Banyak orang bilang, bahwa dunia itu adalah panggung sandiwara. Masing-masing manusia diberikan peran dan fungsi untuk bisa dimainkan. Dalam satu hari mungkin saja seseorang menjalankan beberapa peran dan fungsi berbeda.
Pagi jadi pelajar kalau malam jadi pengajar. Siang jadi pemenang, malamnya jadi pengalah. Siangnya bernama Santo kalau malam jadi Santi. Jika di perhatikan secara seksama, bahkan mungkin saja seseorang menjalan ratusan peran dan fungsi dalam waktu 24 jam.
Kebanyakan dari kita tidak menyadari bagaimana peran dan fungsi itu berjalan. Lantaran sedari kecil sudah otomatis saja itu dilakukan. Kemampuan itu adalah karunia kehidupan. Namun tentu saja pendidikan serta pengalaman juga punya peran. Untuk menjadikan setiap kita mampu mainkan lakon dengan tepat. Mengambil keputusan, bertindak dan menempatkan diri secara tepat pada setiap kesempatan. Pendidikan tidak melulu tentang bangku sekolahan. Sebab saya sendiri mendapatkan banyak pendidikan dari pergaulan dan bacaan.
Bahkan kebanyakan pengalaman mahal justru dapatnya di lapangan. Di terminal saya belajar sopan santun. Pada bacaan saya belajar mengambil keputusan. Saat ke pasar saya belajar bertransaksi, tawar menawar dan menilai barang. Di kedai kopi saya belajar untuk saling menghargai. Ini adalah pelajaran pikir dan batin yang tiada akhir. Sepertinya sampai mati nanti, proses ini akan terus berlangsung. Saya selalu saja berterima kasih dan hindari sikap keras kepala dan banyak gaya. Karna dalam soal itu saya ingin menjadi murid sejati.
Dalam banyak hal, saya dibentuk dan dibina oleh rentetan peristiwa. Semua adegan kehidupan sejatinya adalah pelajaran. Kerap kita dapat wejangan untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian. Pengalaman mengajarkan, bahwa tidak ada alasan cukup bagus untuk dikemukakan kala cari pembenaran. Paling utama dan sangat dominan membentuk perangai kita, sepertinya lingkungan dan pergaulan. Kita mengenal istilah Peer Group, mengistilahkan kelompok sosial manusia yang bersifat informal. Umumnya terdiri dari kumpulan yang punya minat sama dan biasanya para anggotanya lahir pada periode jaman yang sama pula.
Rekan sebaya terbukti yang paling kuat pengaruhnya dalam membentuk pribadi dan sikap seseorang. Karna pergaulan dengan teman sebaya memberikan banyak pelajaran batin. Disanalah kebanyakan seseorang belajar untuk jadi dewasa. “Menjadi tua itu kewajiban. Menjadi dewasa itu pilihan.” Teman saya menyela. Saat itu kita diskusi soal yang tua berjiwa muda dan yang muda bersikap dewasa.
Terbayang nikmatnya punya pergaulan seperti itu. Semua anggota di lingkup pergaulan punya kemampuan menempatkan diri. Bukan dengan yang cara kaku. Namun lebih kepada dinamisnya menjalankan peran dan fungsinya disetiap kesempatan interaksinya. Karena kita sadar. Setelah dewasa, untuk merubah pendapat seseorang itu sama sulitnya dengan mengubah selera kopinya.
Banyak hal terlanjur mendarah daging. Menjadi kebiasaan dalam bersikap dan bertingkah laku. “Hidup kita lima tahun ke depan. Itu sangat bergantung dengan siapa kita bergaul dan buku apa yang kita baca!” Seorang ibu sebelah meja kami ikutan komentar seperti marah-marah. Kami semua terdiam.
Saya sendiri termasuk orang yang harus terus belajar dalam menjalankan peran dan fungsi secara baik dan benar. Seringkali saya mencampuradukan peran dan fungsi saya secara tidak tepat. Ketika di kantor saya bersikap dan bertindak seperti di kedai kopi. Ketika di rumah saya santai layaknya berada di kantor. Saat meeting saya malah sibuk pamer prestasi kemenangan di ajang lomba burung berkicau. Saat di kedai kopi saya bergaya laksana di catwalk. Soal itu maklum saja. Sebagai peragawan terlalu biasa bagi saya bersikap begitu. Itu mengapa saya seringkali dimusuhi dihindari oleh kebanyakan teman.
Belum lagi mulut saya yang kerap dinilai sadis mengiris-iris perasaan orang. Namun saya terkenal paling sewot kalau kena kritik. Belajar untuk mampu menempatkan diri sangatlah mahal harganya. Sebab ketika telah lama dibiarkan menempuh jalan salah segala sesuatunya menjadi tabiat. Ibarat tangan yang patah kecelakaan. Ketika dibiarkan tanpa pengobatan akan terus bengkok akibat pengapuran. Perbaikan untuk penyempurnaan tangan yang bengkok karna patah akan sangat menyakitkan. Ketika tangan kita patah lantaran jatuh ataupun kecelakaan lain. Sakitnya seketika dan terjadi begitu saja.
Namun bayangkan betapa sakitnya ketika tangan yang patah tersebut sengaja dan sadar dipatahkan lagi sebagai jalan pengobatan demi perbaikan diluruskan. “Begitulah, mental besar dan merasa selalu benar pasti sakit kalau diingatkan. Karena sudah dibiarkan sejak lama seolah benar melulu!” lagi-lagi ibu sebelah meja komentar. Lagi-lagi kami semua terdiam. Beberapa dari kami seperti mengenali dan akrab dengan dua kalimat tadi. Kalimat itu tentu saja bukan kalimat baru. Pernah dengar sebelumnya tapi lupa siapa yang bilang.
Teringat catatan wawancara Leonardo Boff kepada Dalai Lama. “Berhati-hatilah akan pikiranmu karena mereka akan menjadi perkataan. Berhati-hatilah pada kata-katamu
karena mereka akan menjadi tindakan. Berhati-hatilah pada tindakan mu karena mereka akan menjadi kebiasaan. Jagalah kebiasaan mu karena mereka akan membentuk karakter mu. Jaga karakter mu, karena akan membentuk nasib mu. Dan nasibmu adalah hidup mu.” Bagi banyak orang catatan wawancara ini memberi banyak pelajaran bahkan pencerahan. Betapa hidup kita sesungguhnya sederhana. Di sana hanya ada hukum sebab akibat. Selalu ada penyebab untuk bisa terjadinya akibat.
Selalu ada rangkaian bagi terbentuknya karakter dan nasib kita. Sepertinya bagi saya, yang harus dilakukan adalah disiplin untuk memikirkannya dahulu sebelum melakukan suatu tindakan. Itu hal utama yang harus terus dipelajari dan dipraktekan. Bagaimana mungkin saya bisa mencapai tingkat tidak menyesali apa yang sudah saya lakukan. Jika bumbu manis keberadaan saya adalah permohan maaf melulu. “Minta maaf itu bagus kecuali setelah melakukan kesalahan,” teman saya nyeletuk sambil cengar-cengir menyebalkan. Tapi justru bikin suasana menjadi hangat.
Diskusi riang menyegarkan khas kedai kopi yang merupakan stress release kebanyakan dari kami. “Biasanya orang meminta maaf supaya bisa mengulangi lagi kesalahannya.” Lagi-lagi si ibu dari meja sebelah komentar. Sambil berkemas lalu berdiri berjalan meninggalkan kami yang terus berpikir. Sepertinya kenal kata-kata ngawur yang disampaikannya itu.
Bayu Sahaja






Comments
Hehehe... Sejak dulu selalu kagum dengan cara Om Titho berdeklamasi. Terimakasih kunjungannya Om.
Di kedai kopi ini, tadi pagi kupesan satu
Kopi-pun datang.. kuhirup ia panas-panas
Kini.... kopiku tinggal setengah
sudah tidak hangat seperti tadi
Tak tahu aku... apakah masih ada manisnya
sebab hampir setengah dari setengahnya.. adalah ampas
dan aku tak ingin.. nasib dan hidupku seperti kopi..
Siap Mbak Maya. Akan belajar sampai mati soal itu. Terimakasih kunjungannya.
Wkwkwkwkwk... Siappp! Solusinya belajar bersama nih kayanya. Terimakasih Om Heri. Bahagia hati dikunjungi...
saya sangat sependapat mas, hidup ini memang panggung sandiwara dan sudah ada yang membuat skenarionya.
saya masih perlu banyak belajar dengan mas Bayu untuk seni peran, bertutur kata yg santun tapi tepat sasaran!
hebat postingan ini... keren mas!!!
Terimakasih Ricky. Senang dan bangga hati dikunjungi...
Terimakasih kunjungannya Uda Dennie. Asal jangan bilang 'cemerlang' saja. Aku rada sensitip dengan kata itu akhir2 ini.
RSS feed for comments to this post