joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Ketemuan

Email Cetak

Tinggal soal waktu. Cepat atau lambat yang akan tiba ditujuan adalah mereka yang berpikir bahwa mereka bisa. Terbukti, 8 teman lama yang puluhan tahun terpisah oleh ruang dan waktu bisa ngumpul bareng di kota saya.

Ini pertemuan yang menempuh jarak kira-kira 894,6 Kilometer. Butuh waktu sekitar satu jam penerbangan tanpa hitung delay.

Walau tidak semua teman bisa hadir. Namun bisa dipastikan bahwa Ini pertemuan fantastis. Betapa di antara kita yang bisa hadir ada yang telah tidak bertemu selama lebih dari 20 tahunan.

Pertemuan tanpa tangis haru seperti kisah-kisah romantisme umumnya. Yang ada kita saling menyapa. Kebanyakan tertawa. Sambil saling mengingatkan kisah-kisah lama saat sekolah pertengahan dulu. Bagaimana bandel. Lucunya saat dihukum dan kenakalan-kenakan umumnya remaja tempoe doeloe.

Upacara wajib, ritual belanja-belanji sudah pasti. Selingan acara pertemuan adalah sesi nyanyi-nyanyi. Reuni kecil itu menjadi sensasi liburan pertemuan yang mungkin bisa melepaskan sejenak rutinitas sibuk sehari-hari. Susunan acaranya  kebanyakan bersifat spontan.

Tapi apalagi yang lebih punya sensasi membahagiakan serta indah melebihi sebuah spontanitas. Harus diakui, kebanyakan dari kita sudah kehilangan spontanitas. Bukannya serba terencana itu tidak bagus. Tapi terkadang kita butuh spontanitas. Lakukan seketika yang ingin kita lakukan, langsung pada saat itu. Cobain deh…

Disela-sela canda tawa terselip diskusi-diskusi ringan. Terkadang sulit dipahami perjalanan hidup membawa begitu banyak perubahan. Ada teman yang dulunya lebih cocok jadi terdakwa, kini malah jadi pengacara. Ada pula yang dulunya terkenal paling males belajar kini jadi pengajar. Yang paling takut naik pesawat sekarang jadi pengusaha travel. Dulunya pendiam kini bisa tertawa lepas terbahak-bahak bikin yang lain terbelalak.

Dulunya penakut kini mahir meyelinap untuk menghindari bayar karcis. 20 tahun memang lama. Banyak hal yang berubah seiring berjalannya waktu. Kehidupan mengharuskan setiap orang untuk mampu tempatkan diri. Menyesuaikan dengan irama kehidupan. Meyelaraskan keinginan dan kebutuhan. Menerima kenyataan yang kerap tidak sesuai dengan harapan.

Usia kami relatif sama. Usia yang banyak orang bilang live is begin. Lahir di jaman yang sama. Sehingga kerangka pengalaman serta kerangka pemikiran bisa jadi juga sama. Masing-masing punya cara dalam menjawab persoalan hidupnya. Tiap orang punya taktik guna terus memandang rintangan sebagai tantangan, yang membuat setiap kita jadi bergairah merubah tantangan itu jadi peluang. Sehingga kini semua yang hadir menjadi matang dan dewasa. “AKU PASTI BISA. Hanya tiga kata itu modal ku untuk bisa bertahan hingga kini.” Ujar seorang teman yang dulunya ranking terakhir melulu.

Siapa yang berani membantah kalimat ampuh tersebut. “Ketika kita pikir kalau kita bisa, biasanya selalu benar. Jadi kenapa harus berpikir kalau kita tidak bisa?” Sambut teman saya berteori.

Pertemuan selama 2 hari setelah lebih dari 20 tahun tidak bertemu tentu saja terasa kurang. Sensasi masa lalu ketika semuanya masih lucu-lucu tergali kembali. Apalagi rekaman foto-foto perjalanan yang diposting melalui BB ataupun facebook punya caranya sendiri untuk menuai komentar. Banyak dari kita yang tidak menyangka bisa mencapai tahap ini. Karna masa depan tidak bisa kita baca kala dulu. Kita hanya bisa mempersiapkan diri sebaiknya supaya ketika ada kesempatan, kita bisa meraihnya sebagai peluang untuk terus bisa bertahan.

Saya sendiri tidak malu mengakui bahwa ranking terakhir melulu saat sekolah dulu. Bahkan sering dibilang bahwa saya itu lulusnya percobaan. Jadi kalau masih ranking terakhir juga di sekolah lanjutan atas. Maka kelulusan saya bisa dibatalkan. Kalau diingat-ingat masalah ketidaksukaan saya pada suatu mata pelajaran kala itu, lebih pada ketidaksukaan saya pada cara mengajar gurunya. Bukan pada mata pelajaran itu sendiri. Guru-guru yang terkenal kejam membuat beberapa murid menjadi tidak suka pada pelajaran tersebut.

Ditambah lagi metode belajar mengajar yang tidak menerangkan menjelaskan tujuan mempelajari ilmu yang diajarkan tersebut. Maka semakin menjadi-jadilah ketidak sukaan itu. “Ah… itu sih alasan kamu saja. Mana mungkin sekolah cuma ngajarin makan dan menggambar saja,” seorang teman menyindir hobby saya menyelinap ke kantin disaat mata pelajaran matematika dimulai. Jujur saya memang paling suka pelajaran menggambar. Bukan lantaran menyukai seni lukis. Karna semua tahu kalau tidak ada darah seni mengalir di raga saya. Tapi lantaran gurunya manis. Menurut saya.

Waktu pertemuan harus diakhiri. Liburan segera tergantikan oleh rutinitas keseharian. Sebelum berpisah ada ikrar, untuk bisa melaksanakan acara pertemuan kembali. Tujuannya kota-kota dimana teman-teman lainnya berada. Sambil menunggu penerbangan yang delay seperti biasanya. Kita masih sempatkan berkirim foto-foto candid perjalanan dan berbalas komentar lucu-lucu.

Walau sepintas, sempat dipertanyakan keberadaan kawan yang kini menghilang. Sebab ada juga yang menghindar bertemu karena keterbatasan. Biar bagaimana dulunya satu perjuangan. Mungkin saja kita bisa ulurkan tangan beri peluang. Minimal menularkan semangat dan memberi pandangan. Bahwa masalah terbesar yang harus diatasi adalah rasa takut.

Kegagalan paling melumpuhkan adalah alasan yang dibuat-buat. Kondisi paling buruk adalah tiadanya harapan. Pekerjaan paling memuaskan adalah membantu orang lain. Emosi paling tidak berguna adalah rendah diri. Dan yang terpenting, menjadi BISA itu pilihan.

 

Bayu Sahaja

Share ke teman anda

Comments

0 Tommy Hoki 2012-04-12 20:33 #7
Bersama kita BISA. Dapat menjadi kata motivasi yang membuat runtuh kata mustahil. :P
0 Bayu Sahaja 2011-12-10 05:49 #6
Quoting Don Sugeng:
di foto itu spertinya ada yang sesuatu banget...prasaaan gw kenal Om...hahaha :lol:


Lebih tepatnya, itu bukan sesuatu. Tapi seseorang yang begitu BISA menc.... anda. :D :D
0 Don Sugeng 2011-12-09 09:34 #5
di foto itu spertinya ada yang sesuatu banget...prasaaan gw kenal Om...hahaha :lol:
0 Bayu Sahaja 2011-12-09 05:52 #4
Quoting Thitho Ramadhan:
Masa demi masa berlalu sudah, 24 tahun registernya
Tak kuasa kita menahan lajunya waktu
Liku-liku kehidupan tlah menoreh sejarah pada tiap diri kita
Perubahan adalah realitas yang harus kita hadapi
Konsekwensi akhir dari setiap langkah, yg bermuara pada cita-cita
Masih banyak cita-cita yang tergantung di langit
Yakinlah kita BISA untuk meraihnya, menggapai semuanya
Kini saatnya berpotret diri, berbenah dari segala keburukan
Meningkatkan semua kebaikan, pasti kita BISA
- my friend BS: Success for You -


Siyap Om Thito. Sukses selalu...
0 Bayu Sahaja 2011-12-09 05:51 #3
Quoting dhani:
I like your writing, om bay... It tells the truth about life, shares the joy of our trip and inspires others at the same time. Btw, dulunya ğω termasuk yang pendiam atau yang penakut yah...yang pasti bukan terdakwa...hahahaha!
At school we are given two things, ability to learn and ability to solve problem. But in life it is not enough. To survive and succeed, we must have dreams, believe, and act on it. If we failed, it is a proof that we have tried and we take it as lesson to be tougher and wiser, to accept and to move on... Kita BISA!


Terimakasih tante Dhani. Sukses ya...
0 Thitho Ramadhan 2011-12-08 05:46 #2
Masa demi masa berlalu sudah, 24 tahun registernya
Tak kuasa kita menahan lajunya waktu
Liku-liku kehidupan tlah menoreh sejarah pada tiap diri kita
Perubahan adalah realitas yang harus kita hadapi
Konsekwensi akhir dari setiap langkah, yg bermuara pada cita-cita
Masih banyak cita-cita yang tergantung di langit
Yakinlah kita BISA untuk meraihnya, menggapai semuanya
Kini saatnya berpotret diri, berbenah dari segala keburukan
Meningkatkan semua kebaikan, pasti kita BISA
- my friend BS: Success for You -
0 dhani 2011-12-08 00:52 #1
I like your writing, om bay... It tells the truth about life, shares the joy of our trip and inspires others at the same time. Btw, dulunya ğω termasuk yang pendiam atau yang penakut yah...yang pasti bukan terdakwa...hahahaha!
At school we are given two things, ability to learn and ability to solve problem. But in life it is not enough. To survive and succeed, we must have dreams, believe, and act on it. If we failed, it is a proof that we have tried and we take it as lesson to be tougher and wiser, to accept and to move on... Kita BISA!

 

 

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja