joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Kreatif

Email Cetak

Daya cipta atau kreatifitas adalah sumber daya yang tidak ada habisnya. Dengan mengandalkan ide, pemahaman serta pengetahuan maka kreatifitas akan menjadi modal utama guna berproduksi. Di sanalah tercipta lapangan pekerjaan dan kesejahteraan masyarakat pada akhirnya.

Masalahnya, menjadi kreatif umumnya lahir secara otodidak. Keberadaan insan-insan kreatif kebanyakan masih terkonsentrasi di kota-kota tertentu saja. Dimana kreatifitas diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari budaya. Sehingga keterampilan serta kebisaan masih sangat lokal dan malu-malu tampil.

Unggulnya kreatifitas lokal tersebut masih terbenam pada semangat kampung. Karena terjaminnya ekonomi karena kemampuan kreatifitas sering dipandang sebelah mata. Terlihat bahwa sektor perbankan masih setengah hati memberi dukungan modal pada industri kreatif. Tanpa dukungan modal, bagaimana mungkin mampu bersaing dalam kancah pasar lokal maupun internasional.

Sementara Institusi-institusi formal ataupun informal belum mampu menciptakan pribadi-pribadi kreatif. Sekolah-sekolah tidak mengajarkan anak-anak menjadi kreatif. Di masyarakat, produk berbasis kreatifitas belum juga diberi tempat.

Belum lagi insan-insan kreatif yang banyak mengalami kesulitan dalam banyak hal kala harus memproduksi atau mencipta sesuatu.  “Kebanyakan dari kita masih berkutat pada keterbatasan kebisaan,” teman saya sambil membuka majalah fotografi. “Kita kerap hanya fokus terhadap apa yang tidak bisa kita lakukan. Padahal kalau kita kreatif pada apa yang bisa kita perbuat, akan banyak hal yang tercipta.” Tutupnya sambil tetap serius pada bacaannya.

Industri kreatif itu jauh dari semangat merusak alam. Karna itikad ekonomi berbasis kreatifitas modalnya adalah pikiran. Bukannya sumber daya fosil di perut bumi yang harus digali dieksplorasi. Namun semangat pembangunan kita selalu mengarah pada eksplorasi perut bumi. Mungkin karna semua tahu bahwa bumi kita begitu kaya. Iklim dua musim yang dasarnya ramah terhadap produktifitas pertanian.  Sehingga kita tumbuh menjadi manusia yang manja dan lupa. Bahwa segala hasil pertambangan butuh jutaan tahun untuk terbarukan.

Semua fosil kebanggan yang menjadi ujung tombak perekonomian kita, pada akhirnya akan habis. Tinggalah lubang-lubang bekas pertambangan. Tersisa hanyalah limbah ketika inti sari pertambangan penuh-penuh dimuat ke kapal untuk di ekspor ke negara penggali yang nota bene penyedia infrastruktur teknologi eksplorasi. Sebab kita bukanlah pelaksana dalam industri eksplorasi yang modern dan rumit tersebut. Kita hanyalah tuan tanah yang tidak pintar. “Bayangkan saja,  royalty dari Freeport untuk bangsa Indonesia : 1 persen untuk emas dan perak. Untuk tembaga kita dapat 1 – 3,5 persen.” Gumam sahabat saya serius.

Terbayangkan betapa Freeport kemampuannya laksana lintah. Daya hisapnya luar biasa. Namun janganlah kita berbangga dulu. Sebab kenyataannya hampir semua lokasi kekayaan mineral kita dikontrakan kepada pihak asing. Dimana hasilnya sudah tentu hampir tidak bermanfaat buat rakyat Indonesia.  Padahal secara sadar kita tahu bahwa kekayaan alam tidak dibuat oleh siapapun. Termasuk orang–orang yang seharusnya bertanggung jawab dari menyemburnya lumpur Lapindo.

Kekayaan alam nyata-nyata diciptakan oleh sang pencipta kepada suatu negara bersangkutan. Untuk digunakan secara adil merata pada rakyatnya. Namun kenapa hingga kini semuanya seperti bisu, tuli dan buta. Sehingga tidak satupun pemimpin kita yang mampu mempersoalkan penghisapan kekayaan mineral ini oleh pihak asing.

Mari kita kembali kepada semangat berkreatifitas. Industri kreatif bukan melulu berkaitan dengan produk budaya antik yang terkesan kuno. Sebab masih banyak yang beranggapan bahwa membangun ekonomi berbasis kreatifitas terkesan jadul. Padahal industri kreatif sangat luas dan bisa memasuki wilayah-wilayah canggih dan modern. Periklanan, film, fotografi, musik, arsitektur, pasar seni, barang antik, kerajinan, desain, fashion, permainan interaktif, seni pertunjukan, penerbitan, percetakan, layanan komputer, piranti lunak, televisi, radio, riset dan pengembangan.

Dari situ terbayang betapa luasnya industri yang bisa dikembangkan. Membangun dan mengembangkannya cukup modal ATM. Amati, Tiru dan Modifikasi. Tiga jurus itu terbukti ampuh. Buktinya adalah bangsa Jepang.

Di artikel KataFoto berjudul, Ngikut, saya pernah menuliskan bahwa bangsa Jepang bukanlah bangsa penemu. Mereka itu menjadi bangsa yang kuat dan besar semata-mata sebagai peniru.  Nuansa ATM dari produk-produk unggulan made in Jepang demikian kental. Pengejawantahan dari semangat mengamati, meniru serta memodifikasi suatu produk dilakukan dengan sangat disiplin. Sehingga hasil karya mereka selalu luar biasa dan terbukti mampu menembus pasar ekspor dunia. Inginnya kita membangun ekonomi bebasis industri kreatifitas, lantaran jelas-jelas punya kemampuan dalam meningkatkan ekonomi.

Iklim bisnis juga akan berjalan secara positip. Lantaran semangatnya bukanlah semangat membobol perut bumi untuk menguras sumber daya fosil melulu. Citra kita sebagai bangsa kreatif dan cerdas akan terpancar pada mata dunia. Budaya inovasi dan kreatifitas akan mendarah daging pada bangsa kita. Tidak harus sebagai penemu untuk bisa tampil di kancah pasar dunia. Namun jika kita bangkit sebagai bangsa yang punya kemampuan inovasi dan kreatifitas sudah pasti bangsa kita akan disegani.

Pada suatu diskusi warung kopi, teman saya berujar. “Berpikir kreatif adalah kemampuan kemauan pantang menyerah untuk mencari jalan penyelesaian dari sebuah persoalan dalam rangka mencipta.” Katanya sambil mengaduk kopi di cangkirnya. “Tidak harus pintar di kelas untuk bisa sukses. Karna kebanyakan siswa yang pintar di kelas ya hanya akan pintar di dalam kelas saja.” Matanya terus memperhatikan cangkir kopi bersisi sedikit gula dan terus mengaduknya.  “Karna elemen terpenting kita bukanlah pada otak. Namun pada apa yang menuntun otak kita, kepribadian, hati, kebaikan dan ide-ide progresif.” Lanjutnya berfilosofi.

Saya ingat banget itu kutipan dari kata-kata Fyodor Dostoyevsky. Seorang sastrawan yang hidup tahun 1821 – 1881.  Ingat lantaran saya suka kalimatnya tersebut. Namun saya tidak mengomentarinya. Lantaran saya banyak setuju dengan pendapatnya.

Sebab bagi saya, kreatifitas adalah semangat pantang menyerah.  Modal saya selama ini adalah kalimat ‘Aku Pasti Bisa’. Berpikir begitu memberi kepastian kepada saya bahwa yang akan tiba di tujuan adalah mereka-mereka yang berpikir bahwa mereka bisa. Sebab pikiran saya yang sederhana memetakan bahwa ketika saya berpikir bahwa saya bisa, selalu saja benar. Begitu juga sebaliknya. Jadi buat apa buang waktu.

Ketika secara realistis otak saya menyimpulkan bahwa saya bisa untuk mencapai sesuatu. Maka akan saya lakukan seketika itu juga. Kalaupun ada masalah atau kegagalan. Saya akan berupaya memperbaikinya, menyesuaikannya dengan kebutuhan di lapangan. Dengan itu saya berusaha untuk terus maju. Bukankah kehidupan akan menghargai siapa saja yang mau belajar dan punya keberanian untuk tampil.

 

Bayu Sahaja

Share ke teman anda

Comments

0 Bayu Sahaja 2011-12-26 04:20 #2
Quoting ricky:
super sekali,, membuat hidup semakin berarti..


Terimakasih kunjungannya Mr. Ricky...
0 ricky 2011-12-25 13:27 #1
super sekali,, membuat hidup semakin berarti..

 

 

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja