Kendati secara turun temurun kita didarah dagingkan dengan semangat gotong royong. Bahkan gotong royong sudah menjadi budaya dalam keseharian bangsa kita yang terkenal ramah ini. Namun ketika semangat kerjasama diwujudkan. Kerap muncul masalah.
Pikiran saya yang sederhana melihat kenyataan. Bagaimana kita unggul dalam ajang bulu tangkis. Minimal prestasi perseorangan terbukti bisa melesat. Sementara dalam sepak bola, yang dalam permainannya menuntut kerjasama, kita cuma dapat prestasi lumayan. Untuk tidak mengatakan tidak maju-maju.
Pagi saat ngopi bareng teman yang mengaku pencinta bola, saya berseloroh, “Sehebat-hebatnya Mancester United, belum pernah club papan atas itu menang lawan PSSI”. Kontan teman saya melotot dan dengan cangkir kopi yang masih di tangan belum sempat diminum dia bilang, “yah jelas dong. Bagaimana PSSI bisa kalah kalau belum pernah bertanding”. Kawan saya ini memang cerdas.
Pembaca tidak perlu ragu soal itu. Berawal dari seloroh itu kami ngobrol tentang bagaimana bekerja secara team. Menurut analisanya yang tajam dan terpecaya, pemain sepak bola kita secara individual kemampuannya luar biasa. Namun ketika harus bekerjasama dalam satu team, barulah masalah timbul. Ditambah lagi adanya bumbu penyedap dari supporter dan pengurus persepakbolaan, lengkaplah sudah penderitaan para penikmat dan pengharap berprestasinya PSSI.
Kemampuan individual mantap, tapi kenapa ketika bekerja secara team malah jadi melempem? Susah-susah gampang menjawabnya. Menurut teman saya yang hobby bola tadi, jika didalam team ada satu orang yang paling sibuk, ada satu orang yang paling hebat, pintar, gesit dan segala kelebihan lain yang berlebih. Maka dipastikan team itu menuju kekehancuran.
Dia juga menambahkan. Kalau team yang baik itu dinamis ada perselisihan ada beda pendapat namun demi tujuan yang baik baik dan baik. Lantaran saya gak pintar. Lama sekali saya mencerna makna yang terkandung dari ucapan teman saya itu. Hingga akhirnya menjelang tidur malam hari saya mampu memetik makna kata teman saya itu, bahwa di dalam team tidak ada satu orangpun yang melebihi pintarnya hasil pikiran team.
Saya sendiri adalah orang yang selalu ingin bekerjasama. Teman saya yang sukses jual empek-empek mencibir ketika saya utarakan semangat itu, “jelas aja lo perlu orang lain. Soalnya kita semua tau lo kan gak bisa apa-apa”. Pembaca gak usah marah. Saya maklum banget dengan teman saya ini. Dulunya dia memang sukses banget soal urusan jualan empek-empek. Minim pesaing membuatnya berpeluang terkenal seantero Batam. Namun kini semakin jadi sepi dan redup tempatnya. Teman saya ini tetap semangat dengan harapannya, “pelanggan lamanya pasti akan kembali.” Begitu selalu dikatakannya.
Sejujurnya saya kerap berdoa agar harapannya bisa terwujud. Walau saya tau di balik rasa makanannya yang memang luar biasa, tempat dia berjualan itu sulit dijangkau dan menjadi semakin kumuh. Tawaran kerjasama untuk buka usaha di tempat lain dulu kerap datang, namun mentah-mentah ditolak teman saya ini. Semoga semangatnya tidak redup oleh pesaing yang makin bersinar.
Banyak orang tidak siap saat menghadapi tawaran kerjasama. Takut ini dan itu yang kebanyakan tidak masuk akal dan mengada-ada. Sejatinya, kerjasama itu halal. Kerjasama memungkinkan sebuah gagasan bisa diwujudkan dengan lebih baik. Bukankah untuk bisa eksis dimasa kini mengharuskan kita untuk melakukan hal yang biasa dengan cara yang luar biasa. Bayangkan, ketika semua kelebihan berkumpul jadi satu dan masing-masing punya kemampuan menekan ego demi mencapai tujuan. Pastilah tujuan itu mudah dicapai. Mulai yuk…
Bayu Sahaja






Comments
Setuju pak..untuk menggapai sebuah tujuan ..kita harus dapat bekerja secara tim tidak hanya mementingkan ego semata..
Sekali lagi saya suka sama karya tulis nya ..di tunggu yang lainnya..
ALL D BEST BAYU.....TERUS BERKARYA!
salut pak dengan artikelnya, saya suka membaca dan melihat2, KataFoto Bisa memberi inspirasi dan mOtivasi, melui sharing dan fOtO....sekali lagi selamat berkarya pak!!! prOviciat!
Lanjutkan pak...
RSS feed for comments to this post