Seperti halnya malu. Budaya antri sejatinya belumlah mendarah daging dalam tradisi kita. Masih belum hilang dalam ingatan. Ribuan orang antri untuk beli blackberry.
Diberitakan, beberapa pingsan dan cidera lantaran berdesak-desakan. Padahal kita menduga bahwa pengguna blackberry adalah masyarakat menengah keatas.
Apakah tidak ada korelasi antara ekonomi menengah keatas dengan tingkat pendidikan yang minimal rada tengah keatas juga. Bukankah seharusnya tingkat ekonomi dan tingkat pendidikan akan mencerminkan sikap dan prilakuk orang. Kasus antri blackberry tersebut membuka mata kita semua.
Ekonomi mapan serta tingkat pendidikan tidak ada hubungannya dengan budaya hidup sopan santun dan tertib bermasyarakat. Sopan santun, saling menghargai, rasa malu, agresifitas dan antri sangatlah tidak berhubungan dengan segala atribut kaya dan berpendidikan. Kerap kali kita punya rasa bersalah saat membeli Koran dan tukang korannya memberi uang kembalian yang lebih dari seharusnya.
Harusnya kita malu saat ketahuan menggunakan uang perusahaan yang dipercayakan pada kita untuk menjaganya. Umumnya kita juga mau antri ketika hendak nonton film bagus di bioskop. Kesemua tindakan tersebut kita rasakan dan lakukan bukan lantaran kesadaran. Tapi lebih kepada rasa terpaksa dan ikut-ikutan.
Dalam pemahaman kita yang namanya antri itu rendahan. Kita bangga ketika bisa lolos dari antrian lantaran dibantu orang dalam. Soal malu adalah urusan nanti dulu. Apalagi dalam soal urusan berkendara di jalanan padat merayap. Main serobot dan klakson sudah biasa. Untuk apa malu. Toh kaca film yang gelapnya 99,9% jadi kedok yang memungkinkan tidak terlihatnya siapa kita. Jadi ya santai saja. Sejak jaman penjajahan kita sudah mengenal yang namanya antri. Antri melulu untuk para rakyat jelata. Kalaupun hingga kini masih ada, ya biasanya itu soal antri sembako, minyak tanah, BBM bersubsidi, MCK umum, dan lain sebagainya yang jauh dari kepentingan kaum elite.
Kita semua mau antri kalau sudah terpaksa. Dengan sebelumnya berupaya cari selamat jalan pintas. Berdiri berjam-jam demi sebuah karcis pertunjukan adalah pelecehan. Perasaan itu muncul karena tiadanya kepercayaan pada otoritas. Sering kita mendengar keluhan para pengantri karcis kereta api yang loketnya hanya dibuka dan ditutup lagi setelah pembeli kesepuluh.
Padahal terang-terang diumumkan masing-masing pengantri beli tiketnya dibatasi hanya 2 tiket. Kenyataannya panjang antriannya sudah berkelok-kelok panjangnya. Anehnya setelah loket tutup. Calo-calo berkeliaran mendengungkan adanya tiket yang mereka jual dengan ‘sedikit’ lebih mahal. Bagaimana kita jadi percaya untuk antri.
Untuk apa kita malu mencari jalan pintas kalau sistem yang ada tidak mampu menghargai kita. “Wah, kalau begitu ceritanya. Siapa yang salah dong?” teman saya garuk-garuk kepala. “Ini seperti main tebak-tebakan telur atau ayam yang ada duluan?” Lanjutnya seperti putus asa. “Kalau soal itu gampang. Pergi saja ke warung sederhana itu. Pesan ayam goreng dan telor goreng. Mana yang duluan dihidangkan, ya itulah jawabannya.” Sambut teman lainnya kocak.
Banyak bangsa yang dibangun dengan tradisi sederhana yang terbukti kelak menjadi pondasi bangunan bangsa yang luar biasa. Bangsa Jepang misalnya. Mereka sedemikian tinggi menjunjung harkat martabat diri. Kesetiaan, kehormatan dan rasa malu bisa merupakan alasan untuk hidup dan matinya seseorang.
Ketika tiba pada titik tertentu, alasan paling dasar diungkapkan. “Hidup susah. Mati lebih mudah.” Kalimat ini terdengar sederhana. Namun pada kenyataannya mati atas nama malu sulit dilakukan. Harakiri adalah metode bunuh diri dengan sebilah samurai pendek. Ditusukan sendiri ke bagian perut dengan mengiris dari kiri ke kanan untuk mengeluarkan isinya. Terbayangkan betapa rasa sakitnya.
Dalam film The Last Samurai, yang diperankan oleh Tom Cruise dan Ken Watanabe. Sang pimpinan pada akhirnya melakukan ritual harakiri. “Perfect.” Itu kata terakhir yang diucapkan sang samurai saat samurai kecil dihujamkannya sendiri ke perutnya. Tindakan yang sulit dipahami bangsa barat itu dilakukan setelah melakukan aksi serbu yang brutal. Sungguh penonton bisa menyaksikan bahwa perang itu tidak seimbang. Dimana bangsa barat menggunakan senapan mesin dan para samurai menggunakan pedang dan tombak. Bagi para samurai itu, mati lebih terhormat dari pada kalah. Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya.
Cerita seperti ini masih terus sulit dipahami tentara sekutu saat perang dunia ke 2. Tentara-tentara jepang yang dianggap nekad melakukan aksi kamikaze. Pesawat-pesawat dirancang khusus berhulu ledak. Diterbangkan dan diarahkan kepada target yang utamanya kapal-kapal perang sekutu. Sang pilot kelak pasti akan mati bersama pesawatnya. Serangan seperti ini cukup merepotkan bagi pihak sekutu kala itu. Bahkan prajurit-prajurit tentara jepang ramai-ramai melakukan aksi bunuh diri dalam gua-gua persembunyian kala terkepung. Mereka memilih mati dari pada malu kalah perang atau jadi tawanan.
Walau tradisi harakiri pada bangsa Jepang sudah semakin memudar lantaran pemerintah banyak menghimbau cara itu bukan jalan keluar. Namun budaya malu masih sangat kental. Terbukti ketika tsunami dahsyat meluluhlantakan Jepang. Masyarakat disana masih teratur rapi antri kebutuhan yang dipasok pemerintahnya. Tidak ada huru-hara. Tidak ada penjarahan. Semua tertib dan percaya pada pemerintahnya. Jaman dulu sepertinya ketakutan orang adalah ketika mati dengan cara yang tidak terhormat. Sementara manusia modern hanya takut pada soal mati saja.
Sementara bangsa kita seperti tidak punya rasa malu. Pejabat-pejabat kaya raya serta pegawai negeri yang muda-muda punya rekening milliaran rupiah. Tentu saja kaya raya itu bukan masalahnya. Terpenting adalah jelas dari mana asal hartanya. Persoalannya hampir merata semua pejabat di nusantara ini menjadi incaran KPK. “Soal mereka-meraka itu tinggal tinggu saja. Silahkan antri yang tertib untuk diperiksa KPK.” Ujar teman saya sinis. Karna memang dengan melihatnya saja kita pasti curiga. Namun sekali lagi bangsa kita adalah bangsa yang mentalnya merupakan warisan mental bangsa terjajah. Kita silau dan langsung tunduk memberi hormat pada yang kaya. Padahal hasil kayanya tidak jelas asal-usulnya.
Belum lagi gelar sebagai bangsa pelupa. Ini gelar tiada tara yang membuat semua kita sering tertawa. Belum lagi pudar ingatan soal bagaimana seorang jaksa ditangkap KPK lantaran terima suap. Kini sudah terjadi lagi, bahkan pada hakimnya. Percayalah semua melakukannya. Sebab bagi mereka terbongkar atau tertangkap tangan tindakan korupsinya hanyalah karna apes atau sial saja. Bagi mereka ditangkap KPK itu musibah. Dan hanya terjadi pada mereka-mereka yang lengah. Namun semua di negeri ini butuh kaya dan korupsi adalah solusinya. Jadi ya antri saja. Karna kita semua tidak percaya pada sistem yang ada. Kita lupa peristiwa pembagian zakat yang selalu membawa derita dan korban jiwa.
Kita lupa bahwa antri tiket pertunjukan sepak bola pernah mambawa duka. Kita tidak ingat kalau pernah terjadi acara temu artis ada penonton yang meninggal terhimpit antrian. Kita tidak mau tertib antri karna kita semua tidak percaya pada sistem yang ada. Kita tidak mau antri lantaran tidak yakin akan kebagian nantinya. Kita tidak mau antri sebab itu bukan budaya kita. Kita juga tidak perlu malu ketika semua orang melakukannya. "Busyet deh!" Kata temanku sambil ngeloyor pergi.
Bayu Sahaja






Comments
Aihhhh... Renyah dan nikmat sekali. Terimakasih kunjungannya Brother...
Memang sulit kawan menyandarkan hidup pada sistim antri di tanah air tercinta ini, tidak ada jaminan untuk mendapatkan, tidak ada jaminan dengan antri akan menjadi lebih, jadi untuk apa antri, kemudian ada yang bertanya "kok itu di sama orang bisa antri" jawabannya adalah mereka tidak antri, mereka sedang menghormati hak-hak orang lain, yang di Repiblik ini sudah tidak ada.
RSS feed for comments to this post