salah, orang-orang di sekitarnya yang mengaku sahabat bukannya mengingatkan. Tapi justru melakukan pembelaan dan pembenaran. Dengan semangat bijaksana palsu, orang-orang ini jadi pembela kesalahan.

Bahkan ada diantaranya yang nekad jadi saksi dusta demi membenarkan kesalahan atau kekhilafan tersebut. Padahal semua tahu bahwa reputasi kita justru paling terancam ketika membela sesuatu yang salah. “Kamu aja yang sirik! Kalau tahu jumlah bayarannya. Kamu juga pasti setuju jadi pembelanya!” Hardik teman saya serius.

Pada akhirnya sepertinya kita harus menyepakati. Bahwa memberi tahu seseorang kalau dia salah adalah satu hal. Sedangkan memberi tahukan cara yang benar supaya tidak salah adalah hal lain lagi. Proses ini terdiri dari dua tahap berbeda.

Kerap kali kita membangun orang dengan selalu mengkoreksi setiap kali orang tersebut melakukan kesalahan. Padahal akan lebih efektif justru ketika kita temukan hal benar yang dilakukan orang tersebut lalu memujinya. Fokus selalu hanya pada kesalahan bisa berakibat negatip.

Sebuah percobaan yang dilakukan oleh Seligmen, Psikolog asal AS. Eksperimennya menunjukan bahwa seekor tikus putih yang akhirnya malas berpindah setelah lelah berkali-kali menghindari sengatan medan listrik di kandang eksperimen.

Melalui eksperimen itu dapat tersimpulkan. Mereka yang mendapat hukuman, penderitaan atau tekanan akan menjadi pasif. Dalam dunia psikologi situasi ini disebut helplesness. Situasi helplesness muncul akibat menguatnya egoisme dan merosotnya akal sehat individu. Akibatnya orang menjadi temperamental.

Saat helplesness berjangkit. Orang menjadi tidak berdaya melakukan hal yang perlu. Tidak berdaya melakukan hal yang benar. Tidak berdaya menolong. Tidak berdaya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Serta tidak berdaya melakukan suatu langkah demi menjadi lebih baik. “Jadi kepingin menempatkan kamu sebagai kelinci percobaanku,” ujar teman saya sambil terbahak.

Memang mengerikan ketika kita hidup di masyarakat yang logika berpikirnya terbalik. Dapat kita saksikan ketidakadilan yang berjumpalitan tepat di hadapan kita. Namun hal-hal tersebut sudah demikian banyaknya. Sehingga terjadi apa yang disebut oleh para ahli sebagai, sleeper effect. Terpaan komunikasi yang terus menerus berkesinambungan pada akhirnya memberi efek menidurkan. Membiasakan kita pada hal-hal yang seharusnya masuk kategori luar biasa sebagai sesuatu yang biasa saja.

Dahulu kita selalu heboh, panik dan tertarik cari informasi ketika ada berita ledakan bom bunuh diri di negara-negara nun jauh di mata. Namun kini, kita semakin terbiasa dengan ledakan bom bunuh diri. Padahal kejadiannya semakin dekat dengan kita. Ini adalah efek pembiasaan.

Kita juga semakin biasa dengan perlakuan hukum yang yang timpang dan terasa tajamnya hanya pada rakyat jelata. Namun tumpul pada kaum berpunya. Baik itu yang punya kekuasaan ataupun punya uang. Ketidakadilan soal kasus sandal jepit yang baru lalu sangat-sangat menjepit perasaan masyarakat.  Kita dapat menilai bahwa tidak ada manfaat AAL, pelaku pemcurian sandal jepit  milik anggota polisi dari Polda Sulteng ini dinyatakan bersalah. Putusan itu malah mengoyak rasa keadilan masyarakat, menyusul rentetan kasus yang menyeret rakyat kecil.

Adapun kasus korupsi besar tak terselesaikan. Akibatnya masyarakat yang prihatin ramai-ramai mengumpulkan sandal jepit hingga berjumlah 1.300 pasang untuk diserahkan pada beberapa institusi pemerintah. Seperti,  Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Mabes Polri (kompas.com). Dalam hal logika terbalik cara berpikir dan mengambil kesimpulan juga terbalik-balik.

Benar bisa jadi salah dan yang salah bisa jadi benar. Cara berpikir seperti ini banyak sebabnya. Kebanyakan adalah karna semangat pamrih. Sehingga membabi buta yang penting sang tuan tahu bahwa kita membela. Sebab kita hanya fokus pada hasil akhir. Dimana kita tidak perduli lagi dengan prosesnya.

Ini memang jaman edan yang memungkinkan semua serba instan. Bisa sembarang orang mencapai kesuksesan. Internet ketersambungan membuat popularitas bisa diraih demikian cepat. Namun jangan lupa. Dunia maya juga punya cara untuk meredam ketidakbenaran.

Tentu saja kita lirih, menyaksikan orang-orang meraih sesuatu dengan cara yang tidak benar. Karna semua yang terjadi akan jadi catatan dan pelajaran buat generasi selanjutnya.

Adalah tidak benar ketika kita menularkan cara yang tidak benar demi suatu pencapaian. Namun apa daya, bunga-bunga kebanggan palsu tersebut terpaksa kita telan lantaran semangat bela kawan.

Semakin membuat semua orang geli ketika rombongan pembela yang tidak punya muka. Secara nekad dan tanpa pemahaman ikut menebarkan gelora kebanggan dan membela hasil yang tidak sah tersebut.

Sebagai orang yang tidak pintar, saya merasa paling banyak melakukan kesalahan. Hingga titik di mana untuk sesuatu hal yang sederhana saja, saya sudah kehabisan kesempatan untuk berbuat salah lagi. Kemudian mungkin karna bosan, alam secara arif membiarkan saya melakukan hal yang benar.

Misalnya saya butuh belajar berkali-kali untuk menggunakan kecepatan di atas 1/250 detik ketika motret menggunakan lensa dengan pajang 200mm. Terlalu banyak shuttercount terbuang percuma untuk coba-coba  di kecepatan yang lebih lambat. Yang tentu saja hasil gambarnya goyang semua.

Dalam hal penggunaan odol gigi saja, saya perlu beberapa kali dimarahi dan diprotes. Sederhana saja sebetulnya. Hanya kebiasaan saya pencetnya di bagian tengah tube odol tersebut. Sehingga pada akhirnya odol akan berkumpul di bagian dekat tutup dan bagian belakang tube. Beberapa pengguna lain protes cara saya tersebut. Sekarang saya kapok dan tidak mau lagi ambil resiko salah dalam dua hal  itu.

Saya selalu bersyukur diberi kesadaran untuk bercermin pada kesalahan dan kegagalan. Meskipun dalam perjalanan hidup ada juga bunga-bunga keberhasilan. Namun merefleksikan diri pada kegagalan dan kesalahan sepertinya membuat hidup saya jadi lebih bergairah untuk terus belajar dan terasa hidup.

Tidak terbayangkan betapa buruknya saya ketika selalu berpegang pada keberhasilan saja. Sebab cara begitu akan menyebabkan seseorang jadi sulit dikoreksi. Bahkan berpotensi menyalahkan orang lain dan berupaya selalu cari kambing hitam untuk setiap kegagalan yang terjadi akibat perbuatan diri sendiri kelaknya.

Hingga kini saya merasakan bahwa yang terberat dalam hidup saya adalah mengakui dan mengatakannya dengan tulus dari lubuk hati yang paling dalam, “saya salah.” Kalimat dua kata yang singkat dan sederhana itu demikian sulitnya saya ucapkan. Apalagi bila harus mengatakannya di tengah orang banyak.

Beberapa hari lalu saya mendapat pelajaran dan pencerahan. Seorang teman, dengan gagah berani mengakui kesalahannya. “Untuk kesalahan yang saya sengaja dan mungkin saja tidak saya sengaja, saya minta maaf.” Begitu katanya penuh hormat di tengah ramainya orang. Ini adalah bukti penghormatan yang lebih pada diri sendiri yang justru mengundang rasa hormat semua orang pada dirinya. Jujur! Saya kagum padanya sampai gak bisa tidur.   

 

Bayu Sahaja      



Share ke teman anda

Comments

0 Bayu Sahaja 2012-01-17 04:19 #10
Quoting santo:
salah dan kalah kadang selalu di kait kaitan., semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang yang kalah karena berbuat salah.. semangat!!.. :-)


Wkwkwkwkwk... Berat sekali cobaan. Sudah salah kalah pula. :D Trims Mr. Santo.
0 santo 2012-01-16 09:42 #9
salah dan kalah kadang selalu di kait kaitan., semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang yang kalah karena berbuat salah.. semangat!!.. :-)
0 Bayu Sahaja 2012-01-12 13:23 #8
Quoting mayadewi asrial:
Semoga seorang seperti Prof Bayu Sahaja senantiasa berkenan mengingatkan kami yg BARU mulai melangkah, daripada ke depan kami kebacut melangkah dgn pribadi yg merasa sudah benar :-*

Terima kasih sdh mengingatkan bahwa benar menurut saya, ternyata BELUM TENTU benar menurut lingkungan (menilik dari bbrp kasus sandal jepit & odol yg sudah ditulis diatas)


Asyikkkkk... Bahagianya dikunjungi. Terimakasih Mbak Maya.
0 mayadewi asrial 2012-01-12 10:44 #7
Semoga seorang seperti Prof Bayu Sahaja senantiasa berkenan mengingatkan kami yg BARU mulai melangkah, daripada ke depan kami kebacut melangkah dgn pribadi yg merasa sudah benar :-*

Terima kasih sdh mengingatkan bahwa benar menurut saya, ternyata BELUM TENTU benar menurut lingkungan (menilik dari bbrp kasus sandal jepit & odol yg sudah ditulis diatas)
0 Bayu Sahaja 2012-01-11 11:12 #6
Quoting William Cen:
Gk ada susahnya minta maaf.. Klo salah ya harus dan wajib minta maaf dan berlutut apabila diperlukan :D ... Tinggal pilih mau masalah berkepanjangan atau selesai di situ aja :D

Lanjutkan Pak Bayu...


Terimakasih kunjungannya William. Selalu kagum dengan pribadi yang berani minta maaf.
0 Bayu Sahaja 2012-01-11 11:10 #5
Quoting Saiful Hidayat:
Mas Bayu, saya sudah baca beberapa tulisannya; saya suka sekali. Rasanya rame: selain bernas, cerdas dan pedas ada juga aroma nakal dan "jahil"nya. Pokoknya TOP MARKOTOP deh ......
Kapan dibukukan ?
Kalo boleh usul -- biar saya yang sudah tua ini gak kecapean bacanya -- tolong paragrafnya jangan terlalu panjang dooong ...... hehehe


Ampun Om Saiful. Ini dia orang yang paling bertanggung jawab soal konsep pisang harapan. :D Soal paragrafnya, SIAP!!! Akan segera konsultasi diskusi dengan pembuat websitenya, Mr. Uda Dennie. :D
0 Bayu Sahaja 2012-01-11 11:09 #4
Quoting andreas:
hal Kejujuran dan mau mengakui kesalahan, adalah 2 barang yang langka dan mahal
juga cukup sulit ditemukan di jaman sekarang ini.

Dengan tulisan pak Prof Bayu, kiranya dapat menyentil dan bisa sebagai tempeleng keras buat saya pribadi,
maupun orang lain..thank Suhu

tulisannya yg ringan dan menggoda, Saya kagum dgn tulisan pak Bayu, sampai gak bisa tidur... :lol:


Siap Ketua. Terimakasih selama ini rela buang waktu bimbing saya. Untuk memahami arti lebih dari fotografi.
0 William Cen 2012-01-11 10:34 #3
Gk ada susahnya minta maaf.. Klo salah ya harus dan wajib minta maaf dan berlutut apabila diperlukan :D ... Tinggal pilih mau masalah berkepanjangan atau selesai di situ aja :D

Lanjutkan Pak Bayu...
0 Saiful Hidayat 2012-01-11 10:16 #2
Mas Bayu, saya sudah baca beberapa tulisannya; saya suka sekali. Rasanya rame: selain bernas, cerdas dan pedas ada juga aroma nakal dan "jahil"nya. Pokoknya TOP MARKOTOP deh ......
Kapan dibukukan ?
Kalo boleh usul -- biar saya yang sudah tua ini gak kecapean bacanya -- tolong paragrafnya jangan terlalu panjang dooong ...... hehehe
0 andreas 2012-01-11 10:04 #1
hal Kejujuran dan mau mengakui kesalahan, adalah 2 barang yang langka dan mahal
juga cukup sulit ditemukan di jaman sekarang ini.

Dengan tulisan pak Prof Bayu, kiranya dapat menyentil dan bisa sebagai tempeleng keras buat saya pribadi,
maupun orang lain..thank Suhu

tulisannya yg ringan dan menggoda, Saya kagum dgn tulisan pak Bayu, sampai gak bisa tidur... :lol:

 

 

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja