joomla templates

Kata Foto - Bayu Sahaja

A+ R A-

Petani

Email Cetak

Persoaalan utama bangsa Indonesia  di masa depan adalah, bagaimana menyediakan makanan yang cukup bagi semua perut.

Bayangkan saja, jika program dua anak cukup dari kampanye Keluarga Berencana berjalan sukses. Maka ditahun 2030 penduduk Indonesia akan berjumlah kurang lebih 425 juta jiwa. Ini merupakan angka yang besar.

Dalam soal pemenuhan kebutuhan makan. Kita tidak hanya terpaku pada tersedianya beras. Masih banyak hal lain yang harus juga tersedia. Seperti, buah-buahan, sayuran, gula, susu, daging, ikan dan lain sebagainya.

Butuh rencana dan persiapan jangka panjang sejak dini untuk penuhi kebutuhan itu nantinya. Mengingat semakin sempitnya lahan pertanian, rusaknya lingkungan akibat eksploitasi hasil bumi, polusi yang merajalela, serta penyimpangan iklim sebagai akibat global warming, adalah tantangan berat yang butuh jawaban tepat, cepat serta terencana mulai kini.

Tantangan semakin berat. Ketika kita menyadari bahwa sejak dahulu kala petani Indonesia tidak ditempatkan sebagai prioritas. Ini nyata terlihat dari bagaimana dukungan kredit yang masih juga berbunga tinggi buat modal petani.

Belum lagi harga bibit dan pupuk sebagai modal produksi kerap kali tidak cocok dengan harga jual hasil produksi. Sehingga ketika masa panen tiba selalu saja petani gigit jari. Belum lagi kebijakan import produk-produk pertanian selalu bikin petani sesak nafas.

Pembangunan jalan ke pelosok desa berakibat layaknya pedang bermata ganda. Disatu sisi meningkatkan mobilitas demi peningkatan produktifitas. Disisi lainnya menciptakan pergeseran budaya pada masyarakat petani. Sudut pandang berubah seiring sering melihat mobil-mobil orang kota hilir mudik. Mental spriritual luput dipersiapkan menghadapi situasi ini.

Hasilnya anak-anak kecil sebagai generasi penerus bangsa, yang nota bene anak petani desa, cita-citanya tidak lagi mau jadi petani. Minimal jadi tukang ojek atau supir angkot. Profesi itu dirasakan mereka lebih dihargai ketimbang jadi petani. Sebagai tukang ojek ataupun supir angkot. Bisa langsung transaksi dapat duit. Transaksi jangka pendek dengan hasil nyata. Sebagai petani butuh waktu. Gemburkan tanah, tanam bibit, kasih pupuk, atur pengairan dan lain sebagainya sebelum nantinya jadi duit. Tidak praktis dan terasa lama.

Belum lagi perubahan iklim yang mungkin datangkan banjir atau kemarau berkepanjangan. Hasil panen menjadi tiada. Namun utang pada tengkulak sudah pasti ada. Semakin besar dari hari ke hari. Akhirnya petani yang awalnya pemilik sawah dan ladang, kini hanya menjadi petani penggarap. Tanah warisan turun temurun yang semula milik nenek moyang sudah berpindah kepemilikan.

Kini tanah menjadi kepunyaan orang-orang kota yang datang dengan modal kuat ditangan. Tiada pilihan, petani tua jadi petani penggarap yang tentu saja hasil harus dibagi dua antara penggarap dan pemilik lahan. Dari lubuk hati yang paling dalam. Setiap petani punya doa. Anaknya bisa sekolah tinggi-tinggi. Supaya tidak lagi anak keturunannya jadi petani yang selalu saja dibodoh-bodohi.

Lain ladang lain belalang. Di negara-negara maju. Petani ataupun nelayan adalah profesi kebanggan. Menjadi petani atau nelayan disanjung, dimudahkan bahkan dimanjakan oleh pemerintahnya. Di Amerika ada kawan cerita bagaimana petani demikian nyaman. Pupuk, bibit, lahan, serta modal selama masa tanam disediakan murah oleh pemerintah.

Peneliti-peneliti di negara tersebut bersinergi sedemikian rupa guna memberi solusi demi menciptakan bibit yang punya resistensi terhadap kondisi cuaca disana. Pupuk-pupuk hasil penelitian disubsidi pemerintah. Sehingga hasil panen melimpah. Ada sistem yang demikian terencana guna meningkatkan harkat hidup petani. Ada upaya sistematis dari pemerintah supaya budaya pandang bahwa jadi petani layak bangga terus terjaga.

Bahkan sekarang ada ketakutan sendiri dari pemerintah disana. Lantaran anak-anak petani ataupun nelayan enggan sekolah lagi. Mereka merasa cukup punya pemahaman untuk bisa mendukung perekonomian negara dengan jadi petani ataupun nelayan. Lantaran petani disana adalah profesi terpandang yang punya kebanggaan. Nelayan-nelayan yang masih relatif muda sudah menjadi pemilik-pemilik kapal. Terdidik dengan tradisi menjaga lingkungan hidup. Metode tangkap ikan di laut diatur supaya lestari.

Mereka sangat sadar bahwa kekayaan laut milik bersama. Sehingga menjaganya bersama-sama adalah cara untuk menghormati sesama. Sementara anak-anak kita dengan fasih dan riang masih bernyanyi, “nenek moyangku orang pelaut.” Lagu ciptaan Ibu Sud itu kerap berkumandang di sekolah-sekolah dasar. Dengan sadar kita maklum dan saya yakin semua orang juga tahu. Bahwa yang pelaut itu nenek moyang kita. Bukan kita-kita ini. Lantaran cuma nenek moyak kita yang sadar, Indonesia itu negara kepulauan. Lebih besar areal lautnya ketimbang daratannya. Jadi pembangunan sektor kelautan harusnya utama. Begitu menurut nenek moyang kita.

“Nenek moyangku orang pelaut. Gemar mengarung luas samudera. Menerjang ombak tiada takut. Menempuh badai sudah biasa. Angin bertiup layar terkembang. Ombak berdebur di tepi pantai. Pemuda berani bangkit sekarang. Ke laut kita beramai-ramai” Teman saya tiba-tiba nyanyi. Suaranya gak pas banget. Sangat-sangat merusak cita rasa kopi siang itu. "Kali-kali aja situ sudah lupa lyrik lagunya!" katanya lagi demi melihat ekspresi ketidak sukaan saya.

Budaya kita sudah terbentuk menjadi budaya instan. Semua mau cepat semua mau singkat. Kita selalu disuguhkan tampilan cerita selebritis-selebritis sukses di televisi. Itu adalah tontonan produk hasil akhir. Kita terbius hingga lupa tentang proses dan kerja keras gapai sukses.

Memang untuk bisa terkenal melalui media massa punya banyak cara. Ada kerja keras dan ada juga keberuntungan. Buat saya keberuntungan itu adanya hanya buat yang berusaha. Jadi ya usaha saja dulu. Ini ada saran untuk yang minat buka usaha. Peluang usaha untuk buka tambang di areal hutan lindung.

Modalnya cukup kedekatan dengan penguasa. Soal peraturan dan perijinan bisa diatur. Dengan modal perusahaan kita bisa dapat ijin membuka tambang di hutan lindung dengan tariff super duper murah. Hanya Rp 1,2 – Rp 3 juta per / ha / tahun. Enaknya lagi usaha ini tidak punya aturan khusus mengenai tata cara pengelolaannya. Jadi enak-enak kita saja.

Belajar dari masa lalu. Segelintir orang yang punya ijin pengelolaan puluhan juta hektar asli Indonesia. Bentuknya macam-macam konsesi.   Seperti; Hak pengusahaan hutan, hutan tanaman industry atau eksploitasi tambang di hutan lindung. Eksploitasi cara begini sudah ada sejak 1970-an. Bahkan kita tidak perlu peduli dengan kesejahteraan masyarakat lokal. Sebab masalah  itu urusan nanti. “Kalau ada yang minat kelola usaha bidang begitu. Punya modal awal untuk upeti. Tinggal ‘PING’ saja.” Ujar teman saya berpromosi. Teman saya ini mengaku punya orang dalam di surga.


Bayu Sahaja

Share ke teman anda

 

 

 

 

 

 

 

Komentar terbaru

  • WAW!!! ....... Terimakasih kunjungannya Om Agolo!...
    By Bayu Sahaja
  • "Namun kesadaran masing-masing individu untuk sela...
    By agolo
  • Siap Ketua. Kalau sudah pakai ilustrasi lagu begi...
    By Bayu Sahaja